REVIEW: SPIDER-MAN: INTO THE SPIDER-VERSE (2018): An Animated Spidey That Brings All The Element of Spidey’s Adaptation yet Still Honoring Stan Lee!

REVIEW: SPIDER-MAN: INTO THE SPIDER-VERSE (2018): An Animated Spidey That Brings All The Element of Spidey’s Adaptation yet Still Honoring Stan Lee!

0 Shares

It’s a leap of faith“- Peter B.Parker/Spider-Man (Earth-616)

Siapapun pernah merasakan yang namanya diremehkan meski memiliki potensi yang sama. Sebut saja para atlet yang memiliki keahlian sama di bidang olahraga yang sama. Mereka memiliki potensi namun seringkali mendapat cemoohan yang meruntuhkan motivasi mereka bahwa mereka tidak akan mampu mencapai prestasi pendahulu mereka yang telah disegani menjadi seorang legenda. Terkadang, diam itu emas dan perlahan namun pasti, mereka membuktikannya lewat proses,tidak melalui omongan belaka.

Meraih rate 99% FRESH dari Rotten Tomatoes bahkan sudah masuk nominasi The 76th Golden Globe Awards dan 24th Critics Choice Awards sebagai “Best Animated Feature”, Inilah dunia baru bagi para fans Spider-Man terlebih yang membaca komiknya “Spider-Man: Into the Spider-Verse” yang disutradarai oleh tiga orang yakni Bob Persichetti, Peter Ramsey dan Rodney Rothman. Berformat animasi dengan art yang dibuat oleh co-creator Miles Morales yakni Sara Pichelli, “Spider-Man: Into the Spider-Verse” menghadirkan para voice cast seperti Shameik Moore, Jake Johnson, Hailee Steinfeld, Mahershala Ali, Bryan Tyree-Henry, Lily Tomlin, Luna Lauren, Zoe Kravitz, John Mulaney, Kimiko Glenn,Nicolas Cage, Kathryn Hahn, Liev Schrieber, Chris Pine,Stan Lee yang masih tetap hadir sebagai cameo, Lake Bell, Joaquin Cosio,Jorma Taccone, Marvin “Krondon” Jones III, dan Oscar Isaac.

Brooklyn, New York. Dunia mengenal satu Spider-Man yakni Peter Parker yang berusia 26 tahun. Sementara itu, ada seorang anak remaja bernama Miles Morales yang memiliki kegemaran membuat grafitti, tinggal bersama kedua orang tuanya, Jefferson- Davis Morales yang berprofesi sebagai polisi dan Rio Morales yang berprofesi sebagai perawat. Setelah mendapati dirinya digigit oleh Arachnid 42 yang merupakan laba-laba genetika, Miles tanpa sengaja menjadi saksi dimana Wilson Fisk/Kingpin tengah membuat sebuah akselerator partikel dan Spider-Man menjadi korban saat berusaha menghentikan akeselerator tersebut. Miles yang masih belajar menyesuaikan diri malah mendapati bahwa Spider-Man itu bukan hanya satu ketika Spider-Ham (Earth-8311), Spider Gwen (Earth-65), Peter B.Parker (Earth-616), Peni Parker dan robotnya, SP//dr Suit (Earth-14512) serta Spider-Man Noir (Earth-90214) datang ke dimensi dimana Miles tinggal. Bersama, Miles dan Spider-Men dari berbagai dimensi harus menghentikan ulah Kingpin.

Berhasilkah Miles dan para Spider-Men dari berbagai dimensi menghentikan Kingpin?

Akankah Miles menyadari bahwa Ia juga adalah Spider-Man?

Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Kingpin dengan membuat akselerator partikel tersebut?

REVIEW:

Berdurasi 116 menit, Spider-Man: Into The Spider-Verse menjadi sebuah surga bagi para fans Spidey terutama yang sudah akrab dengan komiknya. Semua element dari adaptasi layar lebar terdahulunya diperlihatkan mulai dari adegan kissing dari Spider-Man (2002),Spidey yang menghentikan kereta (Spider-Man 2,2004) dan goyangan Peter Parker yang “menganggu” dalam Spider-Man 3 (2007). Tidak hanya itu, element dari versi Andrew Garfield juga sedikit ada meski dibalik. Untuk storynya sendiri, penonton akan dibawa melihat sebuah komik hidup dimana Spider-Man: Into the Spider-Verse ini benar-benar akan memuaskan para pecinta komik dengan peletakan balon-balon kata seperti yang biasa ditemukan dalam komik Spider-Man. Tidak hanya itu, pengenalan sosok Miles Morales dan kelaurga terdekatnya juga cukup baik sampai pengenalan seluruh Spider-Men dari berbagai dimensi dijelaskan dengan ringkas namun mendetail. Untuk adegan aksinya sendiri, kehadiran Green Goblin, Scorpion (yang saya sangat suaki designnya) sampai sosok Kingpin benar-benar menjadikan keseruan berlipat karena dalam adegan aksinya terlihat pula balon kata-kata seperti “Pow!”. Jokes atau leluconnya sendiri berasal dari Spider-Ham/Peter Porker yang sampai berani mengucap satu kalimat ikonik dari franchise Looney Tunes yang sudah pasti familiar. Konfliknya sendiri benar-benar menyatu dengan para fans terlebih ketika para Spider-Men ini menceritakan kehilangan orang yang dekat dengan mereka. Twistnya sendiri juga dikemas dramatis. Mungkin yang menarik adalah sosok Doc Ock yang kali ini berwujud wanita.

Film ini juga membawa semangat dari sosok almarhum Stan Lee dengan menghadirkannya sebagai peran yang kali ini lebih dari sebuah cameo melainkan sebuah “nyawa” dimana seluruh jiwanya untuk Spider-Man disalurkan. Tidak hanya itu, mid credit scenenya dijamin akan membuat fans semakin merasa kangen dengan Stan Lee dengan munculnya quote “That person who helps others simply because it should or must be done, and because it is the right thing to do, is indeed, without a doubt, a real superhero,” Jangan cepat-cepat keluar setelah mid-credit berakhir karena Post Credit Scenenya dijamin bakal membuat tertawa dengan hadirnya salah satu Spider-Man dari dimensi lain yang jika kalian sudah sering memainkan gamenya pasti kenal dengan sosok tersebut dan memancing argument dari footage animasi versi 1967nya yang juga sudah menjadi meme yang sering viral di Internet. Kocak !

Didedikasikan untuk Stan Lee dan menjadi sebuah “surga” bagi para fans, Spider-Man: Into The Spider-Verse adalah cara yang luar biasa bagi Sony Pictures untuk mengenalkan dimensi Spidey kepada penonton dengan fun dan seru.

5 dari 5

0 Shares

Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime and Tokusatsu Freak, Movie is my Passion