REVIEW : BLADE RUNNER 2049 (2017): A Perfect Follow-Up That Have Same Quality As The Original One

REVIEW : BLADE RUNNER 2049 (2017): A Perfect Follow-Up That Have Same Quality As The Original One

“Die with right cause is the most human thing we can do”- Freysa

Jika kita bicara mengenai masa depan, pikiran kita pasti langsung mengarah kepada hal-hal yang berbau futuristik dimana semua serba canggih dan kendaraan keren yang didesain secara aerodinamis seperti yang biasa kita lihat dalam film-film Hollywood bergenre science-fiction. Namun masa depan tidak cuma sekedar hal-hal futuristik yang sudah disebutkan diatas. Masa depan juga bisa menyangkut “nasib” kaum manusia ditengah perubahan zaman dan tahun. Lantas, bagaimana reaksi kita mengetahui kaum manusia mulai diganti dengan android berwujud manusia ?

“Blade Runner” yang pada tahun rilisnya 1982 mampu membuat penonton terpana bahkan menyebut film ini merupakan yang terbaik pada masanya dimana CGI belum digunakan akhirnya resmi dilanjutkan dalam sekuelnya bertajuk “Blade Runner 2049”. Ridley Scott yang menyutradarai film pertamanya kini menjabat sebagai executive producer dan Denis Vileneuve dipercaya untuk menyutradarai sekuel ini. Menghadirkan Ryan Gosling, Ana de Armas, Robin Wright, Sylvia Hoeks, Mackenzie Davis,Jared Leto, Lennie James, Barkhad Abdi,Edward James Olmos,Dave Bautista,Harrison Ford dan Sean Young yang membintangi film pertamanya.

Setelah Tyrell Indutries bangkrut, seorang pebisnis bernama Niander Wallace membeli perusahaan tersebut yang berganti nama menjadi Wallace Industries yang membuat Replicant (human-android) jenis Nexus 8 yang lebih menuruti perintah manusia. Meski begitu, masih ada pula Replicant yang memberontak sehingga Blade Runner pun masih dikerahkan. K adalah petugas dari LAPD yang bertugas untuk memensiunkan mereka semua. Ketika sedang bertugas, penemuan yang ditemukan K di ladang milik Sapper Morton menjadi sebuah konflik. Pasalnya, penemuan tersebut dapat memicu kekacauan antara kaum manusia dan juga kaum Replicant. Dalam penyelidikannya, tanpa diduga nama Rick Deckard, mantan Blade Runner yang sudah menghilang selama 30 tahun dikaitkan. Tidak hanya itu, K juga menemukan keping demi keping puzzle terkait masa lalunya. Namun hal tersebut tidaklah mudah sebab Wallace melalui anak buahnya, Luv siap menghentikan K dari penyelidikannya.

Apa yang sebenarnya ditemukan K di ladang milik Sapper Morton ?

Apa kaitan antara Rick Deckard dengan penemuan yang ditemukan K ?

Mampukah K menyelesaikan penyelidikannya? Apakah Ia mampu mengetahui masa lalunya ?

REVIEW :

Sebelum memulai review ini, kami mengingatkan bahwa Warner Bros.Pictures merilis prekuel dari “Blade Runner 2049” dalam bentuk tiga short movie  yakni “Black Out 2022” yang berformat anime, “2036: Nexus Dawn” dan “2048: Nowhere to Run” yang mengulas lebih pribadi tentang sosok Sapper Morton. Ada baiknya sebelum menonton, kalian menyaksikan ketiga short movie tersebut agar lebih dapat mencerna isi cerita dalam “Blade Runner 2049”. Denis Vileneuve,Sutradara yang dikenal suka membuat penonton terperangah karena jago membuat twist dalam film-filmnya sebut saja “Prisoners” ini kembali membuat penonton terperangah dengan memaksimalkan visual effect dan CGI yang memukau juga membuat twist. Roger Deakins yang menjadi Cinematographer pun menyajikan angle kamera yang sangat stunning. Deakins memperlihatkan suasana Los Angeles yang futuristik sampai Dystopia Las Vegas yang semuanya terlihat sangat memanjakan mata terutama visualisasi show yang menampilkan penyanyi Elvis Presley dan Marilyn Monroe. Ide cerita yang ditulis oleh Hampton Fancher sendiri tidak hanya membuat “Blade Runner 2049” sebagai sekuel tetapi juga memperluas jangkauan cerita dari film pertamanya dengan ide baru dan cerita yang berdiri sendiri. Disamping itu, bagi yang sudah menyaksikan film pertamanya akan merasakan ikatan emosional dalam “Blade Runner 2049”.

Setelah membahas dari sisi visual dan cerita sekarang kita beralih kepada akting para castnya. Dimulai dari Ryan Gosling sebagai “K”. Gosling memerankan sosok petugas LAPD ini dengan sangat baik. Ia mampu memainkan emosi penonton lewat ekspresi wajahnya. K yang tangguh namun didalam dirinya merasa rapuh berhasil diperankan oleh Gosling. Lalu ada Harrison Ford yang kembali berperan sebagai Rick Deckard. Secara scene, Ford tidak begitu banyak tampil. Namun chemistrynya bersama Goslinglah yang mampu menumbuhkan rasa mendalam dan emosional bagi penonton film pertamanya (benang merah,red). Ana de Armas tampil sebagai pemanis dalam sosok Joi yang diperankannya. Joi yang seorang A.I mampu diperankan de Armas dengan baik. Kredit paling layak disematkan kepada Sylvia Hoeks sebagai Luv, anak buah Wallace. Hoeks mampu menjadi sosok tak terduga yang membuat penonton menyukai sekaligus merasakan nafsu membunuh yang tidak terbendung. Tidak hanya itu, Hoeks juga menampilkan fight scene yang dramatis dengan Ryan Gosling dan mampu menjadi sosok antagonis yang cukup vital. Karena alur “Blade Runner 2049” terbilang sangat lambat, scoring yang digarap oleh Hans Zimmer bersama Benjamin Wallfisch terbilang cukup mengikuti alur di tiap scenenya.

Pada akhirnya, “Blade Runner 2049” menjadi sebuah “follow-up” yang menyamai film pertamanya. Menyajikan visual effect dan CGI yang memanjakan mata serta memberi ikatan emosi kepada penonton film pertamanya, “Blade Runner 2049” yang berdurasi 164 menit ini bisa dikatakan sekuel dari film lawas yang mengikuti kesempurnaan pendahulunya dan layak menjadi “salah satu sekuel terbaik sepanjang masa”.

4.5/5

 


Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion