REVIEW: GOOSEBUMPS 2: HAUNTED HALLOWEEN (2018): A Sequel That Lacks Everything Even Jack Black Can’t Save It!

REVIEW: GOOSEBUMPS 2: HAUNTED HALLOWEEN (2018): A Sequel That Lacks Everything Even Jack Black Can’t Save It!

0 Shares

It takes a genius to know genius“- Slappy

Tradisi yang selalu diperingati setiap akhir Oktober adalah Halloween. Selain merupakan ajang pesta kostum siapa yang paling menyeramkan, Halloween di Amerika sendiri merupakan tradisi tahunan dimana anak-anak berkunjung ke rumah demi rumah dengan membawa keranjang bertemakan Halloween dan meminta manisan atau permen sambil berteriak “Treat or Treat!”. Tetapi bagaimana jika hari paling menyenangkan tersebut berubah menjadi teror dan menjadi nyata?

Film pertama Goosebumps yang dirilis pada 2015 berhasil mendapat review positif dan juga menunjukkan performa yang baik di Box Office chart sehingga Sony Pictures memberi lampu hijau untuk menggarap sekuelnya. Sekuelnya sendiri rilis pada tahun ini berjudul “Goosebumps 2: Haunted Halloween” yang kali ini merombak seluruh cast juga sutradaranya. Rob Letterman yang menyutradarai film pertamanya diganti dengan Ari Sandel sementara cast film pertamanya mulai dari Odeya Rush, Dylan Minette dan Ryan Lee digantikan oleh Jeremy Ray Taylor, Caleel Harris dan Madison Iseman. Jack Black masih menjadi voice-cast Slappy juga sang novelis,R.L.Stine (meski tidak tercantum dalam credit jajaran cast,red.)

Kota Wardenclyffe tengah bersiap untuk Halloween. Sonny Quinn, seorang anak kutu buku yang sangat menggemari hal-hal berbau elektrisitas tengah mengerjakan proyek Tesla Towernya sedangkan sang kakak,Sarah tengah mengerjakan essay demi masuk Columbia University. Sahabat Sonny, Sam Carter memiliki bisnis sampingan “Junk Brothers” dimana Sonny dan Sam akan membersihkan rumah-rumah dan mengambil sampah. Ketika tiba di sebuah rumah tua, mereka berdua tanpa sengaja membuka sebuah buku yang ternyata melepaskan Slappy The Dummy. Awalnya ,semua berjalan lancar sampai Slappy membuat kekacauan di malam Halloween dengan membuat Halloween menjadi nyata. Sarah, Sam dan Sonny juga harus menghentikan ulah Slappy yang ternyata merupakan bentuk balas dendam dengan motif tersendiri.

Apa sebenarnya yang diinginkan Slappy dengan ulahnya tersebut?

Berhasilkah Sonny,Sarah dan Sam menghentikan ulah Slappy?

REVIEW:

Film pertama “Goosebumps” berhasil karena keberanian penulis naskahnya mengambil plot dari salah satu cerita dalam novelnya yakni “The Ghost Next Door” dan eksekusi final scene melawan Slappy dan pasukannya. Tetapi, Ari Sandel sebagai pengganti Letterman tidak mampu mengulang hal yang sama dalam “Goosebumps 2: Haunted Halloween”. Memilih mengambil cerita orisinil, duo penulis naskah film ini yaitu Rob Lieber dan Darren Lemke seperti kehabisan akal. Alurnya sendiri terbilang sangat cepat. First act tentang pengenalan ketiga main character sudah cukup baik terutama dengan munculnya geng pembully yang dipimpin oleh Tommy Madigan (Peyton Wich). Tetapi pada second actnya, naskah ini terlihat kacau terutama dari motivasi balas dendam Slappy yang membuat Halloween menjadi nyata. Sangat konyol sekali. Tidak hanya itu, naskahnya juga memperlihatkan kekonyolan dari Sonny dan Sam yang secara on screen memang memperlihatkan chemistry layaknya seorang sahabat tetapi tindakan mereka berdualah yang menjadi pusat. Madison Iseman yang memerankan Sarah sedikit mengobati tetapi “Goosebumps 2: Haunted Halloween” ini seperti perpaduan Ghostbusters dan Hocus Pocus. Tidak menyeramkan terlebih tidak diperlukannya jumpscare yang membuat kaget penonton.

Dua sosok yang terbilang menjadi penyelamat dari kacaunya “Goosebumps 2: Haunted Halloween” ini adalah Wendy McLendon-Coven sebagai Kathy Quinn, ibu dari Sonny dan Sarah. Coven menampilkan naluri keibuannya dengan baik bahkan ekspresinya terlihat seperti Ia tahu bahwa Ia berada dalam sebuah situasi yang “nyata”. Satu sosok lain adalah Ken Jeong sebagai tetanggan mereka yang bernama Mr.Chu. Meskipun perannya tidak mendapat banyak dialog, kehadiran Jeong memberi sedikit keseruan terlebih dengan bagaimana tokoh ini membantu ketiga main character. Tidak hanya itu, Jeong terlihat seperti orang dewasa dengan jiwa anak kecil yang excited dengan keadaan.

Dominic Lewis yang menggarap score music nya sendiri juga tidak begitu membantu membangun tiap scene agar audience merasakan apa yang dilihat mereka. Berbeda dari Danny Elfman dalam film pertamanya. “Goosebumps 2: Haunted Halloween” juga memperlihatkan satu sindiran terhadap sosok Stine yang direferensikan sebagai “Stephen King-nya literatur anak-anak” juga menyindir studio lain dengan menampilkan balon merah. (Kalian tentu tau film apa yang disindir,bukan?). Sang novelis sendiri juga hadir sebagai cameo.

Kehadiran Jack Black sekalipun tidak¬† mampu menyelamatkan “Goosebumps 2: Haunted Halloween” dari kekacauan yang ada. Sekuel ini memang tidak lebih baik dari yang pertama dan masih bisa dinikmati oleh kalangan awam yang tidak mengikuti atau membaca novelnya. Tetapi bagi penonton yang merupakan fans berat serta membaca setiap cerita novel Goosebumps seperti saya, mereka pasti akan melihat bahwa “Goosebumps 2: Haunted Halloween” menjadi sebuah penurunan dari film pertamanya. Jadi, jangan terlalu banyak berharap pada sekuelnya. Meskipun di akhir film akan ada kemungkinan franchise novel laris R.L.Stine ini bisa dilanjutkan, saya berharap tidak ada film ketiga melihat kekacauan di sekuel ini.

3 dari 5

0 Shares

Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime and Tokusatsu Freak, Movie is my Passion