REVIEW : THOR: RAGNAROK (2017): Entertain But Meaningless In Story-Telling

REVIEW : THOR: RAGNAROK (2017): Entertain But Meaningless In Story-Telling

“Wise king never seek out for war”- Thor Odinson

Dalam sebuah sistem kerajaan, jika sang ayah sudah hampir tidak mampu lagi memimpin kerajaan, hal pertama yang dilakukannya adalah menunjuk sang anak untuk meneruskan kepemimpinannya tersebut. Namun terkadang sang anak mengalami krisis percaya diri yang cukup mempengaruhinya sampai menjadi bimbang. Lantas, bagaimana jika sang anak masih merasakan ketidakmampuannya memimpin kerajaan tersebut?

The Mighty Thor ,Son of Odin kembali beraksi setelah sekuel keduanya “Thor: The Dark World” (2013) yang disutradarai Alan Taylor. Dalam sekuel ketiganya yang rilis 2017 berjudul “Thor: Ragnarok”, storyline dari komik terbitan 2006 “Planet Hulk” turut menjadi salah satu unsur yang ditambahkan. Sebagai sutradara terpilihlah Taika Waititi. “Thor: Ragnarok” menghadirkan kembali Chris Hemsworth,Tom Hiddleston, Idris Elba,Anthony Hopkins dalam perannya sebagai Thor,Loki,Heimdall dan Odin dengan masuknya beberapa cast baru seperti Cate Blanchett, Karl Urban, Jeff Goldblum, Tessa Thompson dan Karl Urban serta menghadirkan pula Mark Ruffalo sebagai The Incredible Hulk/Dr.Bruce Banner.

Dua tahun setelah kejadian dari “Avengers: Age of Ultron”, Thor Odinson yang melakukan pencarian Infinity Stone berada di tangan Surtur. Keadaan makin kacau setelah Thor mengetahui Odin, ayahnya tidak lagi berada di Asgard. Tidak cuma itu saja, ancaman baru datang membumihanguskan Asgard datang dari Hela, Goddess of Death. Thor yang berhasil lolos malah kehilangan Mjolnir, palu yang menjadi senjata andalannya dan tersesat di planet Sakaar dimana dirinya dijadikan gladiator dan harus menghadapi Hulk dalam kontes yang diadakan oleh Grandmaster.. Waktu semakin menipis. Thor harus menghentikan Hela sekaligus ramalan “Ragnarok” yang tertunda serta menyelamatkan seluruh rakyat Asgard.

Apa yang dimaksud dengan “Ragnarok” ?

Bagaimana akhir pertarungan Thor dan Hulk? Siapa yang memenangkan pertarungan tersebut?

Siapa Hela sebenarnya?

Dimana Odin berada?

REVIEW:

Berdurasi 130 menit, sebenarnya arahan dari sutradara Taika Waititi yang mengubah jalan cerita “Thor Ragnarok” penuh banyolan dan komedi dirasa cukup menghibur namun tidak dalam pikiran saya. “Berlebihan” adalah kata yang patut saya ucapkan. Bagaimana tidak, ketimbang memperlihatkan cerita yang solid, “Thor: Ragnarok” hanya terlihat sebagai bahan ejek-mengejek antara Thor,Loki dan Hulk. “dejavu” yang dialami Loki dalam “The Avengers” (2012) tidak luput sebagai bahan ejekan seakan Waititi ingin penonton merasakan apa yang dirasakan mereka ketika adegan serupa diperlihatkan lagi. Tidak hanya itu saja, Hela yang diperankan oleh Cate Blacnhett hanya terlihat tangguh dan beringas di awal-awal film namun di akhir seperti terlihat tidak memiliki power lagi. Entah karena fokus Waititi demi kadar komedi dalam “Thor: Ragnarok” atau hanya ingin bermain-main saja. Cameo dari tiga aktor ternama Hollywood yang salah satunya masih memiliki ikatan dengan pemeran Thor,Chris Hemsworth dinilai cukup membuat tertawa.

Tom Hiddleston kembali tampil sebagai Loki yang kita kenal. Penuh akal dan cukup “menyebalkan” tetapi rasa brotherhoodnya tinggi dan disini dengan adanya Hela, hubungan Thor-Loki semakin dalam ditambah fakta dibalik berjayanya Asgard yang diyakini cukup “mengejutkan”. Karakter Hulk disini sudah jauh berkembang lebih dewasa dan mampu berpikir secara rasional. Chris Hemsworth sendiri terlihat ingin menjadi seperti “Chris Pratt vol 2”. Kenapa saya bilang begitu? Disini sosok Thor agak sedikit banyak melontarkan jokes-jokes yang sayangnya “garing” bagi sebagian penonton. Dari segi aksi, sudah tidak diragukan lagi, adegan aksi di Thor: Ragnarok cukup menghibur dan penuh Slo-Mo. Kredit dan pujian bagi Jeff Goldblum dan Tessa Thompson. Pertama, Jeff Goldblum mampu berperan sebagai Grandmaster yang nyentrik namun tegas dan masih bisa terlihat agak “sinting”. Kedua, Tessa Thompson sejak muncul sebagai Valkyrie hingga film berakhir mencuri sebagian scene lewat entrancenya terutama ketika battle scene jelang ending. Sang sutradara Taika Waititi yang berperan sebagai Korg juga berhasil menghidupkan suasana terlebih karakter ini dinilai juga mencuri perhatian saya.

Scoring dari Mark Mothersbrough di beberapa scene juga cukup masuk namun “Immigrant Song” dari Led Zeppelin lah nyawa dari Thor: Ragnarok. Pasalnya, irama lagu yang bergenre rock ala 80’an tersebut menghidupkan suasana. Jangan lewatkan cameo Stan Lee yang kali ini lebih kocak saat menunjukkan kehadirannya. Tidak lupa, dua (DUA) After Credit Scene yang dimana satu nya tidak boleh dilewatkan karena akan mengset-up “Infinity War” (IYKWIM)

3,5 dari 5.


Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion