REVIEW: WISH UPON (2017) | Movie Xplorers

[ad_1]

“I Wish….”- Clare Shannon

Pernah mengucapkan keinginan? Siapapun pasti pernah mengucapkan wish atau keinginan. Entah itu berharap hidup lebih baik, bisa cepat punya pasangan hidup, pekerjaan atau yang lainnya. Terkadang ketika keinginan kita mulai terkabul, nafsu dan rasa egois mulai menguasai kita untuk terus berharap semuanya semakin baik tanpa berpikir ada konsekuensi dari setiap yang kita inginkan itu terwujud.

Premis itulah yang menjadi inti dari “Wish Upon” yang merupakan karya penyutradaraan kedua dari John R.Leonetti (Annabelle). Naskah film ini sebenarnya masuk dalam “The Black List” pada 2015 yang kemudian ditulis oleh Barbara Marshall. “Wish Upon” menghadirkan Joey King, Ki Hong Lee, Sydney Park,Shannon Purser,Mitchell Slaggert,Elisabeth Rohm, Josephine Langford,Alexander Nunez,Daniela Barbosa.Sherilyn Fenn, Alice Lee,Victor Sutton.

Hidup Clare Shannon bisa dibilang sangat penuh dengan rasa malu dan trauma. Semua dimulai ketika ibunya, Johanna bunuh diri di hadapannya semasa kecil. Ketika beranjak remaja, Clare menjadi bahan bully dari Darcie Chapman bersama teman prianya yang sangat tergila-gila dengan selfie, Tyler Manguso juga Lola Sanchez. Belum lagi pekerjaan ayahnya sebagai pengumpul barang bekas makin membuat Clare merasa malu meski Ia memiliki sahabat seperti Meredith McNail dan June Acosta. Semua kemalangan tersebut berubah ketika Clare mendapat sebuah kotak musik antik dengan literatur cina yang bisa mengabulkan tujuh permintaan pemiliknya. Tanpa disadari oleh Clare, permintaan demi permintaan yang Ia buat ternyata harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Orang-orang didekatnya terancam. Namun Clare tidak mau berpisah dari kehidupannya yang sudah membaik.

Akankah Clare membuang kotak musik tersebut ?

Apa yang sebenarnya terjadi ketika permintaan demi permintaan Clare dikabulkan oleh kotak musik tersebut?

REVIEW:

Film horror bertema remaja sudah lumayan banyak dirilis,jika boleh kilas balik pada era 90an dimana “Scream” dan “I Know What You Did Last Summer” menjadi raja saat itu dikalangan penonton remaja. “Wish Upon” sendiri mencoba untuk kembali membawa nuansa tersebut terlihat dari dialog-dialognya. Awal film yang menjadi prolog  mengajak penonton untuk melihat Clare dan rutinitas serta hujatan yang dialaminya. Barbara Marshall sebagai penulis memberikan sebuah cerita yang menegangkan dan penuh suspense. Yang perlu diketahui adalah, Wish Upon kurang lebih terinspirasi dari cerita horror dari W.W. Jacobs pada tahun 1902 berjudul “The Monkey’s Paw” dimana artifak kuno peninggalan suku Indian berbentuk kuku monyet yang dapat mengabulkan tiga permintaan pemiliknya dengan konsekuensi yang tidak disangka. Bedanya, kuku monyet dalam cerita tersebut digantikan oleh sebuah kotak musik antik bercorak dan bermotif Chinese dalam “Wish Upon”. Dalam eksekusi menuju tiap kematian karakaternya, “Wish Upon” bisa dibilang mengadaptasi formula yang digunakan dalam “Final Destination” Franchise. Yah,meski begitu, rating PG-13 yang disematkan ke film ini (sedangkan di Indonesia ratingnya Dewasa,red.) cukup merusak kenyamanan bagi penonton yang mengharapkan film ini akan menyajikan kematian yang sadis seperti halnya Final Destination. Beberapa ” death in process” nya sendiri terlihat seperti sebuah kesengajaan dari si karakter yang terlihat konyol.

Bahkan ada sedikit formula “The Butterfly Effect” yang dimasukkan ke dalam “Wish Upon” dengan maksud memberi isyarat kepada penonton semua akan baik-baik saja. Namun,seperti yang sudah disebutkan di atas, ending film ini yah, sudah bisa penonton tebak. Joey King yang berperan sebagai Clare Shannon berhasil menggambarkan sosok remaja yang ingin terlihat hidup baik-baik saja . Kepolosannya dalam mengucapkan permintaan sesuai dengan perangai wanita di zaman sekarang yang mungkin masih percaya akan ramalan bintang dan sebagainya. Ki Hong Lee yang berperan sebagai Ryan Hui, teman masa kecil Clare sendiri terlihat sebagai seorang penterjemah meskipun Ia menunjukkan potensinya sebagai love-interest dari Clare. Namun yang mencuri perhatian adalah Sydney Park sebagai Meredith McNeil. Park yang juga terlibat dalam TV Series “The Walking Dead” Season 7 sebagai Cyndie ini berhasil memperlihatkan chemistry dengan King dan juga Purser sebagai trio sahabat yang selalu bersama. Bahkan Park juga menunjukkan gelagat seorang gamer dengan keaddictannya terhadap game ponsel. Sayangnya, Ryan Phillipe seperti tersia-sia potensinya. Entah mungkin make-up yang kurang meyakinkannya sebagai seorang ayah, Phillippe masih terlihat bak anak muda zaman sekarang. Deretan musiknya sendiri berirama ala remaja (yes, it’s a teen horror flick,right?) mulai dari “All W e Ever Wanted” yang dibawakan Hey Violet sampai suara kotak musik terkutuk tersebut yang digarap tomandandy yang cukup membuat bulu bergidik mendengarnya.

Meski banyak kekurangan disana-sini, “Wish Upon” masih menyajikan sebuah ketegangan yang cukup untuk menaikkan tensi penonton. Jangan tinggalkan bangku karena “after credit scene” di akhir film akan memberi tanda akan adanya potensi dari Wish Upon untuk menjadi franchise. Jika kalian berharap tontonan yang bisa membawa aura 90an teen horror flick, tontonlah Wish Upon.

3,5/5

[ad_2]

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *