REVIEW: A MAN CALLED AHOK (2018): A Biopic That Flows Naturally Shows The Relation Between Father And Son!

REVIEW: A MAN CALLED AHOK (2018): A Biopic That Flows Naturally Shows The Relation Between Father And Son!

0 Shares

Aku tidak takut kalah. Aku takut kalau aku salah“- Basuki Tjahaja Purnama/ Ahok

Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Mereka tentu sudah memikirkan segala sesuatu untuk anak-anaknya di masa yang akan datang tanpa terkecuali, membentuk karakter sang anak dengan didikan dan ajaran dari sang orang tua. Ada pepatah yang berkata “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” bukan? Pasti banyak diantara kita yang memiliki kesamaan sifat dengan orang tua kita. Tetapi dalam perjalanan pembentukan karakter itu, seringkali kita menentang orangtua kita dan merasa bahwa kita memiliki pilihan yang lebih baik sehingga acapkali hubungan kita menjadi dingin. Namun, bagaimanapun juga, orang tua adalah sosok yang menjadi penutan untuk kita ketika dewasa kelak.

Siapa yang tidak mengenal Basuki Tjahaja Purnama atau yang sering disapa dengan Pak Ahok? Pria kelahiran ,Manggar,Belitong Timur pada 29 Juni 1966 ini terkenal dengan sifat keras dan tidak komprominya ketika mulai menjabat sebagai anggota DPRD Belitong Timur periode 2004-2009. Kiprahnya di ranah politik semakin besar setelah pada 2012, beliau menjabat sebagai Bupati Belitong Timur didampingi oleh Khairul Effendi, B.Sc. sebagai wakilnya. Dan setelahnya, Ahok mengemban tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta per 14 November 2014 setelah Joko Widodo dilantik menjadi presiden Republik Indonesia. Putrama Tuta beserta The United Team Of Arts mempersembahkan kisah yang belum diketahui banyak khalayak dari Ahok berjudul “A Man Called Ahok” yang merupakan adaptasi novel karangan Rudi Valinka “A Man Called Ahok: Sepenggal Kisah Perjuangan dan Ketulusan”. Cast-cast yang dilibatkan dalam pembuatan film ini diantaranya adalah Daniel Mananta dalam debut peran besarnya di layar lebar, Denny Sumargo, Chew Kin Wah, Sita Nursanti, Samuel Wongso, Albert Halim, Jill Gladys, Eric Febrian yang merupakan putra asli Belitong, Donny Damara, Edward Akbar bersama deretan supporting cast seperti Verdi Solaiman, Donny Alamsyah, Ria, Dewi dan Ade Irawan bahkan DOP Yadi Sugandi dan Production Design Adrianto Sinaga turut terlibat sebagai cameo.

1976, Belitong Timur. Ahok remaja tumbuh di keluarga yang terpandang. Sang ayah, Tjoeng Kim Nam merupakan pemilik tambang timah terbesar di daerah tersebut. Kim Nam sangat keras dan berdedikasi terhadap pekerjaannya bahkan dalam hal mendidik Ahok dan ketiga adiknya Basuri Tjahaja Purnama/Yuyu ,Harry Basuki Tjahaja Purnama dan Fifi Lety Tjahaja Purnama. Suatu ketika, perusahaan tambang timah milik ayahnya bangkrut karena ulah Rudi, seorang pengusaha yang menghalangi usaha Kim Nam. Tumbuh dalam situasi yang sulit membuat Ahok belajar menjadi seorang pria dengan karakter yang telah dibentuk dan dididik oleh ayahnya tersebut. Ini bukan tentang Ahok, tetapi hubungan antara Kim Nam dan Ahok itu sendiri.

REVIEW:

Berdurasi 90 menit, “A Man Called Ahok” sudah membuat sesak di dada dengan pesan Ahok ketika menghimbau para massa yang melakukan demo di depan Rumah Tahanan Mako Brimob Kelapa Dua,Depok. Suara beliau yang parau dijamin akan membuat siapapun yang mengagumi sosoknya merasa rindu dengan dirinya. Pengenalan karakternya juga berjalan dengan baik mulai dari Tjoeng Kim Nam ayah Ahok, Boen Nen Tjauw/Buniarti Ningsing ibunya sampai orang-orang disekitarnya seperti Pak Suyan, sopir yang biasa mengantar Kim Nam ke pertambangan. Yang menjadi power dalam film ini adalah bagaimana Tuta membuat sebuah drama antara hubungan ayah dan anak yang mengalir secara natural dan alami tanpa perlu melakukan dramatisir keadaan. Hal tersebut membuat penonton terbawa emosinya melihat scene demi scene terutama ketika keluarga Ahok dalam situasi yang sulit. Tidak hanya itu, Denny Sumargo dan Chew Kin Wah sebagai cast dari Kim Nam versi muda dan tua nya juga tampil penuh penghayatan sebagai seorang ayah yang harus bekerja demi keluarga sekaligus mendidik anak-anaknya. Daniel Mananta tentu menjadi sosok yang paling disorot karena ini adalah debut dimana Ia mendapatkan peran besar di layar lebar. Sebelumnya, Daniel telah ikut menjadi supporting cast Rumah Dara (2009) sebagai Jimi. Disini, Daniel benar-benar menghilangkan sosok “Daniel”nya dan bertransformasi menjadi Ahok dewasa. Daniel juga sampai menghilangkan 6 kg demi peran ini dan Ia tidak mengecewakan di debut peran besarnya tersebut. Cara berjalan, tatapan dan gerak-geriknya sampai caranya mengumpat benar-benar seperti melihat sosok pak Ahok. Donny Damara sebagai Rudi benar-benar menambah panas konflik dalam film ini sebagai seorang antagonis. Body languagenya sebagai seorang pengusaha tengil dapat diperankan dengan baik.

Di akhir film, Penonton dapat melihat perbandingan foto-foto asli keluarga dan orang=orang terdekat Ahok dengan para castnya.

Memulai semuanya dengan rapi, karater kuat dan drama yang mengalir emosional,  “A Man Called Ahok” adalah sebuah potret dimana dedikasi orang tua kepada sang anak benar-benar tercurah.

4,5 dari 5

 

0 Shares

Written by Shadow

Ordinary College Student, Anime Freak, Movie is my Passion