REVIEW: THE SHAPE OF WATER (2018) : Re-imagination of Beauty and The Beast with del Toro’s Tribute of Old Hollywood Movies

REVIEW: THE SHAPE OF WATER (2018) : Re-imagination of Beauty and The Beast with del Toro’s Tribute of Old Hollywood Movies

0 Shares

“Unable to perceive the shape of You, I find You all around me. Your presence fills my eyes with Your love. It humbles my heart, for You are everywhere.”- Giles

Satu hal yang harus diakui tentang kekuatan cinta adalah cinta tidak pandang bulu alias buta. Mungkin di kehidupan seakrang banyak fenomena dimana ada pasangan dimana sang pria berwajah biasa saja dan sang wanita berwajah cantik,bukan ? Tidak sekali dua kali saja. Kadang kita yang melihat berkata bahwa mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Adapula yang beranggapan negatif dengan mengatakan bahwa antara si pria atau si wanita terlihat ingin menguasai harta semata.

Setelah terakhir menyutradarai Crimson Peak yang kurang mendapat sambutan dimata penonton, sutradara visioner yang dikenal lewat filmnya “Pan’s Labyrinth’ ,Guillermo del Toro kembali menyajikan sebuah film dengan unsur unik khasnya “The Shape of Water”. The Shape of Water dalam ajang Academy Awards 2018 berhasil meraih empat piala termasuk Best Picture dan Best Director. Cast dalam film ini diantaranya Sally Hawkins, Michael Shannon, Richard Jenkins, Doug Jones, ,Michael Stuhlbarg,Octavia Spencer,David Hewlett,Nick Searcy, Stewart Arnott,Nigel Bennett,Lauren Lee Smith,Martin Roach,Allegra Fulton, John Kapelos dan Morgan Kelly.

Elisa Esposito adalah seorang wanita yang mengalami kebisuan sejak lahir. Ia terisolasi dari kehidupan luar dan bekerja sebagai janitor atau petugas kebersihan di sebuah laboratorium rahasia pemerintah di Baltimore ketika Cold War tengah meninggi tensinya. Elisa hanya tinggal dengan Giles, seorang ilustrator di apartmentnya dan juga Zelda, rekan kerja yang selalu menerjemahkan bahasa isyaratnya. Suatu ketika di laboratorium tersebut kedatangan sebuah spesies mirip manusia ikan atau Amphibian Man yang ternyata akan diotopsi tubuhnya demi keuntungan dalam Space War. Elisa yang mengetahui rencana pemerintah tersebut berniat membebaskan sang manusia amfibi yang ternyata dibawa oleh Col.Richard Strickland.

Akankah Elisa bisa membebaskan sang manusia Amfibi?

Apa yang akan terjadi diantara mereka berdua ?

REVIEW:

Durasi 123 menit saja sudah membuat penonton secara emosional merasakan betapa dalamnya emosi antara Elisa dan Manusia Amfibi tersebut. Sally Hawkins memberikan penampilan luar biasa sebagai Elisa. Ekspresi wajahnya yang sayu membuat orang akan iba kepadanya. Tidak hanya itu, desain produksi yang mengambil era 1962 dengan TV kotak, dekorasi jadul dan film-film Hollywood hitam-putih yang bertema musikal seakan menjadi rasa tribute dari del Toro. Tidak hanya itu, film yang bergenre Fantasy-Drama ini juga menyisipkan banyak twist dan akting beringas seorang Michael Shannon sebagai Col.Richard Strickland. Adegan nudity ? ada beberapa adegan yang justru menambah keintiman emosional antara The Amphibian Man dan Elisa. Yang menarik dari film ini adalah bagaimana del Toro menyajikan sebuah kisah cinta antara si cantik dengan si buruk rupa dengan didukung lokasi dan property yang sangat mencerminkan era perang dingin atau Cold War. Film ini juga membuat penonton hanyut dalam kisah cinta ini dengan dukungan score dari Alexandre Desplat yang bernada klasik tetapi menambah keintiman dari “The Shape of Water”.

Akting para pemeran pendukung mulai dari Octavia Spencer sampai Morgan Kelly melengkapi alunan indah dari kisah cinta sang manusia Amfibi dengan Elisa yang dijamin membuat siapapun yang menyaksikannya akan ikut terbawa secara emosional dengan tiap adegan yang menampilkan hubungan yang terjalin antara mereka berdua.

5 dari 5.

 

0 Shares

Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion