REVIEW: MURDER ON THE ORIENT EXPRESS (2017): Logically Emotional And Provoking Twist From The Case!

REVIEW: MURDER ON THE ORIENT EXPRESS (2017): Logically Emotional And Provoking Twist From The Case!

“There was wrong, and there was right. Now there is you.””- Hercule Poirot

Ketika kita bicara soal logika dan manusia, satu hal yang pasti terbersit dalam pikiran kita adalah ketika kita melakukan sebuah tindakan yang sebenarnya tidak dapat kita lakukan karena hal tersebut sudah “salah” dalam pikiran kita tetapi tetap saja kita melakukannya. Dibalik itu semua tentu setiap kita pasti memiliki alasannya,bukan? Sama halnya dengan setiap tindak kriminal yang terjadi dalam realita. Pelaku pasti memiliki sesuatu yang membuatnya nekad melakukan hal tersebut.

Inilah remake dari adaptasi novel rilisan tahun 1934 yang paling banyak dibaca para pembaca dunia dari pengarang ternama Agatha Christie “Murder on The Orient Express” yang sudah difilmkan pada tahun 1974 dengan Albert Finney sebagai detektif Belgia, Hercule Poirot yang legendaris. Di tahun 2017 ini, Kenneth Branaghlah yang berperan sebagai sang detektif eksentrik Belgia,Hercule Poirot sekaligus menyutradarainya. Branagh mengumpulkan deretan cast papan atas yang notabene merupakan Academy Award Winner atau Academy Award Nominee sebut saja Johnny Depp, Dame Judi Dench, Willem Dafoe, Penelope Cruz, Michelle Pfeiffer bersama para cast lainnya seperti Daisy Ridley, Leslie Odom Jr., Tom Bates, Josh Gad, Marwan Kenzari,Olivia Colman, Lucy Boynton,Sergei Polunin, Manuel Garcia-Rulfo dan Derek Jacobi. Film ini sudah dirilis pada 10 November 2017 di Amerika.

Setelah memecahkan sebuah kasus pencurian yang bertempat di  Church of the Holy Sepulchre, Jerusalem, Detektif asal Belgia, Hercule Poirot ingin beristirahat di Istanbul namun panggilan kasus dari London, Inggris membuatnya tidak bisa lama-lama menikmati masa liburannya yang singkat tersebut. Poirot akhirnya menaiki Simplon Orient Express dengan bantuan temannya, Monsieur Buoc yang menjabat sebagai direktur kereta tersebut. Semula perjalanan berlangsung baik dan lancar sampai ketika kereta melewati daerah Vincovci, badai salju melanda dan menghentikan kereta tersebut. Keadaan lebih buruk ketika Edward Ratchett, seorang pebisnis muda yang “licik” ditemukan tewas dalam kompartemennya dengan luka tusukan beruntun pada pagi hari. Para penumpang lain yang ikut dalam perjalanan Orient Express pun terseret menjadi tersangkanya mulai dari Pilar Estravados, seorang perawat yang beralih menjadi seorang misionaris, Gerhard Hardman,seorang professor, Princess Dragomiroff dan pelayannya, Hildegarde Schmidt, Hector MacQueen, asisten atau sekretaris dari Ratchett,Edward Henry Masterman, pelayan dari Ratchett, Dr.Arbuthnot, Caroline Hubbard, seorang janda yang sudah tiga kali bercerai, Mary Debenham, seorang pengajar, pasangan bangsawan Count Rudolph Adrenyi dan Countess Helena Adrenyi,Biniamino Marquez yang merupakan seorang pebisnis bahkan Pierre Michel yang merupakan kondektur Orient Express turut dicurigai. Sampai akhirnya investigasi Poirot mengacu pada satu hal : semua orang yang ada di kereta tersebut memiliki kaitan dengan sebuah “tragedi”. Poirot harus bergerak cepat dan menangkap pembunuhnya sebelum Ia beraksi dan mencari korban lainnya.

Tragedi apa yang menghubungkan semua orang yang ada dalam Orient Express?

Siapa pelaku yang telah menghabisi nyawa Edward Ratchett dan apa motifnya?

REVIEW:

Berdurasi 114 menit, “Murder on The Orient Express” diawali dengan alur yang lambat namun sudah menarik perhatian penonton. Para penikmat cerita misteri dan detektif dijamin akan menikmati betul alur dan cerita yang disajikan dalam remakenya. Hal tersebut didukung oleh cinematographer Haris Zambarloukos yang mengambil gambar dengan sangat memukau terutama ketika Orient Express tengah berjalan. Tidak hanya itu, pengambilan gambar di dalam kereta seakan mengajak penonton ikut merasakan berada dalam kereta mewah tersebut.Penelusuran kasusnya sendiri cukup baik dan penuh dengan provokasi terutama dengan naskah yang ditulis oleh Michael Green. Dialog antar para tersangka yang penuh dengan provokasi seakan mengajak penonton menebak-nebak siapa pelakunya. Intrik demi intrik yang terjalin dari karakter akan menguatkan penonton untuk tetap terpaku pada layar dan mengikuti penyelidikan Poirot. Scene interogasi para tersangka juga cukup membuat penonton masuk merasakan apa yang dialami karakter tersebut. Masalah akting, Branagh yang berperan sebagai Hercule Poirot tahu betul bagaimana memperkenalkan sosok Poirot terhadap para penonton awam. Dengan karismanya, Branagh apik sekali dalam memerankan Poirot terlebih Poirot versinya cukup imbang dalam mengadakan kadar humor dari karakternya. Johnny Depp, meski ia memiliki durasi yang singkat, karakter Ratchett yang diperankannya sudah cukup membuat kesal penonton terutama dengan kemampuan Depp memainkan mimik wajahnya. Terlihat bengis namun tetap berkarisma. Michelle Pfeiffer sebagai Mrs.Hubbard. Satu yang patut diacungi jempol. Di usianya yang sudah menua, Pfeiffer masih mampu memperlihatkan kualitas akting yang mumpuni sebagai sang janda. Terlebih ketika Ia meluapkan emosinya dengan berkata-kata. Daisy Ridley , saya bisa bilang dia ini sosok yang misterius sebagai Mary Debenham. Tidak banyak berkata-kata namun bisa memainkan emosi penonton terutama ketika scenenya bersama Leslie Odom Jr. yang berperan sebagai Dr.Arbuthnot. Bahkan soerang Josh Gad yang dikenal dengan suara menggemaskannya sebagai Olaf dalam animasi Frozen pun menunjukkan akting yang melampaui batas. Gad juga meluapkan emosi kepada penonton lewat gerak mata dan tubuhnya ketika karakter Hector MacQueen yang diperankannya mulai merasa gelisah. Namun saya cukup menyayangkan soal Count Rudolph Adrenyi yang diperankan oleh Sergei Polunin. Karakternya hanya sebagai “pengacau” dengan emosi yang meluap-luap. Puncaknya, twist dari masing-masing penumpang menjadi kunci terungkapnya kasus ini. Dan meski ada sedikit perbedaan dari novelnya, tetap tidak menganggu keseruan penonton untuk ikut menerka si pelaku. Tidak hanya itu, Branagh juga turut memasukkan beberapa easter-egg yang direferensi dari franchise “Harry Potter”.

Namun kekurangan dari Polunin tersebut ditebus oleh naskah Green yang pada jelang akhir ketika moment resolusi atau penyelesaian yang akan membuat penonton akan merasa mempertanyakan apa yang terjadi setelah semua yang diselidiki Poirot merupakan batas logika dari manusia, salah atau benar dan mungkin juga akan merasa bersimpati terhadap apa yang terungkap. Scoring yang digarap oleh Patrick Doyle juga cukup menambah klasiknya aura 1934 dan tata busana,make up dari para tokoh di “Murder on The Orient Express” menjadikan film ini sangat memperhatikan teknik visual demi memanjakan para fans Agatha Christie. Satu hal yang patut dicatat adalah lagu “Never Forget”  yang terdengar di credit scene dimana Michelle Pfeifferlah yang menyanyikannya dengan lirik yang ditulis oleh Kenneth Branagh akan membuat penonton teringat ketika mereka kehilangan seseorang yang mereka cintai. Dan pada akhirnya, logika manusia terkadang tidak bisa diseimbangkan dengan tindakannya. Dan “Murder on The Orient Express” membuktikannya.

4,5/5


Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion