REVIEW : CHRISYE (2017): A Devoted and Emotional Side Story From One of Indonesian Music Legend That Really Intimate For All of His Fans!

REVIEW : CHRISYE (2017): A Devoted and Emotional Side Story From One of Indonesian Music Legend That Really Intimate For All of His Fans!

“Saya ingin lagu ini bicara tentang Tuhan”-Chrisye

Every legend have their own story. Pepatah tersebut berlaku bagi setiap pesohor yang sudah membuat karya-karya yang membuat fans dapat mengenang perjalanannya. Hiruk-pikuk di balik panggung mungkin jauh dari pikiran para fans seperti kita,bukan? Tahukah jika mereka,para idola kita berpikir keras bagaimana bisa membuat kita,para fansnya senang meskipun pada kenyataannya ada beberapa nama yang selalu menjadi cibiran kita entah karena karya,atau sikapnya?

Hendra Chrismansyah Rahadi. Banyak orang tidak mengetahui nama tersebut. Namun jika kita bicara Chrisye, nama tersebutlah yang selalu dikenang para fans. Salah satu legenda musik Indonesia yang memiliki karakter suara unik ini sudah membuat banyak karya berupa lagu-lagu yang sampai sekarang tak lekang dimakan oleh zaman sebut saja seperti “Aku Cinta Dia” (dinyanyikan kembali oleh Gita Gutawa pada 2009, 2016 dinyanyikan kembali oleh Vidi Aldiano,red) yang merupakan album terlarisnya, “Pergilah Kasih” yang kembali dinyanyikan oleh D’Masiv,”Kisah Cintaku” yang juga dinyanyikan kembali oleh Peterpan (sekarang NOAH,red) dan juga “Galih & Ratna” yang merupakan OST dari sekuel “Puspa Indah Taman Hati” yang filmnya dirilis pada 2017 dengan Gamaliel,Audrey,Cantika/GAC kembali menyanyikan lagu tersebut dan masih banyak karya-karya almarhum yang terus dinyanyikan penyanyi lain. Namun tidak ada satupun dari kita yang mengetahui sisi lain dibalik sang legenda musik tersebut selain ketenaran,popularitasnya sebelum akhirnya pada 30 Maret 2007, Chrisye dipanggil sang Pencipta setelah berjuang melawan kanker paru-paru yang dialaminya selama bertahun- tahun. MNC Pictures – Vito Global Visi pun merilis film yang menceritakan sisi lain dari Chrisye bertajuk “Chrisye” dengan sutradara Rizal Mantovani, ide cerita dari istri almarhum,Gusti Firoza Damayanti Noor dengan naskah yang ditulis oleh Alim Sudio. Para cast yang terlibat dalam “Chrisye” diantaranya Vino G.Bastian, Velove Vexia, Ray Sahetapy,Ayu Dyah Pasha, Verdi Solaiman,Dwi Sasono, Teuku Rifnu Wikana,Ali Mensan, Irsyadillah, Arick Ardiansyah, Robby Tremonti,Hetty Rekoprodjo,Peter Taslim, Cholidi Asadil Alam,Andi Arsyil Rahman,Fuad Idris, Fendy Chow,Neni Anggraeni,Tria “Changcutters”, salah satu anak dari Chrisye, Pasha Chrismansyah dan kembali cameo dari Ronny P.Tjandra.

Terlahir dengan nama Hendra Christian Rahadi, karir Chrisye dimulai ketika Ia mengisi posisi bassist dalam grup Gypsy yang dibangunnya bersama Gauri Nasution,tetangga sebelah rumahnya. Di pesta ulang tahun Vera, salah satu teman dari Yanti, Chrisye mulai merasakan getar-getar cinta terhadap sosok Yanti. Tidak hanya itu, Ia pun mulai mantap menseriusi jalannya sebagai seorang musisi meski mendapat pertentangan dari keluarganya, terutama sang ayah yang keras. “Chrisye” memperlihatkan sisi lain dari seorang legenda musik Indonesia yang berasal dari perspektif sang istri, Damayanti Noor sebagai musisi,ayah,suami,sahabat,adik sekaligus kakak.

REVIEW:

Sebelum saya mulai review ini, saya ingin mengingatkan sekali lagi, Chrisye bukanlah sebuah biopik. sekali lagi, BUKAN BIOPIK. Ini adalah sekelumit dari apa yang telah dicapai oleh Chrisye, perjuangannya sebagai seorang suami sampai akhirnya mendapatkan ujian ketika salah satu lagunya yang diakuinya dalam biografinya yang ditulis Alberthiene Endah berjudul “Chrisye: Sebuah Memoar Musikal” membuatnya “merinding”. Baik,kita mulai review. Berdurasi 110 menit, “Chrisye” diarahkan oleh Rizal Mantovani dengan sangat baik. Pergeseran dari tiap scene seakan sangat mulus dan mengajak penonton terutama fans Chrisye menjadi lebih dekat mengenal sosok sang legenda musik Indonesia. Penggunaan CGI dalam film ini dirasa tidak begitu menghambat terbukti dari editan halus yang dilihat saat pemandangan menyorot Bundaran H.I pada tahun 1970an. Tidak hanya itu, tata busana yang disiapkan oleh Gemailla Gea Geriantiana (Night Bus) berhasil menyesuaikan setting tiga era dalam film ini yakni 70,80 dan 90an. Ia bahkan juga tahu apa yang tengah menjadi trend pada zaman tersebut. Naskah yang ditulis oleh Alim Sudio berhasil membuat penonton ikut masuk dan terikat secara emosional dengan sosok Chrisye terbukti beberapa scene cukup membuat air mata menetes. (Saya meneteskan air mata dua kali,red.)

Vino G.Bastian. Ketika saya tahu dialah yang memerankan Chrisye, Saya sempat merasa pesimis apakah sosok Chrisye dapat diperankan dengan baik olehnya demi para fans Chrisye. Dan ketika Ia muncul di layar, Saya tidak melihat adanya Vino lagi. Yang ada hanya Chrisye. Mulai dari cara bicaranya, cara bergerak, berjalan, bernyanyinya yang kaku apalagi ketika melakukan “Dansa Patah-Patah” ketika tampil di Aneka Ria Safari TVRi yang populer diera 1980an. Terlihat dari seorang Chrisye yang seorang pesohor terkenal, Ia tidak mempedulikan betapa terkenalnya Ia dan Ia hanya memikirkan paras fans. Bahkan ketika adegan puncak saat mulai merekam lagu yang membuatnya “merinding” tersebut, terlihat bagaimana dengan jelas sosok Chrisye yang rapuh dan merasa kosong. Begitupun denga Velove Vexia yang memerankan sosok Gusti Firoza Damayanti Noor,istri dari Chrisye. Tidak ada lagi Velove di layar, hanya Mbak Yanti yang saya lihat dan chemistry mereka benar-benar patut mendapat acungan jempol. Cast lain pun bermain cemerlang mulai dari Andi Arsyil yang memerankan sosok Erwin Gutawa dengan luwesnya Ia mampu memerankan sang komposer, pendatang baru Irsyadillah sebagai Addie MS juga baik sekali,Robby Tremonti yang luar biasa sebagai Jay Subiakto lengkap dengan sikapnya yang agak tengil, Verdi Solaiman sebagai Aciu Widjaja, pimpinan Musica Studios kala itu benar-benar mencuri perhatian terutama dengan sikap ambisius yang diperlihatkannya. Dwi Sasono yang muncul sekilas pun tetap membuat penonton tertawa saking miripnya dengan Guruh Soekarno Putra. Ray Sahetapy yang terbiasa memerankan watak keras pun tidak main-main sebagai ayah Chrisye dalam perannya kali ini. Bahkan anak dari Chrisye, Pasha Chrismansyah pun meski tidak banyak waktu di layar tetap memberikan akting yang memuaskan untuk pertama kalinya dalam berakting Fauzi Baadillah sukses berperan sebagai Imran Amir,Boss dari Radio Prambors juga berhasil menyerupai cara bersikap dari Imran yang suka menekuk lutut dan duduk bersender meja. Banyak momen lucu dalam film Chrisye yang memancing tawa penonton dan juga momen mengharukan yang membuat penonton terharu. Film “Chrisye” benar-benar memainkan emosi penonton ditambah dengan scoring dan tata musik dari Aghi Narottama-Bemby Gusti yang menyelipkan score salah satu lagu ciptaan Chrisye yang dinyanyikan Vina Panduwinata “Cinta”. Penonton pun diajak untuk ikut bernyanyi lewat tembang-tembang seperti “Lilin-Lilin Kecil”, “Sendiri”, “Aku Cinta Dia”.

Namun, film ini bukan tentang bagaimana populernya Chrisye atau hingar-bingar tentang aksinya di atas panggung, tetapi bagaimana penonton diajak untuk melihat bagaimana sosok idola mereka menghadapi ego, masa lalu dan prasangka buruk yang selalu menghantuinya ketika berkarya untuk musik Indonesia. Film ini ditutup dengan sebuah quote dari Chrisye dan juga rekaman suara asli Chrisye ketika hadir di konser “For Chrisye From Friends” atau “Untuk Chrisye Dari Sahabat”,September 2005 yang juga ditayangkan live di salah satu televisi swasta. Chrisye memang telah tiada, namun lewat film ini, kita diajak untuk melihat sosok sang legenda musik Indonesia dari sudut pandang sang istri tercinta dan juga semangatnya yang ingin terus berkarya demi kemajuan musik tanah air.

4,5 dari 5


Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion