REVIEW: ALITA: BATTLE ANGEL (2019): Hollywood’s Redemption After Failing In Making Movie Based on Japanese Manga That Flawless yet Entertaining!

REVIEW: ALITA: BATTLE ANGEL (2019): Hollywood’s Redemption After Failing In Making Movie Based on Japanese Manga That Flawless yet Entertaining!

I do not standby in the presence of evil“- Alita

Identitas adalah sesuatu yang berharga. Nama dan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal tersebut tentu sangat berdampak pada kehidupan manusia, tanpa terkecuali makhluk yang memiliki wujud seperti manusia seperti cyborg. Mencari jati diri sambil bertanya-tanya asal-usul mereka kepada orang yang menemukan mereka akan jadi sebuah hal yang pasti ditanyakan. Namun bagaimana jika ternyata Ia memiliki misi untuk mengubah dunia yang kini menjadi tempat tinggalnya?

Setelah gagal memuaskan para fansnya lewat Dragonball : Evolution (2009) yang bisa dibilang ” adaptasi manga paling buruk dari Hollywood sepanjang masa”, 20th Century Fox kembali memproduksi adaptasi layar lebar dari manga Jepang yang kali ini bertema sci-fi dengan lingkungan cyberpunk “Alita: Battle Angel”. Manganya sendiri dikarang oleh Yukito Kishiro dan naskahnya ditulis oleh James Cameron bersama Laeta Kalogridis. “Alita: Battle Angel” menghadirkan Rosa Salazar, Christoph Waltz, Mahershala Ali, Jennifer Connelly, Ed Skrein, Keean Johnson, Eiza Gonzalez,Lana Condor, Jorge Lendeborg.Jr, Michelle Rodriguez, Idara Victor, Leonard Wu,Marko Zaror, Elle LaMont dan Jackie Earle Haley. Ini adalah proyek kolaborasi produser James Cameron dan sutradara Robert Rodriguez. Di Indonesia, film ini akan tayang pada hari Imlek, 5 Februari 2019 sementara Amerika akan dirilis saat Valentine’s Day, 14 Februari 2019.

Tahun 2563, 300 tahun setelah “The Fall”, seorang dokter yang juga berprofesi sebagai tukang reparasi cyborg bernama Dyson Ido menemukan sebongkah cyborg di tempat rongsokan di luar Iron City. Ido membangun kembali tubuhnya dan menamainya dengan Alita. Alita yang tersadar menyadari dirinya tidak mempunyai ingatan apapun. Alita pun mulai menjelajahi Iron City dan bertemu dengan Hugo,seorang pemuda yang mengajarkannya Motorball, sebuah permainan ala Gladiator yang cukup terkenal di kota tersebut. Sampai pada suatu malam ketika Alita mengetahui apa pekerjaan lain dari Ido, Ia diserang oleh seorang Cyborg bernama Nysianna dan Grewishka. Ido terkejut melihat aksi Alita yang sanggup menghadapi keduanya. Namun , hal tersebut semakin menyeret Alita dan Ido dengan seorang Cyborg lain bernama Zapan, Hunter-Warrior bersenjatakan Damascus Blade. Tidak hanya itu, ada pula Vector yang memiliki rencana terhadap Alita.

Bagaimana hubungan Alita dan Hugo selanjutnya?

Apa pekerjaan lain dari Ido?

Siapa sebenarnya Alita?

REVIEW:

Berdurasi 122 menit, Robert Rodriguez menyajikan sebuah adaptasi manga yang sangat baik terutama dengan kejelian dan visi dari seorang James Cameron. Cameron, yang berfokus pada empat jilid manga/ komik dari Alita: Battle Angel ini menulis naskahnya dengan tetap memasukkan sumber atau source utamanya bersama Laeta Kalogridis terlihat dari beberapa adegan ikonik dari komiknya tersebut yang ditambah dengan alur cerita yang cukup membawa penonton merasakan perasaan dari Alita itu sendiri. Karena film ini menggunakan teknik CGI, tentu tidak boleh main-main. WETA Workshop yang menggarap CGInya berhasil menyajikan adegan demi adegan terutama adegan pertarungan Alita dengan Grewishka yang cukup membuat penonton merasakan efek dari pop-upnya di dalam format 3D. Tidak hanya itu, performa Rosa Salazar yang menjadi Alita dengan menggunakan teknik “mo-cap” atau motion capture benar-benar membuat dirinya bebas berekspresi sebagai Alita yang masih remaja, penuh rasa ingin tahu dan selau peka denga situasi. Para villain Cyborgnya juga cukup meresahkan terlebih Grewishka yang diperankan Jackie Earle Haley yang sangat pas dengan wajahnya yang temperamental. Sayangnya, Eiza Gonzalez seperti tidak mendapat waktu tampil yang kurang banyak terlebih sosoknya sebagai Nysianna sudah cukup “menyeramkan” sebagai seorang Cyborg pembunuh. Mahershala Ali, nominee Academy Awards dalam “Green Book” ini kembali mencuri perhatian dengan aktingnya sebagai Vector yang dingin tetapi ambisius dan penuh akal licik.

Christoph Waltz yang berperan sebagai Dr.Dyson Ido juga tampil baik apalagi ketika dirinya beradu akting dengan Salazar. Terlihat sebuah hubungan antara “ayah” dan anak yang begitu dicintainya terrsebut. Ed Skrein sebagai Zapan masih tampil menyebalkan dan makin menajamkan tapaknya sebagai pemeran villain yang selalu sukses mencuri perhatian. Keean Johnson sebagai Hugo, pemuda yang menjadi sahabat Alita ini juga tampil baik terlebih dengan bagaimana Johnson mengekspresikan kegelisahan dari Hugo yang menyimpan “rahasia” dari Alita. Jorge Lendeborg Jr., yang tampil sebagai Tanji sedikit melakukan jokes terkait apa yang ditemui dari perannya dalam film “Bumblebee”. Lana Condor sebagai Koyomi meski mendapat sedikit waktu tampil tetap manis. Visual Effect dari “Alita: Battle Angel” benar-benar memanjakan mata terlebih ketika adegan Motorball yang harus disaksikan dalam IMAX 3D. Kalian akan merasakan 26% gambar yang lebih penuh dari layar biasa serta pop-up scene yang maksimal saat Alita bertarung.

“Alita: Battle Angel” adalah penebusan dosa dari Hollywood yang dulu telah mengacau dengan Dragonball: Evolution. Kolaborasi Robert Rodriguez dan visi dari James Cameron menjadikan adaptasi manga karangan Yukito Kishiro ini sangat wajib disaksikan dalam layar sebesar mungkin (IMAX minimal).

4,5 dari 5


Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime and Tokusatsu Freak, Movie is my Passion