REVIEW: MARLINA THE MURDERER IN FOUR ACTS (2017): A Wild Journey That Lift Issue About Woman In Present Time

REVIEW: MARLINA THE MURDERER IN FOUR ACTS (2017): A Wild Journey That Lift Issue About Woman In Present Time

“Saya tidak merasa berdosa”- Marlina

Perempuan. Kaum yang selalu saja mendapat perlakuan semena-mena dari para lelaki. Terlebih di zaman sekarang dimana kehormatan, harga diri mereka seakan tidak menjadi sesuatu yang harus mereka jaga betul-betul. Tidak heran di zaman sekarang kita sering mendengar banyaknya tindak kriminal yang mengincar nyawa perempuan yang memang sebagian besar adalah sasaran empuk bagi para pelaku kriminal. Kesadaran kaum hawa harus ditingkatkan lagi agar mereka tidak dianggap “rendahan”, “murahan” atau kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan kepada mereka. Semua dimulai dari diri mereka sendiri apakah mau untuk bertindak demi menjaga kehormatan mereka atau justru merasa tidak akan terjadi apa-apa jika para wanita menemui diri mereka dalam sebuah tindak kriminal.

Memulai World Premierenya dalam feature “Quanzaine Directors Fortnight” 2017 Cannes Film Festival lalu diputar dalam Toronto International Film Festival, Sitges International Fantastic Film Festival of Catalonia dimana Marsha Timothy mendapatkan predikat “Best Actress“, The 36th Vancouver International Film Festival, Melbourne International Film Festival, mendapat predikat sebagai “Best Film For Asia Next Wave Category” dalam Quezon City International Film Festival,Manila,Phillipine hingga ke Busan International Film Festival bahkan menjadi Special Presentation dalam 12th Jogja – NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada 7 November 2017 bertempat di CGV Hartono Mall,Yogyakarta, Akhirnya film “Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak” atau “Marlina: The Murderer in Four Acts” siap untuk ditayangkan di bioskop-bioskop tanah air. Disutradarai oleh Mouly Surya dengan ide cerita yang ditulis oleh Garin Nugroho, para cast yang terlibat dalam film Indonesia pertama yang mendapat dukungan subsidi bergengsi dari dua kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Perancis lewat L’Aide aux Cinemas du Monde, pusat sinema Centre National du Cinéma et de L’image animée, INSTITUT FRANÇAIS dan NEXT MASTERS SUPPORT PROGRAM ini antara lain Marsha Timothy, Egi Fedly, Yoga Pratama, Dea Panendra,Rita Matu Mona, Yayu Unru,Anggun Priambodo,Ayez Kassar,Safira Ahmad, Indra Birowo, Ozzol Ramdan, Haydar Salishz dan Norman R.Akyuwen. Film ini diproduksi kerjasama antara Cinesurya, Kaninga Pictures, Shasha & Co Production, Astro Shaw, HOOQ Originals dan Purin Pictures.

Marlina adalah seorang janda berusia 35 tahun yang hidup sendiri bersama mumi dari suaminya dan tinggal di sebuah rumah di atas bukit di pedalaman Sumba. Suatu hari, Ia kedatangan Markus, pria yang akan merampas semua yang ia miliki dan tidak tanggung-tanggung, Ia memanggil tujuh orang lagi untuk memperkosa Marlina. Malamnya, Marlina melakukan sebuah tindakan yang “berani”, memenggal kepala Markus ketika hendak diperkosa. Merasa bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi, Marlina melakukan perjalanan jauh untuk mencari keadilan, kekuatan sekaligus pengampunan dosa. Di perjalanan, Marlina berjumpa dengan Novi yang tengah hamil. Novi sendiri mengalami kesulitan karena usia kandungannya sudah 10 bulan tetapi sang buah hati tidak kunjung lahir. Selain itu, Franz, anak buah favorit Markus mulai mengejar Marlina dan meminta kepala Markus dikembalikan untuk dimakamkan sesuai adat Sumba. Namun tanpa Marlina sadari, arwah dari Markus “mengikutinya” sehingga Marlina mulai diliputi rasa bersalah.

Bagaimana akhir perjalanan Marlina?

Apakah Franz berhasil mengejar Marlina?

Bagaimana nasib Novi? Dapatkah Ia melahirkan buah hatinya dengan selamat?

REVIEW:

Berdurasi hanya 1 jam 30 menit, “Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak” sesuai judulnya terbagi menjadi empat bagian. Ide cerita yang digarap Garin Nugroho sendiri terbilang cukup “sensitif” yakni tentang perempuan. Isu-isu tentang perempuan masa kini sangat terasa dalam alurnya bahkan penulis seperti tengah menyaksikan sebuah film bertema “Western” namun dengan kearifan lokal. Bagaimana tidak, scoring dan musik yang digubah oleh Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani membawa penonton seperti berada dalam sebuah film koboi. Belum lagi DoP Yunus Pasolang yang sangat ciamik memperlihatkan view dari Sumba yang memanjakan mata. Tidak ada satu detil pun yang terlewat oleh Yunus Pasolang. Marsha Timothy yang memerankan Marlina tanpa emosi berhasil menarik penonton untuk masuk ke dalam cerita. Marlina yang pendiam namun memiliki emosi ini cukup menjadi perwakilan dari kaum perempuan masa kini. Tidak hanya itu, film ini juga mengangkat apa yang terjadi di pedalaman Sumba dan itu adalah fakta. Dua cast lain yakni Yoga Pratama sebagai Franz dan Dea Panendra sebagai Novi juga tampil sangat baik. Dea Panendra mampu memunculkan humor “dark” yang memancing tawa penonton yang dibarengi dengan chemistrynya bersama Marsha Timothy. Di beberapa scene, komedi yang ditampilkan cukup menyentil keadaan kaum perempuan di masa sekarang ini sehingga terlihat betapa “powerful”nya film ini.

Powerful, berani mengangkat isu yang sensitif dan secara visual sangat memukau mata , “Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak” juga didukung oleh OST “Lazuardi” yang bergenre sedikit western namun easy-listening. “Lazuardi” sendiri ditulis lirik dan dinyanyikan oleh Cholil Mahmud (vokalis Efek Rumah Kaca) dengan Giovanni Rahmadeva dari Polka Wars di posisi drum,Riko Prayitno (Mocca) diposisi gitar dan Ricika Iwukaska di posisi terompet. “Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak” adalah “Satay Western” , sebuah genre baru dalam perfilman Indonesia. Nikmati perjalanan Marlina dengan score ala film-film western yang digarap Ennio Morricone ,tema balas dendam namun tetap tidak melupakan akar budaya dan geopolitik Indonesia ini mulai 16 November 2017 di bioskop. (Ketika review ini ditulis,penulis masih terbayang sosok Marlina yang “anti-western”. Bagaimana bisa seorang wanita dengan santainya menenteng-nenteng kepala kemana ia pergi?)

4,5/5

 


Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion