REVIEW: TERMINATOR: DARK FATE (2019): Bigger,Badder yet A Legacy Baton Passing that Concluding Sarah Connor’s Story, Nostalgic and Becoming a Bridge as a New Chapter of This Franchise!

[ad_1]

“No. You may have changed the future, but you didn’t change our fate.”- Grace

Manusia dan mesin. Dizaman yang sudah serba mengandalkan teknologi ini, pekerjaan berat manusia terutama jika kita bicara soal pabrik, sudah mulai digantikan oleh robot-robot, tentu tidak secara keseluruhan melainkan dalam bentuk tangan atau sistem otomatis yang bekerja sendiri melakukan pekerjaan tersebut. Jika kita perhatikan, mesin mulai sedikit demi sedikit menggantikan kita. Teknologi semakin berkembang dari waktu ke waktu dan tentu yang lama akan digantikan. Namun, siapkah kita menerima kenyataan tersebut?

Terminator franchise resmi merayakan 35 tahunnya yang dimulai dari The Terminator (1984). Film ini secara langsung menciptakan fanbase terutama menaikkan nama Arnold Schwarzenegger sebagai T-800 yang ikonik. Sayangnya, setelah sekuel kedua yang bertajuk Terminator 2: Judgment Day (1991), tiga film lainnya, T3: Rise of The Machines (2003), Terminator Salvation (2009) dan terakhir yang kembali menghadirkan Arnold, Terminator Genisys (2015) gagal total menyamai kesuksesan dua film sebelumnya. 20th Century Fox, Skydance dan Paramount bersama Tencent Pictures dan TSG Entertainment memutuskan merilis sekuel dari T2: Judgment Day yang berjudul “Terminator: Dark Fate” yang kembali menghadirkan Linda Hamilton sebagai Sarah Connor dan Arnold Schwarzenegger (lagi) sebagai T-800 yang ikonik. Disutradarai oleh Tim Miller (Deadpool), Terminator: Dark Fate turut menghadirkan nama-nama baru seperti Mackenzie Davis, Gabriel Luna, Diego Boneta, Natalia Reyes,Stephanie Gil, Alicia Borrachero, Enrique Arce. Film ini akan dirilis di Indonesia dua hari sebelum Amerika yakni 30 Oktober sementara Amerika akan merilisnya pada 1 November 2019. Naskahnya ditulis oleh David S. Goyer,Justin Rhodes, dan Billy Ray

Bersetting 27 Tahun setelah Sarah Connor menghentikan “Judgment Day”, Daniella Ramos adalah seorang gadis yang tinggal bersama Papi dan adiknya, Diego Reyes di Mexico City. Ketika tengah menjalani aktivitas di pabrik tempatnya bekerja, sesosok Terminator type REV-9 datang dari tahun 2042 dengan misi untuk membunuhnya. Dani yang panik tiba-tiba diselamatkan oleh Grace, yang merupakan manusia yang diperkuat dengan teknologi khusus melawan Terminator. Mengetahui lawannya kali ini lebih mematikan dan berbahaya dari jenis yang pernah dihadapinya, Grace dan Dani berpapasan dengan Sarah Connor yang sudah memburu Terminator sejak lama. Pertemuan ketiganya membawa mereka kepada Terminator model 801 bernama Carl, yang ternyata memiliki kaitan dengan masa lalu Sarah. Mau tidak mau, ketiganya harus membuat aliansi demi menghentikan REV-9.

Apa kaitan antara Sarah Connor dengan Carl?

Berhasilkah mereka menghentikan REV-9?

Siapa yang kali ini menjadi lawan Sarah Connor?

REVIEW:

Pasca tiga film Terminator yang sudah dinyatakan sebagai “Alternate Timeline” tersebut, Jujur, Saya sudah mulai merasa bosan dengan franchise ini. Bagaimana tidak, tidak dilibatkannya James Cameron seperti membuat franchise yang dibuatnya kehilangan arah. Namun harapan itu masih menyala lewat Terminator: Dark Fate. Tim Miller menyajikan film Terminator yang layak fansnya dapatkan. Sayangnya, jika di Amerika, film ini diberi rating R, di Indonesia hanya diberi rating 13 tahun keatas oleh LSF. Kembali ke pembahasan, Miller menyajikan nostalgia dengan mash-up antara The Terminator dan Terminator 2: Judgment Day dengan epik dan mampu membuat penonton bersimpati dengan karakternya. Jujur saja, meskipun dilabeli sebagai sekuel dari Terminator: Judgment Day, Ini adalah sebuah sekuel yang menjadi konklusi dari Sarah Connor’s arc sekaligus menyerahkan tongkat estafet yang membuka jalan baru dalam franchise ini.

Ide cerita yang digagas Cameron, yang kali ini terlibat sebagai produser karena ditengah prosesnya Ia sedang disibukkan dengan sekuel Avatar bersama dengan Charles Eglee, Josh Friedman, David S. Goyer dan Justin Rhodes ini berhasil menjanjikan sebuah adegan aksi yang dijamin akan membuat fans Terminator berkata ” Ini yang kami inginkan” mulai dari bak hantam sesama mesin,ledakan, kejar-mengejar sampai adegan menembak jarak dekat. Demi menciptakan cerita yang baik, Miller sampai berkonsultasi dengan para novelist seperti Joe Abercrombie, Neal Asher, Greg Bear, Warren Ellis, dan Neal Stephenson. Hasilnya, Penonton akan dibuat bersimpati pada Sarah Connor , yang tampil badass ,diperankan oleh Linda Hamilton. Usianya memang sudah masuk 62 tahun namun siapa yang menyangka Linda tampil makin tangguh dengan rambut peraknya yang membuatnya terlihat semakin berumur itu? Belum lagi ketika Sarah mulai berinteraksi dengan Grace, disitulah penonton mulai merasakan bahwa sosok Sarah Connor menunjukkan “Motherhood”nya yang membuat hangat penonton. Tidak hanya itu, mendengar ucapan F-word dari mulutnya seakan membuktikan bahwa karakter Sarah Connor ini memang sudah “pengalaman” dengan Terminator. Dramanya sendiri lebih menitikberatkan antara merasakan kehilangan, bangkit dan menemukan panggilan atau tujuan kita. Dan itu ada dalam development character dari Dani Ramos (Natalia Reyes). Reyes membawa emosi penonton dari yang hanya seorang gadis biasa sampai akhirnya mengetahui apa tujuan atau takdirnya tersebut.

Gabriel Luna. Pemeran “Ghost Rider” dalam TV Series AGENTS OF S.H.I.E.L.D ini terbukti mampu menjadi sosok yang mematikan sebagai Rev-9 yang bisa saya bilang adalah kombinasi T-X dan T-1000nya Robert Patrick dari Terminator 2: Judgment Day. VFXnya sendiri menambah keseruan tiap adegan nya dan ya, adegan dimana Sarah dengan tenang menembak sang Terminator dengan tenang dan berkacamata hitam adalah adegan yang akan diingat setelah baku tembak yang menegangkan dalam “John Wick: Chapter 3-Parabellum”.

Kehadiran Arnold Schwarzenegger dirasa masih memberi hiburan atau fan-service tersendiri bagi para fans Terminator. Dry-jokesnya masih mampu membuat penonton tertawa dan ya, penonton sudah tahu kalau Schwarzenegger adalah T-800 yang ikonik. Saya menghighlight sosok Grace (Mackenzie Davis. Ia memang bukan sepenuhnya Terminator dan dari karakter ini, terpancar aura seorang Schwarzenegger yang nostalgia ketika dia mengucapkan line yang hampir sama dengan yang diucapkan olehnya. Endingnya dirasa sudah cukup untuk menjadi konklusi dari Sarah Connor sekaligus menyerahkan tongkat estafet dan saya menantikan apa yag akan dilakukan Cameron dalam sekuelnya kelak dengan A.I. yang menjadi antagonisnya, Legion. Scoring dari Junkie XL berhasil membuat tiap adegan actionnya berjalan penuh ritme,tiap pukulan, hantaman dan dentuman berjalan seru ditambah sedikit remix dari Main Theme “The Terminator” yang ikonik tersebut.

Menjadi sekuel yang layak didapatkan fans dengan mengembalikan adegan aksi yang merupakan ikon dari franchisenya, Terminator: Dark Fate” adalah sebuah penutup dari chapter Sarah Connor sekaligus jembatan menuju cerita baru yang layak dinantikan. Welcome back,Terminator!

4 dari 5

[ad_2]

Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *