REVIEW : WIRO SABLENG- PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 (2018): The Return of Bastian Tito’s Legacy That Epic and Colossal!

REVIEW : WIRO SABLENG- PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 (2018): The Return of Bastian Tito’s Legacy That Epic and Colossal!

0 Shares

“Selama langit masih berwarna biru, selama hutan masih berwarna hijau, selama air sungai masih mengalir,kita akan bertemu lagi.”-Sinto Gendeng

Kalau bicara tahun 90’an, sudah pasti tidak asing lagi dengan sosok hero lokal yang novelnya ditulis oleh Alm. Bastian Tito, Wiro Sableng. Ya, tokoh pendekar Indonesia yang sifatnya agak “sableng” tetapi sakti ini sudah muncul sejak 1967 dan novelnya sendiri berjumlah 185 buku dalam rentang 39 tahun. Sebenarnya, Wiro Sableng sendiri sudah ada versi layar lebarnya pada 1993 dan 1994 dengan pemeran Tonny Hidayat bahkan versi sinetronnya juga ada dengan pemeran Herning Soekendro atau Ken-Ken pada awal tayang sampai episode 59 kemudian digantikan oleh Abhie Cancer di episode 59-91. Dan 2018 ini, sang pendekar yang identik dengan logo 212 tersebut siap mengobati kerinduan para fans dan pecinta tokoh Wiro Sableng.

Bekerjasama dengan 20th Century Fox, Lifelike Pictures mempercayakan Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara dari “Wiro Sableng-Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212” dan disini, Sheila Timothy tidak hanya memproduserinya tetapi turut andil dalam menulis naskahnya bersama Tumpal Tampubolon dan Seno Gumira Aji. Cast yang dilibatkan dalam “Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212” ini antara lain Vino G.Bastian yang merupakan anak dari alm. Bastian Tito, Yayan Ruhian, Sherina Munaf, Fariz Alfarazi, Marsha Timothy, Cecep Arif Rahman, Gita Arifin, Hanata Rue, Dian Sidik, Marcell Siahaan, Restu Triandy atau biasa dikenal sebagai Andy /rif, Happy Salma, Aghniny Haque, Yusuf Mahardhika, Dwi Sasono, Teuku Rifnu Wikana, Lukman Sardi,Marcella Zalianty,Yayu Unru dan Ruth Marini.

17 tahun lalu… Desa Jatiwalu menjadi saksi pembantaian massal dari Golongan hitam yang dipimpin Mahesa Birawa bersama Kalingundil. Wira Sasana, seorang anak pasangan dari Suci dan Ranaweleng hampir menjadi tawanan mereka tetapi seorang pendekar dan guru bernama Sinto Gendeng menyelamatkannya. Kini,17 tahun sudah berlalu, Wira dilatih ilmu beladiri oleh Sinto Gendeng dan berubah namanya menjadi Wiro Sableng, pendekar bersenjatakan Kapak Maut Naga Geni 212 dan Batu Hitam. Sinto meminta Wiro untuk membawa kembali Mahesa yang ternyata merupakan murid Sinto semasa muda yang berkhianat. Bersama Anggini dan Bujang Gila Tapak Sakti yang ditemuinya di perjalanan, Wiro Sableng harus mencari tahu rencana Mahesa sekaligus memenuhi panggilannya sebagai seorang “Pendekar”.

Bagaimana perjalanan Wiro Sableng dalam mencari Mahesa Birawa?

Apa sebenarnya rencana besar Mahesa? Mengapa Ia sangat ditakuti ?

REVIEW:

Ketika mengetahui bahwa film ini merupakan hasil co-production dengan 20th Century Fox, semua mata tentu sudah sangat mengantisipasi hype yang terjadi dari Wiro Sableng-Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Angga Dwimas Sasongko menyajikan sebuah versi baru dari Wiro Sableng yang lebih kekinian tetapi tidak menghilangkan esensi komedi yang memang ada dalam tiap novelnya. Naskah yang ditulis Sheila Timothy, Seno Gumira Aji dan Tumpal Tampubolon mengajak penonto untuk merasakan berbagai moment mulai dari sedih, ceria sampai tegang. Tidak hanya itu, sosok Wiro disini tidak dikatakan “sableng” tetapi lebih ke “nyentrik” dimana penonton masih dapat melihat sisi manusiawi dari sang pendekar sableng ini. Kolaborasi Yayan Ruhian sebagai Action Choreographer dan Chan Man Ching sebagai Action Director benar-benar menghasilkan sebuah koreo silat yang elegan dan berkelas,tidak kalah kelasnya dengan film-film kolosal Hollywood. Ini bukan omong kosong, sekali lagi. Saya berkata apa adanya.

Vino G.Bastian,Sherina Munaf dan Fariz Alfarazi menunjukkan chemistry memukau sebagai Wiro,Anggini dan Bujang Gila Tapak Sakti. Kekonyolan Wiro dan Bujang Gila Tapak Sakti dijamin akan membuat tawa penonton meledak. Tidak hanya itu, Ruth Marini pun tampil luar biasa sebagai Sinto Gendeng. Chemistrynya dengan Vino G.Bastian juga tidak kalah kocaknya. Banyak moment kocak bahkan saat fight scenenya pun masih ada komedi dari Wiro Sableng.

Yayan Ruhian tampil beringas sebagai Mahesa Birawa yang sanggup menebar aura ketakutan dan ketegangan setiap dirinya mulai beraksi bersama Golongan Hitam. Banyak karakter lainnya yang cukup mencuri perhatian seperti Dewa Tuak yang diperankan dengan baik oleh Andy /rif sampai Bidadari Angin Timur yang diperankan Marsha Timothy dengan anggunnya melakoni adegan fight. Dwi Sasono yang berperan sebagai Paduka Raja Kamandaka pun memberikan performa yang cukup “tidak disangka-sangka”. Film ini juga memberikan penghormatan dengan menghadirkan pemeran Wiro di sinetronnya yakni Ken-Ken atau Herning Soekendro.

Scoring yang digarap Aria Prayogi juga cukup memberi nyawa dalam tiap scene di “Wiro Sableng-Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212”. Acungan jempol layak diberikan kepada Adrianto Sinaga selaku Production Designer yang berkolaborasi dengan Chris Lie dari Caravan Studios. Ia menciptakan rancangan design 300 kostum dan 150 senjata terinspirasi dari Nusantara. Make-up dari Jerry Octavianus juga baik terutama ketika Sinto Gendeng memiliki fase usia 40,50 dan 80. Prosthetic Make-Upnya langsung membuat mata penonton tidak melihat sosok cantik Ruth Marini lagi tetapi Sinto Gendeng.

Bicara soal VFX dan CG, secara keseluruhan ,VFX dan CG dalam “Wiro Sableng-Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212” sangat halus bahkan tidak terlihat adanya tali ketika scene karakternya terbang. Pada scene adu jurus pun , CG nya berjalan mulus dan membuat kesan epic dalam “Wiro Sableng-Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212” ini semakin terasa.

Jangan buru-buru keluar karena ada AFTER CREDIT SCENE yang menampilkan cameo dari salah satu aktor Indonesia yang namanya juga tengah naik daun yang membuka jalan adanya sekuel. Sebagai sebuah permulaan, “Wiro Sableng-Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212” berhasil tampil dengan kelas ala Hollywood sekaligus membuka jalan dimana Wiro Sableng menjadi sebuah franchise karena direncanakan menjadi trilogy juga. 977 Kru yang bekerja untuk film ini sangat layak diapresiasi karena kekompakan dari semua lini. Terimakasih Sheila Timothy.

4,5 dari 5

0 Shares

Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion