REVIEW: THE WALL (2017)

REVIEW: THE WALL (2017)

“I’m fantastic”- Sgt.Allen Isaac

Sniper/penembak jitu. Salah satu bagian yang cukup vital dalam setiap perang. Keberadaannya bagaikan “silent assassin” yang siap membunuh siapapun di medan pertempuran. Terkadang sang penembak jitu lihai dalam memancing sang target untuk keluar kemudian menghabisinya di tempat. Lantas, bagaimana jika sang penembak jitu tidak dapat terlihat dan mengancam nyawa mereka yang masih bertahan di medan perang?

Itulah sedikit poin yang dimasukkan dalam “The Wall”, sebuah film bergenre war-drama yang disutradarai oleh Doug Liman dengan naskah yang ditulis oleh Dwain Worrell serta diproduseri oleh Dave Bartis. “The Wall” menghadirkan Aaron Taylor Johnson dan juga pegulat WWE yang mulai sering bermain film layar lebar, John Cena serta Laith Nakli. “The Wall” sendiri sudah rilis pada 12 Mei 2017 di USA . Feat Pictures mendistribusikan film ini untuk bioskop Indonesia tepatnya CGV Cinemas dan Cinemaxx Theater.

2007, Perang antara Amerika dan Irak telah berakhir. Dua tentara Amerika yakni  Sergeant Shane Matthews yang merupakan seorang sniper/penembak jitu dan juniornya, Sergeant Allen Isaac sebagai spotter/pemantau situasi tengah dalam penyelidikan sebuah tempat konstruksi pipa di daerah Baghdad,Iraq. Merasa tempat tersebut sudah aman, Matthew yang bergerak untuk mengambil radio dari salah satu jenazah penjaga malah ditembak oleh sniper musuh yang sangat akurat. Isaac yang mencoba menolongnya juga menjadi korban dan mengandalkan tembok yang mulai rapuh, keduanya harus bertahan dari si penembak jitu tersebut.

Siapa sebenarnya sang sniper misterius tersebut?

Bagaimana nasib dari Isaac dan Matthew?

REVIEW:

Berdurasi 81 menit, sutradara Doug Liman sudah membawa penonton memasuki atmosfir suasana pasca perang dari awal film. Penglihatan dari sisi scope sniper cukup baik ditambah pemandangan di padang gurun yang berpasir dan berdebu membuat penonton merasakan aura yang benar-benar mencekam dan terlihat sangat realistis. Konflik ketika sang sniper misterius muncul menjadi menarik ketika Ia berkomunikasi dengan Isaac. Sungguh mengintimidasi bahkan menebarkan teror kepada penonton bahwa perang bukan hanya soal tembak-menembak atau menduduki wilayah musuh tetapi efek perang itu sendiri dapat dijadikan senjata yang cukup mematikan.

John Cena yang berperan sebagai Sergeant Shane Matthews menampilkan performa yang baik sebagai mentor meski dialognya sepanjang film sangat vulgar ditambah banyaknya makian, Cena masih dikatakan “bermain aman” dalam perannya kali ini. Sementara Aaron Taylor-Johnson yang memerankan Sergeant Allen Isaac mampu membuat penonton merasakan apa yang dirasakan karakternya tersebut lewat ekspresi wajah dan kegelisahannya sepanjang film dan Laith Nakli sebagai sang sniper misteriuslah yang patut diacungi jempol meski tidak menampakkan wajahnya. Sayangnya, back-story dari si sniper misterius kurang begitu tereksplor dan meninggalkan sebuah plothole dalam “The Wall”. Meski begitu, Doug Liman telah menyajikan sebuah mind-games yang cukup intimidatif dan penuh thriller.

3.5/5


Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion