REVIEW: RED SPARROW (2018): A Spy Thriller That Sensual and Brutal At The Same Time!

REVIEW: RED SPARROW (2018): A Spy Thriller That Sensual and Brutal At The Same Time!

“You are better at this than any of us. Your only problem is you have a soul.”- General  Vladimir Andreievich Korchnoi

Ada tiga hal yang membuat pria bisa buta yakni harta, tahta dan wanita. Wanita yang dapat dikatakan sebagai aspek ketiga ini memang terbilang “mematikan”. Mematikan dalam arti rayuannya dan caranya mencari perhatian kita sebagai pria. Bahkan kita sebagai pria dibuat mabuk kepayang bahkan tergila-gila hanya dengan sebuah rayuan dan bisikan manja dari sang wanita. Namun bagaimana jika wanita menggunakan semuanya itu demi menjadi seorang mata-mata dan mengorek informasi dari kita para pria?

Berdasarkan novel berjudul sama yang dikarang mantan anggota CIA, Jason Matthews, inilah kolaborasi keempat dari sutradara Francis Lawrence dan Jennifer Lawrence setelah keduanya terlibat dalam produksi sekuel novel The Hunger Games yakni “The Hunger Games: Catching Fire” dilanjutkan “The Hunger Games:Mockingjay-Part 1” dan “The Hunger Games: Mockingjay-Part 2” yakni “Red Sparrow”. “Red Sparrow” turut menghadirkan cast lainnya seperti Joel Edgerton, Jeremy Irons, Mathias Schoenaerts,Charlotte Rampling,Mary Louise-Parker, Ciaran Hinds, Bill Camp, Hugh Quarshie, Sakina Jaffrey,Joely Richardson, Thekla Reuten, Douglas Hodge,Sasha Frolova, Kristof Konrad dan Sebastian Hulk.

Dominika Egorova adalah seorang balerina dari kota Bolshoi sampai sebuah kejadian menyebabkan karir baletnya terhenti untuk selamanya. Dominika yang harus merawat ibunya,Nina sekaligus menafkahi mereka berdua akhir meminta bantuan paman dari Dominika yang juga seorang Deputy Director dari SRV,Ivan Dimitrevich Egorov yang merekrutnya untuk menjalankan sebuah misi yang melibatkan politikus Rusia. Ketika misi tersebut tidak berjalan sesuai rencana, sang paman memberikan pilihan kepada Dominika yaitu mati atau menjadi “Sparrow” , bagian dari agen dimana para agennya harus bisa memanipulasi dan merayu targetnya dengan tubuh mereka. Sampai akhirnya, Dominika ditugaskan mengintai CIA Agent Nate Nash yang mengetahui mata mata di dalam pemerintahan Rusia.

Bagaimana misi Dominika kali ini?

Siapa mata-mata di dalam pemerintahan Rusia?

Apa yang terjadi selanjutnya diantara Nate dan Dominika?

REVIEW:

Francis Lawrence mengejutkan banyak khalayak dengan karya terbarunya ini. Bagaimana tidak, Mengadaptasi gaya ala film “Tinker Tailor Soldier Spy” yang juga bertemakan mata-mata, Lawrence memperlihatkan  keadaan dunia yang hanya bisa dimenangi lewat dominasi kekuasaan. Dengan menggunakan lensa berangle jauh, Lawrence juga memperlihatkan kepada penonton bahwa Dominika bukan hanya terperangkap oleh urusan pribadi yang menyangkut dirinya tetapi juga dunia dimana Ia berada adalah kandang yang menguncinya.

“Red Sparrow” seperti terobsesi dengan hal-hal yang mengacu pada kejahatan seksual. Meskipun Dominika dalam film memberi referensi “Sparrow School” yang didatanginya tidak lebih sebagai sekolah untuk para PSK, menurut kami kata yang tepat adalah “Rape School” atau sekolah untuk pemerkosa. Matron yang diperankan Charlotte Rampling benar-benar menunjukkan wibawanya sebagai “guru” dari Sparrow School yang memaksa Dominika tidak memiliki pilihan selain menuruti apa yang Matron inginkan.

Adegan brutal dan seksual difilm ini sangat -sangat eksplisit. Diharapkan penonton yang menonton sudah berusia diatas 21 tahun. Alur film ini  hingga pertengahan berjalan rapi tetapi sepertinya jelang akhir, permainan kucing dan tikus yang diperlihatkan sampai akhirnya menuju ke twist djelang akhir seperti mengarahkan Red Sparrow ke arah yang ambigu dan membuat penonton masih bertanya-tanya siapa yang sebenarnya dipermainkan dan diperdaya oleh Dominika dan hal ini agak kurang menarik dimata penonton.

Jennifer Lawrence kembali menunjukkan performanya yang gemilang sebagai Dominika Egorova. Ia mampu menunjukkan sisi lemah manusia terlihat dari emosi ditiap scene dan transformasinya menjadi Sparrow. Score dalam film ini juga cukup klasik dan tidak begitu menganggu.

Pada akhirnya, “Red Sparrow” bukanlah film dengan genre yang bisa diterima semua orang lewat kebrutalan dan eksplorasi seksualnya. Bukan sebuah film yang fun melainkan cukup “disturbing” namun tetap menarik untuk ditonton.

3,5 dari 5

 


Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion