REVIEW: PEPPERMINT (2018): Comeback Jennifer Garner Dalam Genre Action Yang Tersia-siakan!

REVIEW: PEPPERMINT (2018): Comeback Jennifer Garner Dalam Genre Action Yang Tersia-siakan!

0 Shares

“I want justice!”-Riley North

Dizaman yang semakin pelik ini, masalah hukum merupakan satu aspek yang masih disorot. Bagaimana tidak, ada pihak yang melakukan kejahatan berat macam korupsi yang dikenai hukuman ringan sementara pihak yang mencuri ayam bisa dihakimi massa bahkan meregang nyawa. Atau yang paling buruk, hukuman penjara yang lebih berat daripada para pelaku tindak pidana korupsi. Ketika keadilan sudah tidak dapat diberikan oleh pihak berwajib, akankah kita mencari keadilan itu sendiri? Jika jawabannya adalah ya, bagaimana?

Terakhir bermain genre Action dalam adaptasi komik Marvel “Daredevil” pada 2003 dilanjutkan spin-offnya “Elektra” (2005), Jennifer Garner yang dikenal khalayak lewat serial ALIAS ini memutuskan kembali dalam genre film aksi setelah lebih banyak terlibat dalam film bergenre komedi dan drama keluarga yang berjudul “Peppermint”. Disutradarai oleh Pierre Morel yang melambungkan nama Liam Neeson sebagai icon film action dalam “Taken” (2007), Peppermint menghadirkan pula John Gallagher Jr., John Ortiz, Juan Pablo Raba, Annie Ilonzeh, Jeff Hephner, Cailey Fleming, Eddie Shin, Cliff ‘Method Man’ Smith, Tyson Ritter, Ian Casselberry,Richard Cabral, Johnny Ortiz, Michael Reventar, Kyla-Drew Simmons, Gustavo Quiroz, Pell James, John Boyd, Michael Mosley,Jeff Harlan, Chris Johnson, Caspar Brun dan Yaya Gosellin.

5 tahun yang lalu,Riley North tidak menyangka hari bahagia yang Ia rayakan bersama Chris,suaminya dan Carly, anak perempuannya harus berakhir dengan duka. Riley menjadi saksi penembakan anak dan suaminya setelah bersama-sama merayakan ulangtahun Carly. Kasus ini sendiri berakhir dengan dibebaskannya para terdakwa pelaku penembakan yang membuat Riley terpukul,menuntut keadilan atas apa yang menimpa dirinya. Dan kini, Riley North kembali dalam misi memberikan keadilan versi yang diinginkannya dari para pelaku penembakan anak dan suaminya. Hal itu tidak mudah, sebab kawanan ini dipimpin oleh Diego Garcia ,seorang kartel narkotik yang juga diam-diam menyusupkan mata-mata di dalam LAPD (Los Angeles Police Department).

Siapa mata-mata yang dikirim Garcia?

Bagaimana cara Riley memberikan keadilan yang Ia kehendaki kepada para pelaku yang telah menghabisi nyawa anak dan suaminya tersebut?

REVIEW:

Embel-embel “From the director of Taken” menjadi salah satu nilai jual dari Peppermint. Siapa yang tidak tahu film rilisan 2007 yang justru melejitkan nama Liam Neeson sebagai salah satu icon film aksi lewat perannya sebagai Bryan Mills? Harapan serupa diusung oleh Morel lewat sosok Jennifer Garner. Sayangnya, Peppermint seperti menyia-nyiakan Garner yang tampil badass sebagai Riley North. Bagaimana tidak, naskah yang ditulis oleh Chad St.John ini seperti tidak tau mau dibawa kemana arahnya. Awal film saja penonton sudah disuguhkan dengan prolog yang agak menganggu sekaligus membuat saya mengernyitkan dahi. Sebuah film yang baik harus mampu mengantar penonton masuk ke dalam cerita dengan memberikan prolog yang baik. Sayang, hal itu tidak nampak dalam Peppermint. Alurnya sendiri juga berantakan seperti terburu-buru. Entah apakah Morel yang ingin menonjolkan segi R-Rated Action Scenenya atau naskah yang ditulis oleh Chad St.John, yang jelas, Peppermint memberikan plothole yang sangat besar sehingga akan ada pertanyaan yang belum terjawab.

Dengan naskah sedemikian rupa tersebut, Peppermint bisa dibilang seperti ingin mengikuti jejak remake “Death Wish” namun dengan dosis steroid. Mengapa demikian? Adegan actionnya sendiri sangat vulgar mempertontonkan darah dimana-mana bahkan tidak terhitung berapa kali adegan headshot ada dalam Peppermint.  Oke, kami tahu bahwa rating film ini memang untuk 17+, tetapi dengan naskah yang sangat buruk tersebut, Peppermint seolah menjadi film kelas B yang menyuguhkan adegan aksi penuh eksploitasi darah.

Jennifer Garner nampaknya salah memilih film untuk comebacknya. Semoga dilain kesempatan, ada proyek film dengan genre serupa yang mampu memaksimalkan effort dari Garner tidak seperti Peppermint ini.

3 dari 5

 

 

 

0 Shares

Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion