REVIEW: BOHEMIAN RHAPSODY (2018): The Other Side Of Freddie Mercury That Emotionally Intense Yet Bring The Nostalgia To All Queen Fans!

REVIEW: BOHEMIAN RHAPSODY (2018): The Other Side Of Freddie Mercury That Emotionally Intense Yet Bring The Nostalgia To All Queen Fans!

“Roger, there’s only room in this band for one hysterical queen.”- Freddie Mercury.

Banyak musisi yang tidak meraih ketenaran secara instant. Siapapun mereka pasti memiliki latar belakang yang berbeda-beda entah bukan penduduk asli negara yang mereka tempati sampai ketika mereka meraih kesuksesan dan ketenaran tersebut, masih banyak hal yang dapat menghambat mereka. Ketika waktu mereka tidak banyak lagi, yang dapat mereka lakukan adalah tetap berkarya menciptakan musik dan lagu-lagu yang akan menjadi kenangan abadi sampai pada generasi selanjutnya.

Siapa yang tidak mengenal band legendaris QUEEN? Band beranggotakan Freddie Mercury, Brian May, Roger Taylor dan John Deacon yang dibentuk pada 1970 ini merupakan salah satu band yang lagu-lagunya masih tetap abadi hingga pada zaman millenial sekarang ini. Sebut saja hits-hits mereka seperti “We Will Rock You” dan “We Are The Champions”. Sosok sang vokalis sendiri selain flamboyan di panggung menyimpan sisi gelap yang kemudian menjadi sebuah kontroversi kala itu. Cerita tersebutlah yang coba dibangkitkan kembali oleh sutradara Bryan Singer lewat “Bohemian Rhapsody” yang menghadirkan cast-cast seperti Rami Malek, Gwilym Lee, Ben Hardy, Joseph Mazello, Lucy Boynton, Aiden Gillen, Tom Hollander, Allen Leech, Aaron McCusker, Dermot Murphy, Meneka Das, Ace Bhatti, Dickie Beau, Michelle Duncan, Max Stern, dan Mike Myers. Film ini baru akan rilis di Amerika pada 2 November 2018 sementara untuk Indonesia akan rilis pada 31 Oktober 2018.

1970, Heathrow Airport. Farroukh Bulsara, seorang remaja yang sedang bertugas menghandle barang-barang penumpang yang akan naik ke bandara tidak menyangka pertemuannya dengan Brian May dan Roger Taylor setelah pertunjukan mereka di bar akan membuat Farroukh dikenal sebagai seorang legenda musik, vokalis flamboyan nan karismatik Freddie Mercury. Setelah pertemuan tersebut, bersama John Deacon , lahirlah QUEEN. Namun banyak halangan yang harus dihadapi oleh QUEEN mulai dari ditolaknya “Bohemian Rhapsody” karena durasinya yang panjang sampai krisis identitas seksual Freddie. Semua itu akan mengarah kepada satu pertunjukan besar yang pernah ada , Live Aid di Wembley Stadium pada tahun 1985. Ini adalah cerita tentang seorang Freddie Mercury.

REVIEW:

Mungkin banyak yang mengernyitkan dahi ketika mengetahui sosok Freddie Mercury diperankan oleh Rami Malek. Postur fisiknya yang kurang tepat menjadi kendala dimata orang-orang yang tahu betul karakteristik fisik seorang Freddie Mercury. Bryan Singer memberikan sebuah kisah penuh emosional dari salah satu legenda musik yang berpengaruh kedepannya. Naskah yang ditulis oleh Anthony McCarten dan Peter Morgan mengeksplorasi kebangkitan sebuah band dan bagaimana sosok Mercury menghadapi masalah dalam dirinya ditengah bandnya tersebut mulai naik popularitas. Perlu diketahui, Bryan Singer sudah menyelesaikan 90% proses filmingnya sebelum digantikan oleh Dexter Fletcher. Rami Malek benar-benar tampil layaknya Freddie Mercury. Malek mematahkan anggapan banyak khalayak bahwa Ia tidak akan bisa semirip Mercury. Nyatanya, gerakan ketika dipanggung, flamboyan dan karisma seorang Freddie Mercury ada dalam diri Malek. Malek meyakinkan penonton bahwa Freddie Mercury is “alive” once more on the screen. Dan ketika singing sequencenya hadir, usut punya usut, suara Malek digabungkan dengan Freddie Mercury dan juga Marc Martel yang memiliki karakter suara seperti Freddie Mercury jadi ya, ada 3 suara yang akan kalian dengar ketika Malek bernyanyi. Lucy Boynton yang memerankan sosok Mary Austin tampil anggun.

Konflik antara sesama anggota bandnya sangat instens dan terasa “real” oleh penampilan Gwilym Lee, Ben Hardy dan Joseph Mazello. Bersama Malek, mereka menciptakan sebuah chemistry yang menyatu sebagai member band QUEEN. Hardy juga mencairkan suasana beberapa kali lewat celotehnya yang mengundang tawa. Ketika tengah paruh film menyorot bagaimana Freddie menghadapi identitas seksualnya sampai kenyataan bahwa sisa waktunya tidak banyak lagi, Malek benar-benar memperlihatkan kegelisahan lewat mimik dan raut wajahnya bahwa Freddie yang diperankannya adalah seorang musisi yang terkenal di luar tetapi “kosong” di dalam hatinya.

Penonton juga akan diajak melihat bagaimana hits-hits legendaris Queen lahir seperti “Bohemian Rhapsody”, “Love of My Life” dan “We Will Rock You” . Khusus Bohemian Rhapsody, penonton terutama fans QUEEN akan dimanjakan dengan sedikit footage dari video klip aslinya.  Final sequence di Wembley Stadium dijamin akan membuat siapapun ingin sing along dengan Queen. “Bohemian Rhapsody” sangat disarankan untuk disaksikan dalam Dolby Atmos untuk kalian yang ingin merasakan berada ditengah-tengah para penonton yang bersorak menyambut tampilnya Queen.

Jangan biarkan hal sekecil apapun menghambat potensimu. Freddie Mercury sudah membuktikannya meski Ia “kalah” oleh penyakit AIDS yang dideritanya. Jangan melihat bagaimana negatifnya sosok Freddie tetapi lihatlah sosok Freddie sebagai salah satu musisi terbaik yang pernah dimiliki dunia lewat kepiawaiannya menulis lirik lagu dan bagaimana karismatiknya Ia menerima tiap teriakan, sorakan dari penonton. Sebuah sisi lain sang vokalis yang dikemas emosional sekaligus membangkitkan nostalgia kepada para fans Queen. Dan ya, Malek layak mendapat nominasi Academy Awards sebagai “Best Actor”.

Jangan lewatkan sekelebat info di akhir film yang ditutup dengan video klip “Don’t Stop Me Now”.

4 dari 5


Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion