LOVE FOR SALE: Film Sederhana Tanpa Penyelesaian Pasti

LOVE FOR SALE: Film Sederhana Tanpa Penyelesaian Pasti

0 Shares

Sinopsis:

Richard adalah seorang bujang lapuk berusia 41 tahun. Hidupnya lebih banyak dihabiskan mengurus bisnis percetakan peninggalan keluarganya dan seorang kura-kura bernama Kelun.

Masalah muncul ketika teman-teman Richard taruhan di depan matanya kalau Richard akan kesulitan membawa pasangan di resepsi pernikahan salah satu temannya itu.

Ulasan:

Kalau kita melihat cuplikan adegan film ‘Love For Sale’ lewat trailer-nya, film ini sepintas akan mengingatkan kita sama film ‘Her’ atau ‘Ruby Sparks’. Tapi percayalah, film ini berbeda.

Film ini menawarkan sebuah konsep baru di dunia percintaan sepasang kekasih dalam film Indonesia. Kalau biasanya percintaan yang diangkat dalam banyak film Indonesia belakangan tidak jauh-jauh dari dunia remaja. Namun di film ini, sudut pandang melihat cinta diwakili oleh sosok Richard (Gading Marten), bujangan berusia 41 tahun.

Opening film sangat berhasil memperkenalkan siapa sosok Richard. Ini mungkin salah satu opening film Indonesia yang bisa dibilang memorable.

Sayangnya setelah pengenalan karakter Richard, 10 menit setelahnya film terasa tersendat. Ada beberapa scene yang sebenarnya bisa dipotong atau dipindah. Akibat dari hal ini, cerita jadi tidak langsung ke konflik besarnya.

Cerita baru berjalan mulus dan semakin menarik ketika Richard menemukan flyer dari perusahaan biro jodoh yang bernama ‘Love Inc’.

 

Perkembangan hubungan antara Richard dan Arini (Della Dartyan) juga dibangun pelan-pelan dengan cara yang smooth. Penonton diarahkan melihat sosok Arini dari sudut pandang Richard. Ini membuat kita merasakan apa yang Richard rasakan, jatuh cinta perlahan dengan sosok Arini.

Namun film kembali tersendat di penghujung. Semua informasi yang diberikan kepada penonton seperti tidak dijawab pasti. Ini sangat disayangkan karena film ini mempunyai potensi lebih. Cara dan gaya bertutur film ini sudah berada di jalur yang benar karena bercerita dengan sederhana.

Namun terlepas dari semua kekurangan itu, apresiasi harus diberikan kepada tim pembuat film karena memiliki keberanian dan membuktikan bahwa film dengan karakter dan cerita yang tidak biasa bisa menjadi film yang menarik. (gtr)

0 Shares

Written by Getar Jagatraya

storyteller | coffee sipper | story hunter | PROCRASTINATER