REVIEW: JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE (2017): Improvise Itself Become A Surprise Yet Respected The Original One!

[ad_1]

“It’s easy to do when you have spare life. But it is much harder if you have only one life”- Anthony “Fridge” Johnson/Franklin “Moose” Finbar

Ketika kalian bermain game, apa yang ada dalam imajinasi kalian? Kalian seolah “melarikan diri” dari realita. Game adalah salah satu alternatif yang selalu ampuh untuk membuat kita melupakan sejenak real-life dan kesibukan serta masalah kita. Namun kita tidak pernah berpikir apa sebenarnya yang kita ingin lakukan? Hidup cuma sekali dan kebanyakan dari kita mensia-siakannya,bukan? Dibanding bermain game, tentu ada tujuan kita hidup di dunia. Toh, kita kedepannya akan memiliki keluarga sendiri,bukan?

Siapa yang tidak lupa dengan “Jumanji” (1995)? Film yang diadaptasi dari buku karangan Chris Van Allsburg ini merupakan salah satu film yang meninggalkan kesan bagi para penonton yang mengidolakan alm. Robin Williams. Film ini menjadi pionir pula untuk “Zathura” yang plotnya mirip dengan Jumanji. Di tahun 2017, Columbia Pictures merilis sekuel dari Jumanji dengan judul “Jumanji: Welcome to The Jungle”. Bisa dibilang sekuel ini berdiri sendiri dengan mengambil plot dari film pertamanya. Disutradarai oleh Jake Kasdan, “Jumanji: Welcome to The Jungle” menghadirkan Dwayne Johnson, Kevin Hart, Jack Black, Karen Gillan,Bobby Cannavale, Nick Jonas,Alex Wolff,Madison Iseman, Ser’Darius Blain,Morgan Turner,Marc Evan Johnson,Mason Gussione,Colin Hanks,Sean Buxton, Tim Matheson,Sylvia Jefferies,Virgina Newcomb,Maribeth Monroe dan Missi Pyle.

1996,Board game Jumanji kembali ditemukan. Kali ini ayah dari seorang remaja bernama Alex Vreeke yang menemukannya ketika tengah berjogging di pantai. Malamnya, Alex “menghilang” secara misterius. Beberapa tahun setelahnya, empat remaja dari Brentford High School yakni Spencer Gilpin, Anthony “Fridge”Johnson, Martha Kaply dan Bethany Walker dihukum karena sikap dan kenakalan mereka seperti membantu teman mengerjakan makalah, bermain Handphone ditengah kuis sampai mengkritik guru. Keempatnya ditugaskan Principal Bentley untuk membersihkan basement yang akan digunakan sebagai ruang komputer nantinya. Ditengah pekerjaan, Fridge menemukan sebuah konsol dengan cartridge “Jumanji”. Spencer yang merupakan seorang gamer langsung menyalakannya dan mengajak Fridge,Martha dan Bethany bermain bersama. Setelah memilih karakter, mereka berempat terhisap masuk ke dalam permainan Jumanji dengan avatar masing-masing. Spencer menjadi Dr.Smolder Bravestone,seorang penjelajah sekaligus archaeologist, Fridge menjadi Franklin “Moose” Finbar, seorang weapon specialist dan zoologist,Martha menjadi Ruby Roundhouse,commando dengan kemampuan dance fighter dan Bethany menjadi Prof.Shelly “Sheldon” Oberon,seorang cartographer,cryptographer,archaeologist dan palaentologist. Mereka ternyata memiliki misi dalam “Jumanji” dan harus bersiap menghadapi petualangan berbahaya yang dapat mencelakai mereka masing-masing.

Apa misi yang harus diselesaikan oleh keempat remaja tersebut?

Apa yang mereka temukan didalam permainan “Jumanji”?

REVIEW:

Aneh rasanya ketika kabar mengenai remake Jumanji mencuat ke permukaan. Bagaimana tidak, khalayak langsung berujar bahwa remake tersebut tidak diperlukan dan hanya merusak film orisinilnya. Namun, Jake Kasdan tahu bahwa remake tidak selamanya akan menghibur sehingga bersama Chris McKenna,Erik Sommers,Scott Rosenberg dan Jeff Pinker didukung story dari McKenna, Ia membuat improvisasi yang justru membuat “Jumanji: Welcome to The Jungle” terasa asik untuk diikuti. Merasa board game sudah kuno, Kasdan merubahnya menjadi video game yang justru membuat para fans video game juga akan menyukainya. Update dari materi tersebut saja sudah membuat sebuah keseruan tersendiri. Kadar komedi dalam “Jumanji: Welcome to The Jungle” juga disokong para cast yang luar biasa seperti Kevin Hart, Dwayne Johnson, Jack Black dan juga Karen Gillan. Mereka berempat sanggup berakting layaknya para remaja yang terjebak didalam karakter tersebut. Tidak hanya itu saja, Chemistry antara keempatnya terasa sangat fun dan ketika tiba dibeberapa moment seperti adegan aksi, keempatnya menyuguhkan hiburan yang membuat tawa terus terdengar sampai pertengahan film. Jack Black sendiri cukup mencuri perhatian dalam film ini. Beberapa awkward momentnya benar-benar bagaikan bom waktu yang siap meledakkan tawa penonton. Tidak lengkap rasanya jika “Jumanji” tidak menghadirkan sosok  Van Pelt yang kita tahu dalam versi 1995nya adalah antagonis yang mengejar-ngejar Alan Parrish. Dalam versi 2017nya, sosok Van Pelt yang diperankan Bobby Cannavale terlihat seperti seorang “mastery of dark arts” terlihat dari make-upnya yang agak gothic dan lebih seperti seorang dukun voodoo. Sebuah penghormatan untuk alm.Robin Williams pun dihadirkan dalam “Jumanji: Welcome to The Jungle”. Konflik tentang rasa percaya pada kemampuan diri sendiri juga cukup ditonjolkan dalam diri keempat remaja tersebut bahkan konflik awal akibat perbedaan yang dialami berdasarkan ability atau kemampuan masing-masing dari avatar yang mereka pilih juga mampu memikat penonton. Score dari Henry Jackman juga terdengar baik apalagi bunyi drum “Jumanji” yang menjadi trademarknya. Lagu “Baby,I Love Your Way” yang berirama Reggae dipopulerkan group band Big Mountain pada tiap scene aksi dari Ruby Roundhouse juga sesuai dengan ritme tiap movement dari Ruby. Nick Jonas yang memerankan sosok Seaplane McDonough sayangnya terlihat seperti karakter pembantu saja.

Overall, “Jumanji: Welcome to The Jungle” adalah sebuah paket hiburan dengan improvisasi materi yang lawas dengan cast-cast yang menjalin chemistry luar biasa serta tawa dan adegan aksi menegangkan di sepanjang film yang akan membuat para pecinta video game juga akan menyukainya. Beradaptasi dengan generasi zaman sekarang yang belum mengenal atau melihat Jumanji bisa menjadi awal yang baik bagi Kasdan mengenalkan mereka  dengan menonton “Jumanji: Welcome to The Jungle”.

4,5/5

 

 

[ad_2]

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *