PADMAAVAT: Kontroversi Yang Menguntungkan 

PADMAAVAT: Kontroversi Yang Menguntungkan 

0 Shares

Sinopsis:

Sultan Alauddin Khilji, penguasa kesultanan Delhi berambisi untuk mendapatkan Padmaavat yang terkenal akan kecantikannya, Menurut penasihatnya, Padmaavat akan menjadi kunci bagi Alauddin untuk terus melanggengkan kekuasannya. Padmaavat sendiri merupakan istri dari Ratan Singh, penguasa Rajput di wilayah Mewar. Perang pun berkecamuk.

 

Sutradara: Sanjay Leela Bhansali

Skenario: Prakash Kapadia, Sanjay Lela Bhansali

Pemain: Deepika Padukone, Ranveer Singh, Anupriya Goenka, Shahid Kapoor, Aditi Rao Hydari, Jim Sarbh

 

 

Ulasan:

Kontroversi mengenai film ini sudah muncul dan mengakibatkan jadwal rilis resminya mundur di tahun 2018. Gelombang protes bermunculan di India, dari berbagai komunitas agama Hindu dan yang paling kencang bereaksi salah satunya adalah organisasi Rajput Karni Sena. Para pengunjuk rasa itu menganggap bahwa sang sutradara tidak menghormati kultur mereka, melukai mereka dan juga meyakini telah terjadi distorsi sejarah dalam film Padmaavat. Mereka juga meminta bioskop-bioskop di India untuk tidak memutar film ini.

Di awal film, sutradara sudah memberikan narasi jika film ini hanyalah kisah yang terinspirasi dari puisi epic karya Malik Muhammad Jayasi pada tahun 1540 yang berjudul “Padmavat”. Film ini dibintangi Deepika Padukone (Padmaavat), Shahid Kapoor (Maharawal Ratan Singh) dan Ranveer Singh (Sultan Alauddin Khilij. Padmaavat (sebelum rilis resmi, judul film ini adalah Padmavati) nama sang ratu, istri raja Ratan Singh dari Chittor yang begitu terkenal akan kecantikannya. Sedangakan Alauddin Khilji, penguasa kesultanan Delhi, dan termasuk keturunan kedua dari dinasti Khilji yang kekuatannya tak diragukan lagi. Dalam puisi itu, Padmaavat juga dipuji atas kebajikannya untuk melakukan jauhar (membakar diri untuk menghindari perbudakan dan pemerkosaan dari penyerbu asing) demi melindungi kehormatan dirinya dari Alauddin yang telah membunuh suaminya dalam pertempuran.

 

 

Xplorers, terlepas dari apakah film ini fakta atau fiksi, yang pasti Bhansali  sebagai sutradara mencoba mengajak kita untuk menyelami masa itu dengan menyajikan sinematografi yang lumayan, meski masih terasa kasar di beberapa bagian alias terlihat jelas penggunaan CGI-nya. Lokasi –lokasi yang meski sering kita temui di banyak film kolosal berlatar belakang kerajaan atau perang tetap saja masih mampu memanjakan mata kita. Deepika mampu memerankan sosok Padmavat yang digambarkan sebagai sosok perempuan yang tangguh, mandiri dan cerdas. Yang paling mampu menyedot perhatian tentunya sang pemeran Sultan Alauddin Khilji. Di film ini Ranveer mampu bertranformasi menjadi penguasa yang kejam, brutal dan sosiopat.

 

 

Film Bollywood tentu tak lepas dari lagu dan tarian, tapi di film ini tidak terlalu dominan. Kemewahan kerajaan juga digambarkan dalam kostum dan perhiasan yang raja dan ratu kenakan. Adu strategi dalam berperang pun juga dipertontonkan. Beberapa dialog kadang terdengar cheesy, begitu juga dengan sebagian adegan yang ditampilkan. Namun, kegemilangan masa lalu Rajputan begitu pas dihamparkan.

Ya, Rajputan atau Rajashthan adalah wilayah kasta Rajput yang merupakan salah satu klan kasta Khstariya yang terkenal dengan prajurit-prajurit nan gagah dan beraninya. Istana yang megah berdiri dibalik benteng-benteng yang kokoh. Kemeriahan festival Diwali (semua tempat dihiasi lampu-lampu sehingga terlihat bermandikan cahaya) dan juga festival Holi (festival of colours) juga terselip di salah satu skena.

Interpretasi sebuah film memang mutlak milik pribadi penontonnya. Sutradara hanya membantu memberikan bantuan gambaran, yang bisa saja utuh diberikan atau justru membiarkan imajinasi penonton tertap berkeliaran.

Menurut  catatan terakhir yang dirilis Bollywood Box Office per 28 Januari 2018, Padmaavat terus merangkak pendapatannya sejak rilis 25 Januari 2018 lalu (total 110 -111 crore), meski belum menutupi biaya produksinya yang sebesar 200 crore. Dan diprediksi ongkos produksi ini akan tertutupi saat film Padmaavat tak lagi tayang, mengingat justru ditengah gencarnya protes yang tak berkesudahan, orang-orang malah berlomba menontonnya karena diliputi penasaran. Xplorers juga begitu bukan?

0 Shares

Written by Lisa Boy