REVIEW: DETECTIVE CONAN: THE FIST OF BLUE SAPPHIRE (2019): Breathtaking yet Intriguing Conflict In Singapore!

[ad_1]

“Your fists may ended up put your loved one in danger”- Leon Lowe (to Makoto Kyogoku)

Memiliki kemampuan beladiri tentu menjadi sebuah nilai plus buat siapa saja karena mereka bisa membela diri mereka. Kemampuan mereka bahkan selalu bisa diandalkan ketika orang yang dekat dengan kita berada dalam ancaman. Namun bagaimana jika kemampuan tersebut bisa berdampak membahayakan mereka?

Setelah “Zero the Enforcer” yang merupakan movie ke 22 dari franchise Detective Conan berhasil mengukir prestasi sebagai film Detective Conan dengan pendapatan paling banyak sepanjang perilisan movienya, akhirnya di tahun 2019 dimana era Heisei juga berakhir, movie ke 23 Detective Conan dirilis dengan judul “Detective Conan: Fist of The Blue Sapphire” atau dalam kanji “名探偵コナン 紺青の拳フィスト Meitantei Konan: Konjō no Fisuto”. Movie ini telah dirilis di Jepang pada 12 April 2019 dan berhasil memuncaki puncak Box Office Jepang di minggu pertamanya mengalahkan Avengers: Endgame sebelum akhirnya terjadi perebutan puncak dimana minggu keempat, movie ini kembali naik ke puncak menggeser Avengers : Endgame.

Saat review ini ditulis, total pendapatan movie ini sudah mencapai lebih dari 82,5 juta dollar sekaligus movie dengan pendapatan terbesar kedua setelah Zero the Enforcer. Disutradarai oleh Chika Nagaoka dengan naskah yang ditulis oleh Takahiro Okura, masih menghadirkan para seiyuu dari serial animenya seperti Minami Takayama, Kappei Yamaguchi. Wakana Yamazaki, Rikiya Koyama, Naoko Matsui, Kenichi Ogata, Megumi Hayashibara, Wataru Takagi, Ikue Otani, Yukiko Iwai dan Nobuyuki Hirayama bersama para guest seiyuu seperti Ikusaburo Yamazaki, Mayuko Kawakita, Ryan Drees, Jeff Manning, Yu Asakawa, Hiroki Takahashi, Charles Glover, Yuki Kaji dan Kurt Common. penyiar acara Osamu Hayashi juga muncul sebagai cameo di movie ini.

Akhir abad 19, ada sebuah permata yang bernama Fist of The Blue Sapphire tenggelam di sekitar laut Singapura. Berlian yang ditemukan oleh Zhonhan Chen ini akan dipasang pada sabuk juara turnamen karate Zhonhan Cup. Sonoko Suzuki, Ran Mouri dan Kogoro Mouri merencanakan perjalanan ke Singapura terutama karena kekasih Sonoko, karateka dengan 400 kemenangan, Makoto Kyogoku akan turut berpartisipasi. Conan yang tidak bisa ikut tanpa diduga diculik dan tiba di Singapura bahkan Ia harus menggunakan nama alias baru: Arthur Hirai. Namun tanpa Conan sadari, ada sebuah konspirasi yang melibatkan pembunuhan serta menyeret nama Kaito Kid yang berniat mencuri berlian tersebut. Ditengah peristiwa tersebut muncullah Leon Lowe, seorang Psycho-Criminal sekaligus detective dari kepolisian Singapura, Rishi Ramanathan, mantan murid Leon yang menjadi polisi pembantu, Rachel Cheong, sekretaris Leon, Zhonhan Chen sang penemu berlian The Fist of Blue Sapphire dan Hezli Jamaluddin, bodyguard Leon sekaligus salah satu karateka terkuat Singapura.

Siapa dalang dari konspirasi tersebut?

Mengapa nama Kaito Kid ikut terseret?

Bagaimana Conan menyembunyikan identitasnya sebagai Arthur Hirai?

REVIEW:

Chika Nagaoka adalah sutradara wanita pertama yang mengarahkan movie dari Detective Conan dan Ia melakukan debut penyutradaraan movie Detective Conan ini dengan sangat memuaskan. Penonton yang kecewa dengan peran Kaito Kid di Movie 19: Sunflowers of inferno bakal terhibur dengan aksi dari sang pencuri berkode 1412 ini. Terlebih, interaksinya dengan Conan yang menjadi Arhur Hirai menambah gelak tawa penonton apalagi saat beberapa monen dimana Conan hanya bisa melihat Kid dalam mode penyamarannya mendekati Ran. Untuk segi kasusnya sendiri, pemilihan setting Singapura dinilai cukup tepat. Para kru menampilkan Singapura mendekati aslinya lengkap dengan turis-turis yang beragam dengan cara mereka berbahasa inggris sampai tempat-tempat ikoniknya seperti patung Merlion, Maxwell Food Centre, Suntec City’s Fountain of Wealth dan Marina Bay Sands menjadikan Singapura benar-benar menjadi seperti Singapura yang sudah kita lihat di realitanya.

Adegan finalnya sendiri jauh lebih masuk akal meski masih sedikit membuat tegang dan penuh imajinasi dengan spektakulernya di 30 menit terakhir. Semua karakter termasuk Makoto Kyogoku mendapat masing-masing scene untuk memperlihatkan aksinya. Tidak lengkap rasanya jika tidak membahas romantisme antar karakternya. Untuk movie ke 23 ini fokusnya adalah Sonoko Suzuki dan Makoto Kyogoku dimana penonton serta fans setia Detective Conan akan terkejut melihat apa rahasia yang ada diantara mereka terutama keduanya menjalani hubungan Long Distance Relationship.

Nikmati credit scene yang menampilkan bangunan-bangunan di Singapura yang menjadi referensi dari film ini dengan alunan themesong BLUE SAPPHIRE dari Hiroomi Tosaka yang kemudian berlanjut ke post-credit scene yang dijamin membuat tertawa penonton sepanjang post-credit film Detective Conan dan tentunya teaser untuk movie selanjutnya yang akan semakin menarik pada 2020 mendatang.

Berhasil menciptakan Singapura yang sedekat aslinya ditambah terciptanya ketegangan dan intrik yang cukup pelik di tengah gemerlapnya kota Merlion ini, Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire adalah movie yang terbaik dari segi aksinya dibanding Zero the Enforcer.

5 dari 5

[ad_2]

Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *