REVIEW: THE GREATEST SHOWMAN (2017): Spectacularly Amaze With Feel Of Human Equal and Differences of Social Class!

[ad_1]

“The world was ashamed of us, but you put us in the spotlight. You gave us a real family.”- Lettie Lutz (to P..T.Barnum)

Sebuah pertunjukan tidaklah menghibur apabila hanya menyajikan hal-hal biasa. Penonton selalu menginginkan hal-hal luar biasa. Sirkus adalah satu dari sekian banyak objek dari dunia hiburan yang “langka”. Mengapa? karena sirkus selalu menyajikan para penampil yang luar biasa, aneh dan unik. Tanpa terkecuali, orang-orang yang menganggap diri mereka tidak memiliki kemampuan apapun. Dari sini, kita sudah bisa melihat ke dalam hati mereka bahwa orang-orang seperti itu perlu sebuah unsur yakni cinta selain menghibur para penonton dengan atraksi-atraksi mereka yang mengagumkan serta memancing tepuk tangan penonton.

Salah satu industri sirkus yang cukup terkenal adalah  Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus yang didirikan oleh P.T.Barnum bersama rekannya, James Bailey ketika Barnum sudah berusia 61 tahun. Setelah 146 tahun melakukan pertunjukan kelilingnya, sirkus ini resmi ditutup karena biaya operasional; yang tinggi ditambah penolakan dari penjualan tiket yang menyebabkan bisnis tersebut tidak seimbang lagi. Barnum merupakan orang yang menjadi pengubah para kaum sosialita mengenai nilai dari pop culture dan hiburan publik di Amerika. Kisah dari Barnum akhirnya kembali diangkat ke layar lebar dalam “The Greatest Showman” yang menghadirkan Hugh Jackman, Michelle Williams, Zac Efron, Zendaya, Rebecca Ferguson, Keala Settle,Yahya Abdul-Mateen II,Austyn Johnson,Cameron Seely,Daniel Everidge,Sam Humphrey,Shannon Holtzapffel,Paul Sparks, Gayle Rankin,Will Swenson, Ellis Rubin,Skylar Dunn dengan lagu-lagu original yang digubah oleh Benj Pasek-Justin Paul yang berhasil memenangkan Academy Awards lewat film “La La Land” (2016). Michael Gracey menjalani debutnya sebagai sutradara setelah hanya bekerja menyutradarai iklan saja dan juga mengurus visual effect. “The Greatest Showman” sudah masuk dalam tiga kategori Golden Globe Awards yakni ” Best Picture- Musical or Comedy”, “Best Actor-Musical or Comedy” dan “Best Original Song”

Terlahir dari keluarga sederhana, Barnum kecil bersama sang ayah, Philo yang berprofesi sebagai penjahit menemukan sosok cinta pertamanya dalam diri Charity Hallett. Beberapa tahun kemudian, mereka menikah dan dikaruniai dua anak perempuan, Helen dan Caroline Barnum. Namun keluarga Barnum mengalami kesulitan dalam finansial. Barnum memiliki ide gila untuk mengadakan sebuah atraksi untuk menarik penduduk kota New York. Dimulai dari “Barnum’s Museum of Curiosity” yang akhirnya menjadi “Barnum’s Circus” yang dalam sekejap menjadi perbincangan. Namun dimana kesuksesan melanda, hambatan selalu ada. Para penduduk yang tidak menyukai sirkus Barnum memprotes. Ditambah berubahnya kepribadian Barnum setelah menemukan bakat baru dalam penyanyi Swedia, Jenny Lind yang tanpa Ia duga membawanya kedalam sebuah konflik yang mempengaruhi para anggota sirkus sampai keluarganya bahkan akhirnya membuat dirinya jatuh dalam kepahitan yang tidak pernah Ia sangka  setelah semua yang dilakukannya.

REVIEW:

“The Greatest Showman” disiapkan selama tujuh tahun oleh Hugh Jackman bersama sutradara Michael Gracey. Gracey benar-benar menjadikan debutnya sebagai sutradara dengan spektakuler. “The Greatest Showman” merupakan sebuah kisah hidup seorang visioner yang jatuh-bangun sampai akhirnya menyadari bahwa ketenaran bukan segalanya dan tidak perlu semua orang untuk menyukainya. Konflik dalam “The Greatest Showman” benar-benar sensitif. Mengapa sensitif ? karena Jenny Bicks yang menulis skripnya memasukkan isu dimana perbedaan keragaman serta kelas sosial menjadi sebuah isu yang cukup dominan dalam film musikal ini. Konflik dari perbedaan kasta tersebut dihadirkan lewat karakter Phillip Carlyle (Zac Efron) dan Anne Wheeler ( Zendaya) yang sepanjang film mencuri perhatian penonton lewat adegan dan chemistry mereka sebagai pasangan. Zendaya bahkan unjuk kebolehannya bernyanyi dalam lagu “Rewrite The Stars” bersama Efron sambil melakukan adegan trapezee yang dilakukannya makin menambah keromantisan dua orang ini. Sementara Efron masih memancarkan kharismanya sebagai alumni aktor Disney dalam bernyanyi. Sungguh menghapus kerinduan para fans yang melihat Efron bernyanyi ketika itu dalam “High School Musical” Trilogy. Hugh Jackman sebagai P.T.Barnum berakting dengan sepenuh jiwa dan hati. Bahkan dalam rehearsal lagu “From Now On”, Ia nekad mengabaikan nasehat dokter. Hasilnya? Luar biasa. Jackman memberikan energy positif lewat kegigihan Barnum dan memainkan emosi penonton lewat scene-scene yang inspiratif. Bahkan ketika konflik itu akhirnya tiba, Jackman mantap meluapkan seluruh emosinya ke dalam lagu “From Now On” tersebut. Penyanyi Keala Settle yang memerankan Lettie Lutz sendiri cukup menghibur bahkan dengan penampilannya yang “aneh”, seperti mewakili orang-orang yang dipinggirkan karena penampilannya yang tidak lazim padahal mereka memiliki sebuah bakat terpendam. Michelle Wiliams sebagai Charity Barnum tampil dengan baik memadu chemistry bersama Jackman. Sementara Rebecca Ferguson sebagai Jenny Lind cukup memprovokasi penonton dengan aktingnya yang tidak diduga sebagai Jenny Lind. Sebagai antagonis lainnya, Paul Sparks yang memerankan sosok pendiri,editor sekaligus penerbit New York Herald yang mengulas tiap pertunjukan cukup menggambarkan betapa kejamnya industri hiburan pada tahun-tahun lampau.

Untuk adegan musikalnya sendiri, sangat spektakuler dan memukau terutama dengan choreography yang dibuat oleh Ashley Wallen didukung costume yang dibuat oleh Ellen Mirojnick semakin menambak semarak setiap adegan dancenya yang mengagumkan. Namun, dibalik kemegahan tersebut, “The Greateast Showman” masih memiliki kekurangan dimana CGI dalam beberapa scene terlihat kasar dan pengembangan karakter seperti hanya tertuju kepada sosok Phillip Carlyle dan Anne Wheeler. Tidak hanya itu, casting sosok Jenny Lind yang didapatkan Rebecca Ferguson seperti sia-sia saja karena suara yang keluar ketika scene bernyanyinya adalah suara Loren Allred tetapi penjiwaan Ferguson masih dapat menyelamatkan dirinya. Untuk lagu-lagunya sendiri, bersiaplah setidaknya untuk terus terngiang-ngiang dengan deretan original song yang sangat menyatu dengan tiap scene dari “The Greatst Showman” mulai dari “The Greatest Show”, “A Million Dream”, “Come Alive”, “The Other Side”,”Tightrope”,” Rewrite the Stars” yang sangat romantis, “From Now On” yang mengebu-gebu menyerukan semangat untuk bangkit dari keterpurukan dan tentu single “This Is Me” yang dinyanyikan Keala Settle merangkum keseluruhan dari “The Greatest Showman”. Siapapun yang mendengarkan lagu ini pasti akan meneteskan air matanya. Lagu ini sangat powerful ketika dimunculkan dalam scene yang dijamin akan membuat siapapun meluapkan emosinya lewat air mata. Menghibur publik terkadang bisa dilakukan dengan berbagai cara,tetapi bukan denga maksud mencari ketenaran yang membutakan kita. Perhatikan orang-orang disekitar kita yang membutuhkan cinta karena mereka butuh dicintai seperti para anggota sirkus Barnum. “The Greatest Showman” merayakan bagaimana keanekaragaman dan uniknya tiap individu menyatukan mereka dengan cinta sampai membuat mereka tidak pernah lagi bersembunyi lagi. Sebuah pesan yang harus disaksikan oleh seluruh dunia.

“The Greatest Showman” direkomendasikan harus dilihat dalam format Dolby Atmos.

4,5/5

[ad_2]

Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *