REVIEW: TRIPLE THREAT (2019): Explosive Action That Include Diversity yet Still Entertaining!

REVIEW: TRIPLE THREAT (2019): Explosive Action That Include Diversity yet Still Entertaining!

0 Shares

“I told you, I had a plan”- Jaka

Memiliki kemampuan beladiri adalah hal yang tidak semua orang kuasai. Kemampuan itulah yang terkadang sering dimanfaatkan orang yang terancam keselamatannya dan mencari Bodyguard yang tidak lebih adalah orang-orang yang menguasai suatu teknik beladiri. Namun, bagaimana jika ternyata mereka hanya dijadikan alat untuk tujuan tersembunyi dari orang yang mempekerjakan mereka?

Inilah film action yang dinanti-nanti para penonton terutama karena mempertemukan tiga aktor yang menguasai ilmu beladiri berbeda-beda yakni Tony Jaa dengan Muay Thai, Iko Uwais dengan Pencak Silat dan Tiger Chen dengan Kung Fu, “Triple Threat”. Disutradarai oleh Jesse V. Johnson, “Triple Threat” juga menghadirkan Michael Jai White, Jeeja Yanin, Scott Adkins, Cellina Jade, Michael Bisping, Ron Smoorenburg, Dominique Vandenberg, Sile Zhang, Jennifer Qi Jun Yang dan Monica Mok.

Putri dari pewaris kekayaan asal China bernama Xiao Xian menjadi target dari gerombolan pembunuh bayaran yang dipimpin oleh Collins dan beranggotakan Joey,Mook, Devereaux, Steiner dan Dom. Xiao Xian akhirnya bertemu dengan Payu dan Long Fei juga Jaka. Ketiga orang ini memiliki hubungan di masa lalu ketika Payu dan Long Fei diikutsertakan oleh Devereaux dalam misi kemanusiaan di Thailand yang ternyata menewaskan istri dari Jaka. Kejar-mengejar terjadi antara Payu dan kawan-kawan dengan Devereaux dan komplotannya dalam merebut Xiao Xian.

Hubungan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu antara ketiga pemuda tersebut?

Siapa Jaka sebenarnya? Mengapa Ia ikut dalam kelompok Payu?

REVIEW:

Berdurasi 96 menit, Triple Threat memulai semua dengan eksplosif. Adegan aksi yang tidak dijeda akan memanjakan penonton terlebih mereka yang menantikan kolaborasi antara Tony Jaa, Iko Uwais dan Tiger Chen. Masing-masing dari mereka diberi kesempatan untuk “bersinar” dalma fight scene baik solo maupun berkolaborasi melawan musuh yang lebih kuat. Keanekaragaman budaya juga diperlihatkan disini dimana dialog yang digunakan cukup beragam mulai dari Indonesian, English, Thai dan Mandarin. Keanekaragaman ini sempat membuat saya bingung, mengapa sang sutradara menginginkan dialog dengan bahasa masing-masing aktor? Apa karena ingin memberikan space kepada masing-masing dari mereka untuk “bersinar”? Tidak, bukan itu. Nyatanya, dialog tersebut agak sedikit menganggu jalan cerita tetapi untunglah adegan final fightnya cukup memacu adrenalin terutama Iko yang tampil habis-habisan melawan Michael Jai White. Dari segi antagonis, Scott Adkins benar-benar menunjukkan sosok pemimpin komplotan pembunuh yang bengis,tidak pandang bulu dan licik.

Dikemas dengan keanekaragaman yang sedikit menganggu cerita, kolaborasi ketiga aktor yang ahli beladiri ini cukup berhasil memanjakan penonton terlebih mereka bersinar dalam scenenya masing-masing.

3 dari 5

0 Shares

Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime and Tokusatsu Freak, Movie is my Passion