REVIEW : A TAXI DRIVER (2017): An Unforgettable Journey Filled With Politics and Humanity Issue

REVIEW : A TAXI DRIVER (2017): An Unforgettable Journey Filled With Politics and Humanity Issue

“Hopefully, all my misfortunes change to fortune today”-Kim Man-seob

Profesi yang dapat dibilang dipandang sebelah mata adalah supir Taxi. Bagaimana tidak, zaman sekarang ini dengam semakin berkembangnya teknologi, Taxi mulai digeser oleh macam macam transportasi online. Menajdi seorang supir taxi bukanlah perkara mudah. Harus sanggup menempuh jarak yang jauh bahkan jika perlu mengambil resiko ketika berada dalam sebuah kesulitan yang memaksa penumpangnya untuk segera cepat -cepat,bukan? Lantas bagaimana jika mereka berharap hari mereka lancar tetapi apa yang menunggu mereka adalah hal yang tidak dapat dilupakan ?

Inilah film yang mencuri perhatian para penikmat K-Movie bahkan mampu mengimbangi hype dari “The Battleship Island” yang bertabur bintang-bintang Korea papan atas, “A Taxi Driver”. Film ini sendiri merupakan pilihan Korea Selatan untuk ajang Academy Awards sebagai seleksi nominasi “Best Foreign Language Movie” yang tercatat sudah mencapai angka 12,182,716 penonton saat saya menulis review ini. Film ini dirilis di Korea pada 2 Agustus 2017. Disutradarai oleh Jang Hun, “A Taxi Driver” diangkat dari kisah nyata yang terjadi ketika “Gwangju Uprising” atau “Gerakan Demokrasi Gwangju” yang terjadi pada 18-27 Mei 1980 dimana para warga kota tersebut menentang pemerintahan presiden Chun Doo-hwan. Peristiwa tersebut diabadikan dalam bentuk arsip berjudul “1980 Archives for the May 18th Democratic Uprising against Military Regime” yang berlokasi di hall kota Gwangju yang kemudian diresmikan UNESCO pada 2011. Menghadirkan Song Kang-ho, Thomas Kretschmann, Yoo Hae-jin, Ryu Jun-yeol,Park Hyuk-kwon,Choi Gi-hwa,Um Tae-goo,Jeon Hye-jin,Ko Chang-seok, Yoo Eun-mi. Film ini merupakan kolaborasi kedua Kang-ho dengan Jung-Hun setelah “The Secret Reunion” (2010)

Kim Man-Seob adalah seorang supir taxi berstatus single parents yang tinggal bersama anak perempuannya yang berumur 11 tahun, Kim Eun-Jeung setelah istrinya meninggal karena sakit ketika Kim berada di Arab Saudi. Terlilit masalah keuangan untuk membayar biaya kontrak rumah mereka, Kim memutuskan untuk mengambil kesempatan ketika seorang jurnalis asal Jerman yang datang dari Jepang bernama Jurgen Hanzpeter memintanya untuk diantar ke daerah Gwangju. Awalnya semua perjalanan ini lancar, tetapi Kim Man Seob tidak mengetahui bahwa perjalanannya mengantar Jurgen Hanzpeter akan menjadi sebuah perjalanan yang tidak akan pernah diduganya.

Apa yang ditemui Kim Man-Seob dan Peter di Gwangju ?

Akankah mereka berdua sanggup keluar dari kota Gwangju dan kembali ke Seoul dengan selamat?

REVIEW:

Berdurasi 137 menit, sutradara Jung Hun menyajikan sebuah kisah nyata yang berbalut politik ironis dimana isu kemanusiaan menjadi titik didih emosi para penonton. Naskah yang ditulis Uhm Yoo-Na dan Jo Seul-Ye mampu membuat penonton tak berkedip dan mengikutip perjalanan Kim Man-Seob dan Jurgen Hanzpeter/Peter. Sekilas, awal saya menyaksikannya, saya seperti sedang melihat sebuah road movie yang dibalut dengan dokumentasi. Cinematography yang memukau disajikan Ko Nak-Sun membuat penonton menahan ngeri ketika kamera berjalan lambat menyoroti senjata yang ditembakkan para tentara, darah bermuncratan dari para korban dan ketika kamera menyoroti para korban tembakan dengan penuh luka dan darah dimana-mana, disitulah emosi penonton ikut dimainkan. Tidak ada manusia yang sanggup menahan ngeri melihat banyaknya jenazah orang-orang yang menginginkan keadilan ditembak, bahkan sampai mati dipukuli oleh pihak militer. Akting para cast juga cukup baik. Song Kang-ho memerankan sosok Kim Man-Seob yang kurang lebih diadaptasi berdasarkan Kim Sa- Bok yang sayangnya sudah tiada 4 tahun setelah tragedi Gwangju. Kang-Ho memerankan sosok ayah sekaligus supir taxi yang sangat berdedikasi dengan pekerjaannya. Konflik yang menyelimutinya pun cukup baik dan pelik dimana sebuah keputusan “gila” harus diambilnya demi apa yang diinginkan oleh Man Seob. Thomas Kretschmann yang kita kenal sebagai “Baron Wolfgang Von Strucker” dalam “Captain America: The Winter Soldier” dan “Avengers: Age of Ultron” pun tampil dengan baik sebagai sang jurnalis. Tekad yang teguh , berani ambil resiko demi mendapatkan bahan berita yang merupakan jiwa seorang reporter sejati berhasil diinterpretasikannya dengan baik. Dua cast pendukung yakni Ryu Jun-yeol sebagai Gu Jae-Sik dan Yoo Hae-jin sebagai Hwang Tae-sool mencairkan suasana dengan celotehan dan komedinya bersama dengan Kang-ho.

Finally…

“A Taxi Driver” memperlihatkan bahwa siapapun bisa menjadi “pahlawan”. Jiwa teguh, dedikasi tinggi dan keberanian untuk mengambil resiko adalah kuncinya. Melihat tragedi Gwangju tentu akan mengingatkan kita akan tragedi kerusuhan Mei 1998 dengan pola yang sama, meminta presiden turun.Saya juga menemukan kesamaan dimana Chun Doo-hwan berasal dari latar belakang militer dan Alm. Soeharto juga dari latar belakang yang sama. Tragedi memang pilu, tetapi FAKTA harus diungkap. Jangan biarkan kita menderita sendirian. Jika kita tidak bertindak, apakah yang akan terjadi di kemudian hari ? jatuhnya banyak korban ketidakadilan. Secara segi politik yang terlihat dalam film ini, kata “Komunis” nampaknya menjadi bumbu yang sangat mudah memecah-belah sebuah negara. Bukan mau menjual isu,Ini adalah pendapat saya. Dan saya sangat berharap “A Taxi Driver” mampu lolos seleksi akhir dan menjadi salah satu nominee bahkan meraih “Best Foreign Language Films” di Academy Awards ke 90 yang berlangsung pada 4 Maret 2018. Let the world feel what happened in Gwangju,Spring 1980 from the eyes of journalist and a Taxi Driver that will bring everyone to cry. An Honor for Jurgen Hanzpeter.

5/5


Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion