REVIEW: Ready Player One (2018)

REVIEW: Ready Player One (2018)

Poster.jpg

Directed By: Steven Spielberg

Cast: Tye Sheridan, Olivia Cooke, Ben Mendhelson, Mark Rylance, Simon Pegg, Lena Waithe, Philip Zhao, Win Morisaki, Hannah John- Kamen

Synopsis:

Di masa depan, di mana teknologi Virtual Reality sudah menjadi barang sehari- hari, banyak manusia mencoba keluar dari realitas kehidupannya dan masuk ke dalam Oasis, sebuah dunia virtual di mana para pemain menjalani aktivitasnya dengan berperan sebagai Avatar yang dipilihnya. Layaknya sebuah video game, di dalam Oasis juga terdapat misi- misi yang bisa dipilih untuk mendapatkan koin. Koin tersebut bisa digunakan sebagai alat tukar di dunia Oasis, ataupun membeli keperluan permainan yang bisa dikirim ke dunia nyata.

Oasis diciptakan oleh duo James Halliday (Mark Rylance) dan Odgen Morrow (Simon Pegg). Ketika Halliday meninggal, dia memberikan misi bagi para pemain untuk menemukan 3 buah artefak yang menjadi petunjuk letak Easter Egg, di mana si penemu bisa mendapatkan hak dan seluruh saham Oasis, artinya dia bisa mempunyai kontrol penuh terhadap dunia yang menjadi pusat peradaban dunia pada saat itu.

5 tahun sejak meninggalnya Halliday, belum ada satupun yang berhasil mendapatkannya. Hingga akhirnya seorang pemain yang memiliki username Perzival (Tye Sheridan) bersama 4 temannya; Art3mis (Olivia Cooke), Aech (Lena Waithe), Daito (Win Morisaki), dan Sho (Philip Zao) berhasil menemukan satu per satu artefak tersebut. Untuk itu kelimanya dikejar oleh Sorrento (Ben Mendelsohn), direktur IOI, yang memiliki misi untuk menguasai Oasis.

Review:

1

Sekali lagi Steven Spielberg telah dengan sangat brilian berhasil menelurkan sebuah film yang (seperti film- filmnya yang lain) kelak akan mendapat predikat “film klasik” dan juga cult. Bagaimana tidak? Film ini memiliki paket lengkap dan menjadi sebuah love letter bagi budaya populer. Khususnya dari era tahun 1980 sampai 2010an. Tidak menutup kemungkinan film ini kelak juga akan menjadi referensi bagi mereka yang ingin mempelajari sejarah pop culutre di masa yang akan datang. Menyaksikan film ini sedikit mengingatkan kita saat menyaksikan film The Cabin in The Woods, yang memiliki banyak referensi karakter- karakter film horor. Tapi yang lebih mengasyikan dari film The Cabin in The Woods, jika pada film tersebut masih sangat jelas menemukan referensi budaya pop horor klasik, karena hanya muncul di scene- scene tertentu, di film ini Spielberg dengan cerdas menebar refernsi tersebut hampir di setiap scene sepanjang durasi. Sebagian sangat mudah dikenali, sebagian lagi bergerak sangat cepat dan (atau) diambil dari sudut yang sangat jauh. Jadi tidak cukup sekali menonton film ini untuk menemukan referensi- referensi tersebut.

2

Berbicara mengenai referensi budaya pop, yang menjadi salah satu daya jual film ini, sayangnya ada beberapa referensi yang muncul di novel, tapi karena masalah license jadi tidak bisa ditampilkan di versi filmnya. Namun hal ini tidak lantas kadar keasyikan film ini jadi meluntur. Karena seperti saya bilang tadi, nonton ratusan kali pun belum tentu bisa menemukan semua refernsi dan pesan tersembunyi. Karena cara Spielberg memunculkannya, bukan hanya berupa karakter atau kendaraan saja, kadang berupa meniru adegan atau hanya berupa insignia dan logo dari film lain. Uniknya lagi, Spielberg juga memasukkan trivia dari filmnya sendiri.

5

Bukan hanya sekedar memunculkan referensi atau cameo saja, naskah film ini layaknya sebuah permainan video game. Di mana ada beberapa orang yang bermain secara lurus memutar otak, ada juga yang membayar lebih untuk mendapatkan artefak yang sudah diambil gamer lain. Selain itu setting film yang mayoritas di The Oasis dan bagaimana para gamer lebih suka menghabiskan waktu di sana ketimbang di dunia nyata, dan hanya berhenti untuk kebutuhan inti seperti tidur, makan, dan buang air, seperti sindiran kepada gamer- gamer atau penghamba budaya populer yang lebih suka menghabiskan waktu dengan hobinya tersebut ketimbang pergi keluar bersosilasi dan menjalankan realitas hidup yang lebih nyata.

3

“Lantas kalau saya misal dulu sekolah kerjaannya cuma belajar, gak gaul, gak main game, gak nonton film, terus gak punya temen apakah bisa juga menikmati film ini?”

Masih bisa. Meski film ini memiliki titik kuat dalam menyelipkan tribute pop culture, namun dari segi cerita serta naskah juga tetap mengasyikan. Adegan laganya pun cukup seru. Dengan menyelipkan twist yang cukup berbobot, film ini bisa menutup kisahnya dengan sangat manis. Jadi bisa dikatakan film Ready Player One adalah sebuah sajian tribute bagi budaya populer, namun bisa dinikmati seluruh kalangan. Tidak salah jika saya menasbihkan film ini sebagai salah satu film terbaik Steven Spielberg, dan film terbaik tahun 2018… so far (dnf)

Rating:

9.5/10


Written by Daniel Effendie

I'm just a humble person who happens to love movies. And I love to share my thoughts around movies to others, such as reviews and any other articles. That what drived me to create my own movieblog.... http://themoviegoersblog.wordpress.com/