REVIEW: DREADOUT (2019): A Good Way To Expand The Universe From Local Hits Video Games!

REVIEW: DREADOUT (2019): A Good Way To Expand The Universe From Local Hits Video Games!

“Lo Linda,kan? kelas 11?”-Erik

Banyak hal yang dilakukan seseorang untuk mencari popularitas atau sebuah sensasi semata. Mulai dari pergi ke tempat angker dan melakukan uji nyali, melakukan hal yang belum pernah orang lakukan dan masih banyak lagi. Fenomena zaman sekarang adalah ditengah gairah remaja, mereka pasti ingin lebih,lebih dan lebih termasuk mencari follower untuk media sosial mereka. Bagaimana jika niat mereka tersebut berubah menjadi petaka sekaligus ajang bertahan hidup?

Siapa yang tidak tahu video game Indonesia yang telah mendunia dan dikenal secara Internasional “DreadOut”? Video game yang dikembangkan oleh developer game asal Bandung, Digital Happiness tersebut menjadi game untuk konsol PC (Personal Computer) untuk sistem Windows, Linux dan Mac OS X. Game ini sendiri diedarkan lewat STEAM pada 15 Mei 2014, telah memiliki sekuelnya “DreadOut: Keepers of The Dark” (2016) dan banyak Youtube Gamer memainkannya termasuk Pewdiepie. Goodhouse.ID bekerjasama dengan CJ Entertainment, Nimpuna Sinema, Skymedia dan Lyto memutuskan untuk mengadaptasi video game ini ke dalam layar lebar. “DreadOut” disutradarai, ditulis dan diproduseri oleh Kimo Stamboel yang sudah tidak asing bagi para penikmat film lokal. Kimo merupakan pasangan Timo Tjahjanto yang melahirkan julukan “The Mo Brother”. “DreadOut” menghadirkan cast-cast seperti Caitlin Halderman, Jefri Nichol, Ciccio Manassero, Susan Sameh, Muhamad Riza Irsyadillah,Cathy Natafitria Fakandi, Mike Lucock, Hannah al Rashid, Salvita Decorte, Miller Khan dan Rima Melati Adams sebagai Si Kebaya Merah.

“DreadOut” mengambil latar cerita sebelum kejadian dalam gamenya. Menceritakan sekelompok siswa SMA yang terdiri dari Linda,Erik, Alex, Dian, Beni dan Jessica yang berharap mendapat popularitas di media sosial. Mereka memutuskan pergi ke sebuah apartment kosong di malam hari untuk melakukan live di sana. Namun, Linda tanpa sengaja membuka sebuah portal misterius dan membangunkan iblis yang dapat menyeret mereka ke dalam neraka.

REVIEW:

Berdurasi 95 menit, merupakan sebuah tantangan besar bagi Kimo Stamboel sebagai sutradara sekaligus penulis. Pasalnya, film yang menggunakan embel-embel “based on” harus memiliki atmosfir yang sama dengan sourcenya. “DreadOut” sendiri demikian karena banyak fans sekaligus gamer yang sudah memainkan gamenya mengharapkan apa yang mereka sudah mainkan dapat dirasakan ketika menonton filmnya. Untunglah, Kimo berhasil mengimplementasikan element-element dari gamenya mulai dari Pocong Warrior dan tentunya, Hantu Kebaya Merah dan Putih juga bagaimana Linda menghadapi teror para Hantu dengan menggunakan handphonenya tersebut. Dialog yang tumpang-tindih atau interaksi para remaja ini tidak perlu dipermasalahkan sebab setting yang sudah diterapkan di dalam gamenya yakni Anak SMA dan lagi, mereka masih penuh rasa ingin tahu,bukan?

Caitlin Halderman yang memerankan Linda berhasil menampilkan sosok seorang remaja SMA yang pendiam, penuh rasa takut seperti yang terlihat dalam gamenya. Kehadiran Erik yang diperankan oleh Jefri Nichol dimana Ia harus berdialog ala Sunda gaul sedikit membuat tawa terutama interaksinya dengan Alex yang merupakan pembuat onar, diperankan oleh Ciccio Manassero. Kelucuan semakin diperlihatkan dengan adanya karakter Kang Heri, penjaga apartment kosong yang diperankan oleh Mike Lucock. Untuk sosok Hantu Kebaya Merahnya, Rima Melati Adams mampu menebar terror kepada Linda dan kawan-kawannya. Marsha Aruan layak diacungi kredit selain berperan centil sebagai Jessica yang narsistik, scene kerasukannya juga cukup membuat terkejut. Kimo juga tidak lupa tetap mempertahankan kultur budaya Sunda seperti yang terdapat di dalam gamenya,lho.

Adegan aksi dan horrornya dijamin akan memanjakan kalian para fans game DreadOut terutama dengan beberapa scene yang mengambil sudut pandang POV (Point of View) dari Linda seakan mengajak kembali gamer untuk merasakan kembali kengerian ketika mereka memainkan DreadOut. Sound yang digarap Fajar Yuskemal-Aria Prayogi juga menghidupkan tiap “jumpscare” dalam DreadOut. Jangan beranjak dari kursi sebab ada dua mid-credit scene yang akan membuka peluang untuk sebuah sekuel.

Menjadi sebuah jembatan untuk memperluas semestanya dengan tidak melupakan element-element yang terdapat dalam gamenya, “DreadOut” menjadi sebuah sajian horror action yang fun namun tetap menegangkan.

4 dari 5


Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion