REVIEW: MASTER Z – THE IP MAN LEGACY (2018) : A Feast That Will Satisfy Martial Art Movie Lover With Its Fight Intensity!

REVIEW: MASTER Z – THE IP MAN LEGACY (2018) : A Feast That Will Satisfy Martial Art Movie Lover With Its Fight Intensity!

0 Shares

When you are in the place that you want, win or lose, you’ll never want to leave it“- Julia

Ketika kita memiliki hal yang pernah melekat pada diri kita sampai merasa bahwa kitalah yang paling mampu dalam hal tersebut, terkadang ada sebuah pelajaran hidup yang diperolah,bukan? Kesombongan, arogansi atas sikap kita yang merasa mampu itulah yang memberi kita pelajaran hidup. Namun, ada saatnya dimana kita merindukan hal tersebut ketika hidup kita berjalan normal layaknya masyarakat kebanyakan tetapi kita tidak mau mengakui bahwa dulunya kita unggul dalam hal tersebut. Akankah kita mau melakukan hal tersebut ketika keadaan tengah mendesak?

Sejak Donnie Yen mengemban peran sebagai Ip Man, franchise ini perlahan menjadi sangat besar terlebih dengan dipastikannya produksi Ip Man 4 dengan Yen sebagai sang guru Wing Chun. Meluasnya Ip Man Universe ini membuka banyak peluang untuk memberikan cerita baru seperti yang dilakukan oleh Yuen Woo-ping, action choreographer dari film-film seperti The Matrix, Drunken Master, Iron Monkey ,Kungfu Hustle dan Crouching Tiger, Hidden Dragon yang merangkap juga sebagai sutradara memutuskan untuk membuat spin-offnya “Master Z: The Ip Man Legacy”. Film ini sendiri mendapat nominasi dalam 55th Taipei Golden Horse Awards sebaagai “Best Fight Choreography” bahkan film ini terpilih sebagai Closing Movie The 23th Busan International Film Festival yang berakhir pada 12 Oktober 2018. Di China, Film ini sudah rilis 21 Desember 2018 dan untuk Indonesia, baru akan tayang di jaringan bioskop Cinema 21/XXI pada 1 Januari 2019. Max Zhang kembali dalam perannya sebagai Cheung Tin-chi dari Ip Man 3 bersama sederet cast besar lainnya mulai dari Dave Bautista, Michelle Yeoh, Tony Jaa, Chrissie Chau, Liu Yan, Patrick Tam, Kevin Cheng, Naason bersama Brian Thomas Turnell.

Bersetting China era 1970 dizaman kekuasaan Inggris Raya, setelah mengalami kekalahan dari Ip Man (Donnie Yen di ending Ip Man 3 (2015)), Cheung Tin-chi memutuskan meninggalkan Wing Chun dan lebih memilih hidup normal bersama anaknya, Fung dengan memiliki toko kelontong. Sayang, kehidupannya tersebut berubah pasca pertemuannya dengan Julia (Liu Yan) dan sahabatnya, Nana (Chrissie Chau) yang membuat konflik dengan ketua geng Cheung Lok, Tso Sai Kit (Kevin Cheng) yang akhirnya membuat nasib Cheung juga anaknya berubah. Julia yang merupakan adik dari Chiu Kam Fu (Naason), pemilik bar bernama Gold Bar yang terkenal di distrik Wan Chai menawarkan tempat tinggal. Namun, api sudah dikobarkan dan ketika Cheung mengetahui ada peredaran heroin di distrik tersebut yang memakan korban, Ia harus kembali mencari jati dirinya dan menemukan kembali Wing Chun yang dulu Ia kuasai karena Owen Davidson, pemilik restoran bergaya Eropa mulai mengetahui pergerakannya. Masalah bertambah ketika Tso Ngan Kwan (Yeoh) yang merupakan kakak dari Kit dan Boss dari Cheung Lok juga terlibat dalam masalah tersebut.

Siapa yang sebenarnya mengedarkan heroin di distrik Wan Chai?

Akankah Cheung Tin-chi kembali menemukan jati diri dan Wing Chun yang dulu Ia banggakan?

Apa kaitan Owen Davidson dengan segala permasalahan yang menimpa Cheung Tin-chi?

REVIEW:

Yuen Woo-ping menyajikan sebuah sajian untuk melepas dahaga para pecinta film bertema Martial Art. Berdurasi 107 menit, Master Z: The Ip Man Legacy yang diproduseri oleh Donnie Yen ini memulai semuanya dengan cepat dan tidak rumit untuk diikuti. Pengenalan Cheung Tin-chi yang disertai flashback dari Ip Man 3 (2015) membuat penonton bisa sedikit mengikuti apa yang dilakukan Cheung Tin-chi di masa lalunya tersebut. Max Zhang dalam peran besar pertamanya benar-benar memberikan sebuah performa akting yang dingin sekaligus laga yang cepat. Kecepatannya menjadi sebuah keunggulan yang dimaksimalkan oleh Ping bersama action choreographer Yuen Shun-yi yang menyajikan adegan laga ala film-film laga Hongkong di era 60-70an dimana banyak property dirusak. Zhang juga menampilkan akting yang baik sebagai seorang ayah.

Michelle Yeoh diusianya yang ke 56 tahun masih lihai memainkan pedang. Yeoh yang memerankan Tso Sai Kwan, sosok pemimpin Cheung Lok Group ini tampil prima terutama di adegan laga yang tidak memberikan jeda untuk penonton menahan nafas saking cepat dan bertenaganya adegan laga yang dilakoni Yeoh tersebut. Benar-benar luwes gerakannya. Liu Yan yang berperan sebagai Julia juga menampilkan sedikit adegan laga yang menarik di awal film. Kevin Cheng sebagai Kit benar-benar memberikan watak seorang adik yang merasa bahwa dirinya lebih mampu mengelola bisnis dari geng Cheung Lok dan temperamental menjadikannya seorang antagonis yang layak untuk dihajar.

Tony Jaa disini juga menampilkan adegan laga dengan Zhang yang stylish, penuh kecepatan dan permainan cinematography yang memukau. Jaa, yang berperan sebagai seorang pembunuh bayaran bernama Tony ini lebih banyak “diam” namun mematikan. Chrissie Chau layak diberi kredit. Aktingnya sebagai Nana menggambarkan betapa wanita tidak dihargai di zaman tersebut sampai mudah terhasut oleh obat-obatan terlarang. Naskah yang ditulis oleh Edmond Wong kembali menunjukkan praktek korupsi yang merajalela dizaman tersebut dengan penuh intrik dan mudah diprediksi selanjutnya oleh penonton. Dave Bautista sebagai Owen Davidson pun tidak kalah dalam fight scenenya dengan Zhang. Keuletannya benar-benar menjadikannya lawan sepadan untuk Tin-chi yang bertubuh kecil darinya. Jangan beranjak dari kursi karena ada mid-credit scene yang sayang dilewatkan.

“Master Z: The Ip Man Legacy” adalah sebuah sajian kelas atas yang digarap oleh sineas paling berpengaruh di perfilman Hongkong yang dijamin akan memuaskan dahaga kalian para pecinta film Martial Art.

4 dari 5

 

0 Shares

Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime and Tokusatsu Freak, Movie is my Passion