REVIEW: SUSI SUSANTI: LOVE ALL (2019); More Than Just an Ordinary Biopic of One Indonesia’s Famous Badminton Legend that Emotional and Heartfelt!

[ad_1]

“Lawan terbesar kita, ya kita sendiri”- Rudy Hartono, Pelatih Susi Susanti ketika menjalani Trial di PB JAYA RAYA

Seorang atlet memiliki sebuah tanggung jawab yang besar dengan nama negara di seragam yang mereka kenakan. Mereka menjadi perwakilan semangat dari kita namun disisi lain, mereka juga adalah warga negara. Sebuah pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita adalah “Apakah setelah mereka mengharumkan nama bangsa, mereka akan terus dianggap tinggi sebagai seorang atlet ?”

Generasi 80-90an tentu mengenal nama-nama berikut: Rudi Hartono, Liem Swie King sampai Susy Susanti (selalu disebut dengan Susi Susanti). Nama terakhir adalah tonggak prestasi pebulutangks di sektor tunggal putri selain Ivana Lie dan Minarti Timur yang juga adalah legenda dari bulutangkis Indonesia. Susy, yang terlahir dengan nama Lucia Francisca Susy Susanti ini adalah pebulutangkis wanita Indonesia pertama yang berhaisl meraih medali Emas dalam ajang Olimpiade Barcelona 1992 sebelum akhirnya disamai oleh penerusnya yang juga sudah gantung raket, Liliyana Natsir pada Olimpiade Rio,2016. Kisah dari Susy Susanti akhirnya diangkat ke layar lebar oleh TIME Intternational Films bekerjasama dengan DAMN I LOVE INDONESIAN MOVIES dengan asosiasi bersama Oreima Pictures dan East Synergy,Melon by Telkom Indonesia dan Buddy Buddy Pictures merealisasikannya dalam “Susi Susanti: Love All” yang menjadi debut penyutradaraan dari Sim F dan menghadirkan Laura Basuki, Dion Wiyoko, Delon Thamrin, Farhan, Iszur Muchtar, Dayu Wijanto, Jenny Zhang, Chew Kin Wah, Kelly Tandiono, Rafael Tan dan pendatang baru Moira Tabina Zayn sebagai sosok Susi Susanti remaja.

1983, dunia Badminton tengah dikuasai oleh China dan Indonesia saat itu dalam keadaan yang penuh krisis. Di Tasikmalaya, seorang gadis bernama Susi Susanti tidak mengetahui akan panggilan hidupnya sebagai seorang atlet bulutangkis ketika Ia diajak bergabung untuk Trial di PB JAYA RAYA untuk kemudian mengukir namanya menjadi salah satu legenda Bulutangkis Indonesia. Lika-liku perjuangannya bersama orang-orang yang berada dibalik perjuangannya mulai dari duo pelatih, Tong Sin Fu dan Liang Chiu Sia, Jendral Try Sutrisno yang kala itu berjuang demi supremasi bangkitnya Bulutangkis Indonesia, Sarwendah Kusumawardhani dan Hermawan Susanto, teman seperjuangannya termasuk Ardi B.Wiranata sampai Alan Budikusuma, yang menjadi pasangan hidupnya. Namun, ada hal lain yang harus dihadapi oleh Susi setelah merengkuh semua kesuksesan tersebut. Apakah itu?

REVIEW:

Debut penyutradaraan Sim F ini dapat dibilang salah satu film biopik bertema Olaharga terbaik yang pernah saya saksikan. Cerita yang digarap oleh Syalika Bralin bersama dengan Raditya,Raymond Lee, Daud Sumblang dan Sinar Ayu Masie ini menyajikan sebuah perspektif lain dari kehidupan seorang Susy Susanti yang mengaduk-aduk perasaan namun tetap “hangat”. Daniel Mananta, yang menjalani debut sebagai produser dan Executive Producer lewat banner DAMN! I LOVE INDONESIAN MOVIES ini turut melibatkan Frédéric Thoraval., editor dari film TAKEN (208), Sinister (2012) dan Peppermint (2018) sebagai Supervisor Editing untuk film ini yang diedit Robby Barus,Arifin Cuunk,Shiran Amir dan Cody Miller.

Laura Basuki dan Moira Tabina Zayn, keduanya sukses memerankan sosok Susy Susanti dewasa dan remaja. Kredit untuk Laura dalam memainkan espresi wajahnya terlebih ketika adegan pertandingan Badminton. Ia juga menjalin chemistry menggemaskan dengan Dion Wiyoko, yang memerankan Alan Budikusuma. Kelly Tandiono yang memerankan Sarwendah Kusumawardhani layak diberi apresiasi begitupula Iszur Muchtar yang memerankan (alm) Risad Haditono, ayah Susi yang sukses membuat saya tertawa dan menangis dengan caranya menjalin komunikasi dengan Susy yang hangat sekali.

Isu tentang rasisme memang tidak begitu kuat ditonjolkan namun bagi saya yang merupakan orang Indonesia keturunan Chinese, emosi saya bergejolak saat harus melihat moment kelam dalam sejarah Indonesia tahun 1998. Sebuah renungan yang patut direnungkan tidak hanya bagi para atlet tetapi juga kita sebagai WNI. Ditambah moment-moment ikonik dari pertandingan Badmintonnya juga membuat saya hampir menangis saat “Indonesia Raya” dan “Tanah Airku” dikumandangkan dalam film yang jujur saja membangkitkan jiwa nasionalis siapapun yang menyaksikan moment itu.

Didukung pula oleh color grading yang ciamik meski agak menganggu di eberapa scene sampai terlihat menyerupai sebuah filter Instagram, Score dari Bemby Gusti dan Aghi Narottama menambah emosi dalam tiap scenenya dan itu yang membuat Susi Susanti: Love All layak menjadi sebuha film yang harus disaksikan sekaligus mengetahui sejarah Badminton di Indonesia seperti apa.

4,5 dari 5

[ad_2]

Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *