1987: WHEN THE DAY COMES : South Korea Darkest Period That Show The Power of Humanity,Tears and Struggle to Uncover Truth!

[ad_1]

“Our only weapon is truth and that truth will bring down the government”- Kim Jung-nam

Setiap negara pasti memiliki sejarah atau periode kelamnya. Hal tersebut merupakan sebuah luka yang mungkin akan terus membekas dalam ingatan tiap korban yang mengalaminya. Air mata, tangisan akan kehilangan mereka yang kita cintai selalu mewarnai ditengah periode tersebut. Namun, tanpa disadari, kematian akan membawa sebuah kehidupan dalam bentuk gerakan untuk kemanusiaan demi menegakkan keadilan dan mengungkap kebenaran.

Periode yang dikenal oleh rakyat Korea Selatan pada tahun 1987 tersebut diangkat ke layar lebar dengan judul “1987: When The Day Comes” yang disutradarai oleh Jang Joon-hwan (Hwayi: A Monster Boy) dan menghadirkan para cast ternama seperti Kim Yoon-seok, Ha Jung-woo, Yoo Hae-jin, Kim Tae-ri, Park Hee-soon, Lee Joo-hoon bersama para supporting cast lainnya seperti Park Kyung-hye,Choi Kwang-il,Yoo Jung-ho, Hyun Bong-shik, Jo Woo-jin, Ko Chang-seok, Woo Hyun, Kim Jong-soo, Yoo Seung-mook dengan penampilan spesial dari aktor Korea yang sudah tidak asing seperti Oh Dal-soo, Sol Kyung-gu,Gang Dong-won, Yeo Jin-goo,Kim Eui-sung, Moon Seung-keun, Jung In-gi dan Moon So-ri. Film ini rilis di Korea pada 27 Desember 2017 dan saat review ini ditulis, jumlah penonton yang menyaksikan film ini adalah 6,031,937.

1987, Korea Selatan masih dipimpin oleh presiden Chun Doo-Hwan dan otoritas tertinggi ada pada Badan Investigasi Anti Komunis yang dipimpin oleh Director Park Cheo-won dan ajudannya yang tengah gencar menangkap para pemberontak. Hingga pada suatu waktu, seorang mahasiswa dari Seoul National University berusia 22 tahun jurusan Linguistik bernama Park Jong-chul menjadi korban kebiadaban mereka. Mengetahui hal tersebut, segala cara dilakukan oleh Park dan anak buahnya untuk menutupi kematian Park Jong-chul. Namun segelintir orang siap membongkar tabir dibalik misteri kematian Jong-chul dan akan berdampak pada “Gwangju Uprising” meskipun media ketika tahun tersebut dibredel ,dilarang untuk memberitahukan fakta sebenarnya terkait kematian Park Jong-chul.

REVIEW:

Berdurasi 130 menit, “1987: When The Day Comes” dibuka dengan alur yang lambat. Karena ini adalah thriller dengan bumbu politik didalamnya, mungkin hanya beberapa penonton saja yang tidak cocok dengan genre film seperti ini. Bumbu politiknya sendiri sangat mendominasi terutama tentang kekuasaan rezim sang presiden yang berbuntut panjang. Joon-hwan selaku sang sutradara mengemas drama thriller politik ini dengan memainkan emosi penonton. Naskah yang ditulis oleh Kim Kyung-chan benar-benar menguras habis emosi. Penonton tidak diberikan sedikit jeda untuk tenang. Tiap scene seperti penuh intrik dan konflik terutama menyorot Director Park Choi-won yang diperankan dengan sangat baik oleh Kim Yoon-seok. Ia benar-benar memperlihatkan sosok atasan yang tidak kompromi, tidak main-main,tegas dan kejam dengan ekspresi dinginnya yang sudah menebar ancaman. Ha Jung-woo sendiri dalam film ini cukup mencairkan suasana dengan perannya sebagai Jaksa Choi Hwan. Jung-woo mampu bersikap tegas dan memperlihatkan bahwa sang jaksa memiliki harga diri namun disisi lain sang jaksa juga bisa bercanda sarkas. Yoo Hae-jin yang berperan sebagai sipir Han Byoung-yong cukup membuat penonton merasa iba. Ekspresi Hae-jin ketika sudah terdesak benar-benar mengiris batin diiringi teriakan-teriakan yang mendukung latar scene dari tokohnya tersebut.

Pemanis ada dalam sosok Yeon-hee yang diperankan Kim Tae-ri yang mendulang pujian lewat “The Handmaiden” (2016). Tae-ri memperlihatkan sosok Yeon-hee sebagai seorang remaja yang ceria, penuh rasa ingin tahu namun harus mengambil keputusan ketika harus ikut terseret dalam konflik di film ini. Tiap adegan film ini terasa mencekam dengan score dan music yang digubah oleh Kim Tae-seong. Adegan ketika para demonstran menyerang pun diperlihatkan dengan dramatis dan menggunakan efek slow-motion bahkan penulis merinding jelang akhir melihat apa yang terjadi. Penulis pun makin  diingatkan dengan tragedi Mei 98 yang terjadi di Indonesia. Sama persis.

Jika harus membandingkan “A Taxi Driver” dengan “1987: When The Day Comes”, A Taxi Driver hanyalah secuil saja dari apa yang terlihat dalam peristiwa Gwangju Uprising. 1987 : When The Day Comes adalah sebuah potret periode gelap Korea Selatan yang dikemas penuh drama,mencekam dan sangat relevan dengan situasi sekarang ini.

5 dari 5

 

 

[ad_2]

Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *