REVIEW: SLENDER MAN (2018): Sillyness On Horror Movies Still Goes On And On!

REVIEW: SLENDER MAN (2018): Sillyness On Horror Movies Still Goes On And On!

“It’s not enough by giving only something you love”- Wren

Berapa banyak diantara kita yang sering mendengar mitos-mitos aneh seputar dunia supranatural? Saya rasa kita sudah sering mendengar mitos tersebut. Keingintahuan dan rasa penasaran manusia terhadap mitos itu pun tentu menghasilkan tindakan yang sebenarnya sudah terlihat sangat “bodoh” yakni membuktikan kebenaran mitos tersebut dengan ritual untuk “memanggil”nya. Dasar manusia, sudah tentu ada konsekuensi yang harus diterima bagi mereka yang telah berurusan dengan mitos tersebut serta membuktikan kebenarannya tersebut,bukan?

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Slender Man ? sosok yang pertama kali muncul dari Creepypasta kemudian menjadi meme,diciptakan oleh user forum Something Awful bernama Eric Knudsen (Victor Surge) ini cukup menjadi pembicaraan diluar sana. Sosok berpostur kurus tak bermuka yang memiliki tentakel dari punggung serta memakai jas berwarna hitam ini memangsa anak-anak dan sering dikaitkan dengan kejadian anak-anak yang menghilang di Amerika. Puncaknya pada 2014 dimana ada sebuah usaha penikaman yang dilakukan oleh beberapa anak perempuan berusia 12 tahun di Waukesha, Wisconsin yang tujuannya membuat Slender Man senang. Melihat fenomena viralnya sosok ini, sutradara Sylvain White akhirnya mengangkat Slender Man menjadi sebuah film. Diproduksi oleh Sony Pictures, Slender Man menghadirkan Joey King,Julia Goldani Telles, Jaz Sinclair,Taylor Richardson,Annalise Basso, Alex Fitzalan, Kevin Chapman dan Javier Botet sebagai Slender Man.

Wren,Hallie, Chloe dan Katie Jensen adalah empat orang yang selalu melakukan hal apapun bersama-sama. Ketika mengetahui teman-teman sekolah prianya ingin melakukan ritual guna memanggil sosok Slender Man, keempat remaja ini mulai mencari tahu sosok tersebut dan melakukan ritual untuk memanggil Slender Man. Ketika Katie menghilang, Wren, Chloe dan Hallie menyadari bahwa menghilangnya Katie adalah ulah Slender Man tetapi tanpa mereka sadari,Slender Man menginginkan sesuatu dari mereka.

Apa yang diinginkan oleh Slender Man?

Bagaimana nasib Wren,Chloe dan Hallie selanjutnya?

REVIEW:

Kebanyakan film horror mengambil tema kejadian nyata ataupun sosok yang menjadi mitos dikalangan orang banyak. Itulah yang coba dilakukan oleh Sylvain White dalam “Slender Man”. Berdurasi 93 menit, White nampak tidak paham bagaimana mengeksekusi sebuah film horror yang menarik dan mampu membuat penonton terjaga ketegangannya. Naskah yang ditulis oleh David Burke seperti berantakan. Berantakan dalam arti cerita yang ditulisnya seperti mengambil pola film horror pada umumnya. Alurnya sendiri sudah terlihat dari awal bahwa ini adalah film horror dengan karakter remaja dengan kebodohan mereka.

Bahkan, cara menampilkan sosok Slender Man ini terbilang familiar sekali. Membuat suara-suara yang membuat telinga bergidik, memainkan lampu, sampai akhirnya sosok itu hadir dan mengejutkan penonton terasa biasa meski memang Javier Botet yang sudah dikenal sebagai Motion Capture Artist dalam “Mama” (2013) berhasil menghidupkan sosok Slender Man ke layar lebar. Sayangnya, akting para castnya terlihat biasa saja. Bahkan ekspresi keempat main cast seperti formula film horror pada umumnya. Musik/score yang digarap Ramin Djawadi dan Brandon Campbell bahkan tidak mampu menyelamatkan keseluruhan film.

Konklusi yang cukup membuat penonton mungkin akan berkata “That’s It?” makin menambah terjebaknya Slender Man dalam pola film horror pada umumnya. Kekonyolan para karakter utama yang dihantui sosok yang mereka undang akan berujung¬†yah, kalian tahu sendiri bagaimana pola film horror remaja kebanyakan,bukan?

Pada akhirnya, “Slender Man” hanya menjadi sebuah film yang mengambil pola film horror remaja kebanyakan dengan eksekusi terburu-buru serta konklusi yang cukup membuat penonton akan mengernyitkan dahinya juga merasa film ini akan sangat biasa meski tertolong dengan performa Javier Botet yang memang dalam setiap film horror yang Ia mainkan perannya sebagai sosok untuk menakut-nakuti selalu menampilkan ketakutan di wajah penonton seperti ketika menjadi The Crooked Man dalam The Conjuring 2.

3 dari 5


Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion