REVIEW: THE GRINCH (2018): A Re-Visualization Of Dr. Seuss Classic Tale That Heartwarming Yet Full of Christmas Spirit

REVIEW: THE GRINCH (2018): A Re-Visualization Of Dr. Seuss Classic Tale That Heartwarming Yet Full of Christmas Spirit

0 Shares

“Genius start with abs. It’s go time”- The Grinch

Apakah ada diantara kalian yang memiliki kebencian terhadap suatu hari atau perayaan besar yang merupakan saat dimana orang-orang bergembira, bersukacita dalam kebahagiaan bersama orang terdekat mereka? Mungkin ada diantara kita yang seperti itu. Entah karena memiliki pengalaman pahit di saat hari besar tersebut datang. Tetapi ,kita tidak pernah berpikir apakah dengan cara tersebut kita dapat melampiaskan semua kekecewaan kita ,bukan? Bagaimana jika kita benar-benar menuruti ego kita yang diliputi kebencian terhadap hari atau perayaaan tersebut?

Siapa yang tidak mengenal sosok pengarang cerita anak-anak Dr.Seuss? karya-karyanya sudah cukup mendunia bahkan beberapa diantaranya sudah diadaptasi ke layar lebar sebut saja seperti “The Cat in The Hat” (2003),  “Horton Hears A Who” (2008) dan “The Lorax” (2012). Selain karya yang sudah disebutkan, ada satu cerita yang sangat tidak asing lagi yakni “How The Grinch Stole Christmas”. Tahun 2018 ini, Universal Pictures-Illumination Entertainment mengangkat kembali kisah makhluk hijau yang tinggal di Mt.Crumpit dan sangat membenci perayaan hari Natal tersebut ke dalam bentuk animasi CG. Ini adalah adaptasi ketiga setelah TV Special yang diproduksi pada tahun 1966 dan versi Live-Actionnya yang berjudul sama dengan Jim Carrey sebagai The Grinch. Untuk versi animasinya, voice cast yang terlibat diantaranya adalah Benedict Cumberbatch, Rashida Jones, Cameron Seely, Kenan Thompson, Angela Lansbury,Ramon Hamilton, Scarlett Estevez dan Pharell Williams (pengisi OST Despicable Me hingga Despicable Me 3) sebagai Narrator. Animasi ini disutradarai oleh Scott Mosier dan Yarrow Cheney.

Kota Whoville tengah bersiap merayakan Natal. Semua warga bersiap dengan penuh keceriaan dan semangat Natal. Tetapi, ada satu orang yang tidak menyukai hari Natal. Ia adalah The Grinch yang tinggal di atas Mt.Crumpit bersama anjing kesayangannya, Max. Ketika mengetahui bahwa Mayor di kota Whoville menginginkan Natal kali ini tiga kali lebih besar dari perayaan Natal sebelumnya, The Grinch menyusun rencana untuk membuat Natal di kota Whoville menjadi kacau. Sementara itu, seorang gadis bernama Cindy Lou-Who mengirim surat kepada Santa Claus karena Ia yakin Santa Claus dapat membantu permasalahannya. Tetapi tanpa sadar, Ia tanpa sengaja membuka kedok The Grinch dengan ulahnya tersebut.

Apakah rencana The Grinch untuk mengacaukan Natal di kota Whoville berjalan dengan baik?

Bagaimana reaksi Cindy Lou-Who ketika berjumpa dengan sosok yang membenci Natal tersebut?

REVIEW:

Jangan terlambat masuk studio karena sebelum pemutaran “The Grinch”, akan ada short animation dari Minions “Yellow is The New Black” yang bersetting dalam “Despicable Me 3” yang cukup membuat penonton tertawa terutama mereka yang merindukan kekonyolan Minions. Berdurasi 86 menit, duo sutradara Mosier dan Cheney berhasil menyajikan kisah The Grinch dengan visualisasi kota Whoville yang menakjubkan. Dapat dikatakan, inilah cara terbaik untuk memberikan adaptasi dari cerita “How The Grinch Stole Christmas” jika harus menyinggung dan harus dibandingkan dengan versi Live-Actionnya pada tahun 2000 (maaf, Jim Carrey). Benedict Cumberbatch sebagai voice-cast The Grinch benar-benar mampu memberikan “nyawa” terhadap sosok pembenci hari Natal tersebut. Bagaimana Ia menggerutu sampai tertawa jahat, semuanya benar-benar mampu membuat anak-anak takut kepadanya.  Kota Whoville pun mendapat treatment yang cukup menarik dimana semuanya serba modern tetapi tidak melupakan bagaimana keadaan kota tersebut jelang perayaan Natal. Alurnya sendiri dapat diikuti dengan baik ditambah banyak adegan yang dapat membuat tertawa penonton.

Cameron Seely sebagai voice-cast Cindy Lou-Who juga tampil menggemaskan terlebih karakteristik Cindy yang masih anak-anak kecil yang mempercayai adanya Santa Claus ditambah ekspresi keceriaannya mampu membuat anak-anak ikut merasakan energi yang dipancarkan dari Cindy. Deretan Original Soundtracknya juga cukup beragam dengan nuansa Natal mulai dari lagu klasik macam “Santa Claus is Coming to Town”nya Jackson 5, lagu tradisional Jingle Bells, “God Rest Ye Merry Gentlemen” dari Pentatonix, instrumental “All By Myself” dan dua lagu original yang diciptakan oleh Tyler, The Creator yakni “You’re A Mean One, Mr.Grinch” dan “I Am The Grinch” benar-benar berhasil mendeskripsikan sosok The Grinch lewat liriknya. Sedangkan score yang digarap oleh Danny Elfman mampu menciptakan tensi di tiap scenenya. Bagi anak-anak, pesan yang disampaikan dalam “The Grinch” sangat positif terutama bagaimana naskah yang ditulis Michael LeSieur dan Tommy Swerdlow berhasil membawa anak-anak merasakan energy dan semangat Natal juga memberikan pesan tentang keluarga,kebersamaan dalam merayakan Natal.

4 dari 5.

 

0 Shares

Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion