REVIEW: DUNKIRK (2017)

REVIEW: DUNKIRK (2017)

Sutradara: Christopher Nolan

Pemeran: Fionn Whitehead, Aneurin Barnard, Tom Hardy, Harry Styles, Cillian Murphy

Genre: Drama

Premis: Proses evakuasi 400.000 pasukan Inggris dan Prancis dari kepungan tentara Jerman saat Perang Dunia 2.

Review:

Kalau film perang itu bagaikan Hollywood Walk of Fame, maka Christopher Nolan sudah mengabadikan cetakan tangan dan kakinya di sana. Ya, bisa dibilang “Dunkirk” membuat Nolan berdiri sejajar dengan sutradara-sutradara film besar seperti Francis Ford Coppola (Apocalypse Now), Stanley Kubrick (Full Metal Jacket), Quentin Tarantino (Inglourious Basterds) dan Steven Spielberg (Saving Private Ryan) yang film-film perangnya telah menjadi penanda jamannya masing-masing.

Buat yang ngikutin film-film Nolan pasti hafal dengan gaya bertutur filmnya. Alur yang lambat dan cerita yang berlayer-layer kayak kue lapis. Gaya itu pun masih sangat terasa di film terbarunya ini. Namun pujian lebih sepertinya harus diberikan kepada divisi suara dan editing gambar. Saya yang kebetulan dapat kesempatan nonton di IMAX, merasakan kemegahan suaranya. Bayangin, selama hampir sepanjang film, kursi saya bergetar karena suara-suara yang “tampil” di dalam mau pun di luar layar. Sementara divisi editing berhasil merangkai sekian banyak shot hingga membuat alur cerita yang sederhana ini menjadi luar biasa epik.

Hal menarik lainnya adalah pemilihan pemain dalam film ini. Ok kita tahu, ada Harry Styles, Tom Hardy, tapi mereka nothing di film ini! Hahaha. Ini menariknya, pemilihan pemeran utama yang memang bukan nama besar membuat film ini terlihat lebih real. Coba bayangkan kalau 2 nama besar yang saya sebut sebelumnya jadi pemeran utamanya. Bukan tidak mungkin film ini menjadi bias dan hanya akan jadi bahan becandaan para penonton, terutama kritikus. Jenius!

Secara keseluruhan, saya menikmati film ini. Mungkin ini film paling ringan yang pernah ditangani Nolan, meski pun dalam sebuah wawancaranya, Nolan mengaku kalau ini adalah film bergenre eksperimental pertama yang pernah dia buat. Saya juga gak tahu kenapa doski ngomong gitu. Bukannya hampir semua filmnya nyerempet eksperimental ya? Hahaha.

Buat kamu para penggemar film Nolan, saya bisa bilang ini film terbaik Nolan. Ya, lebih dari Inception atau Interstellar. Percaya deh. Gak juga gak apa-apa sih. Tapi kalau kamu gak ikutin film-film Nolan, ada baiknya sebelum nonton “Dunkirk”, kamu nonton film-filmnya Nolan dulu. Setidaknya suka deh sama salah satu dari trilogi film Batman-nya. Bukan apa-apa, tapi biar kamu bisa merasakan esensi dari film dengan gaya Nolan itu sendiri *tsah!

Saran saya, untuk lebih bisa menikmati dan merasakan sensasi dari film ini, kamu lebih baik nonton via IMAX atau studio bioskop yang menyediakan layar super besar lainnya. (gtr)

9/10


Written by Getar Jagatraya

storyteller | coffee sipper | story hunter | PROCRASTINATER