REVIEW: “CAHAYA DARI TIMUR – BETA MALUKU” (2014)

[ad_1]

bfc0122dbc25b52df1b4fd382fdb0675

‘Maluku. Kata ini bukan cuma nama tempat. Kata itu ajar katong samua darimana katong berasal. Par apa katong berjuang. KARENA BETA MALUKU! Bukan Tulehu, bukan Paso, Bukan Islam, bukan Kristen.” -Sani Tawainella

Para pecinta sepakbola Indonesia tentu tak asing lagi dengan nama Alvin Tuosalamony, Rizky Pellu, dan Hendra Adi Bayauw ,bukan ? mereka adalah pemain timnas Maluku yang turut berpartisipasi di Indonesian Cup U-15 pada tahun 2006. Namun tahukah kalian ada cerita dibalik kesuksesan mereka bertiga ? jawabnya ada pada sosok Sani Tawainella, mantan pemain Timnas Indonesia yang pernah bermain dalam ajang Piala Pelajar Asia mewakili Indoneisa tahun 1995 dan gagal merintis karir sebagai pesepakbola professional. Justru belajar dari kegagalan tersebut, Sani berubah profesi sebagai pelatih sepakbola untuk anak-anak di Tulehu yang menjadi kampung halamannya.

Berdasarkan kisah nyata tersebut, sutradara Angga Dwimas Sasongko bersama sahabatnya penyanyi Glenn Fredly yang bertindak sebagai produser merilis kisah nyata tersebut ke layar lebar dengan judul ‘CAHAYA DARI TIMUR : BETA MALUKU’ Dibintangi Chicco Jericho, Abdulrahman Arif, Ridho Slank,Jajang C.Noer,dan putra asli Maluku seperti Burhanuddin Ohorella,Aufa Assagaf,dan Bebeto Leutually.

Awal tahun 2000, Sani Tawainela, mantan pemain Tim Nasional U-15 Indonesia di Piala Pelajar Asia tahun 1996 yang gagal menjadi pemain professional mengalami guncangan besar. Sani menyaksikan tertembaknya seorang anak dalam sebuah kontak senjata di Ambon. Sani yang kembali ke Tulehu, desa kelahirannya yang berjarak 25 kilometer dari kota Ambon dan menyambung hidup sebagai tukang ojek menyaksikan keterlibatan anak-anak dalam konflik agama di Maluku.

Sani lalu mengadakan latihan sepak bola untuk mengalihkan perhatian anak-anak atas konflik. Sani mengajak Rafi Lestaluhu, mantan pemain sepak bola professional yang pulang kampung akibat cedera. Sani mengajak Hari untuk membentuk sebuah sekolah sepak bola sederhana berbekal pengetahuan mereka.

Di tengah situasi yang kacau dan dengan segala keterbatasan ekonomi, Sani bertahan melatih anak-anak selama bertahun-tahun. Di tahun 2006 kondisi Maluku mulai kondusif. Sekolah sepak bola yang dirintis Sani dan Rafi masih berjalan. Anak-anak yang mereka latih tumbuh menjadi pemain-pemain sepak bola muda berbakat. Tapi, Sani dan Rafi mengalami pecah kongsi, Rafi mengaku bahwa sekolah sepak bola “SSB TULEHU PUTRA” itu adalah miliknya dan keluarganya, Sani marah besar dan mengundurkan diri.

Dalam sebuah kompetisi antar sekolah “JOHN MAILEO CUP” Tim Sani berhadapan dengan Tim Rafi di babak final. Tim Rafi berhasil keluar sebagai juara, namun Sani yang ditunjuk untuk melatih kesebelasan Maluku dalam ajang Indonesian Cup U-15 di Jakarta. Setelah melewati sekelumit persoalan termausk Biaya transport, tim akhirnya bisa diberangkatkan mengikuti kompetisi nasional di Jakarta. Namun, keputusannya membaurkan anak-anak yang berbeda agama dalam satu tim justru menyebabkan perpecahan.

Apakah Maluku bisa menjuarai U-15 Indonesian Cup ?

Bagaimana Sani menyatukan perbedaan diantara timnya ?

REVIEW :

Menyaksikan film bertema olahraga, khususnya sepakbola sudah banyak dibuat oleh sineas kita. Sebut saja ‘Garuda Di Dadaku 1-2’, ‘Hari ini Pasti Menang’, ‘Hattrick’ (meski Futsal sih), dan Gara-Gara Bola. Namun semua itu kurang membawa emosi ke penonton. CAHAYA DARI TIMUR : BETA MALUKU menyajikan sebuah kisah inspiratif yang cukup emosional bagi penonton di tiap scenenya, terlebih karena naskah yang ditulis oleh M.Irfan Ramli yang saat terjadinya konflik di Maluku, ia menjadi saksi hidup. Dibantu Swastika Nohara (Hari Ini Pasti Menang), film ini berhasil membuat penonton ikut terbawa ke tiap scene dan mata tidak berkedip sedikitpun. Lebih istimewanya lagi, film yang hampir seluruh lokasi syutingnya di Tulehu,Ambon dan Maluku ini menyajikan pemandangan yang indah seakan turut mempromosikan Kabupaten Ambon sebagai daerah yang wajib dikunjungi karena keindahan lautnya.

Ini adalah debut Chicco Jericho dalam film layar lebar dan Chicco berhasil menjiwai karakter Sani Tawainella. Para pemeran putra asli Maluku juga cukup baik dalam debutnya. seperti Salim Ohorella/ Salembe yang diperankan oleh Bebeto Leutally, Hari Zamhari Lestaluhu yang kerap dipanggil ‘Jago’ diperankan Aufa Assegaf juga cukup berhasil membuat scene pertandingan sepak bola berjalan seru. Glenn Fredly sendiri juga turut hadir sebagai Sufyan yang melakukan perjalanan dinas di beberapa scene tertentu dan ia terlihat masih grogi dalam berbicara di depan kamera. Meski begitu, film ini makin lengkap dengan nuansa Maluku, terlihat dari budaya dan musik-musik yang ditampilkan. Musik perkusi Bambu yang khas selalu terdengar. Begitu pula OST ‘Tinggikan’ yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly menggugah semangat sesuai dengan apa yang tercermin di dalam film.

Sebuah catatan optimisme di tengah keputusasaan akibat konflik sosial. Itulah yang ingin disampaikan lewat film ini. Semoga film ini bisa menjadi ‘pencerahan’ bagi kita yang tinggal di tengah konflik , khususnya konflik agama, sosial, dan budaya. Percayalah ,akan selalu hadir sosok yang bisa menyatukan perbedaan dan menyingkirkan masalah konflik sehingga perdamaian bisa tercipta, seperti kisah Sani Tawainella dari Tulehu.

‘CAHAYA DARI TIMUR : BETA MALUKU’ Sudah TAYANG HARI INI DI XXI/BLITZMEGAPLEX !

MOTIVASI TINGGI ? TINGGIKAN !!!

8,5/10

[ad_2]

Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *