DOWNSIZING: Pilihan Dalam Genggaman

DOWNSIZING: Pilihan Dalam Genggaman

Sinopsis:

Di salah satu fasilitas penelitian di Bergen, Norway, Dr. Jorgen Asbjornsen (Rolf Lassgard) melakukan percobaan pada seekor tikus di laboratoriumnya. Hasil yang didapat dari percobaannya begitu mengejutkan sehingga membuatnya segera mengabarkan pada koleganya, Dr. Andreas Jacobsen (Soren Pilmar). Jorgen dan Andreas begitu gembira, karena akhirnya menemukan apa yang mereka cari selama ini.

Sutradara : Alexander Payne

Skenario: Alexander Payne, Jim Taylor

Pemain: Matt Damon, Christop Waltz, Hong Chau, Rolf Lassgard, Soren Pilmark, Ingjred Egeberg

 

 

Ulasan:

JIka melihat cuplikan promosi film Downsizing, kita bisa saja langsung menarik kesimpulan kalau film ini adalah film komedi. Tapi tunggu, jika kita mengenal siapa sutradara dan penulis skenarionya, pikiran itu pasti akan langsung termentahkan dengan sendirinya.

Alexander Payne, dikenal sebagai sosok yang punya ide berbeda dari kebanyakan dalam membuat filmnya. Biasa tapi tidak biasa. Satir dan memacu penontonnya berpikir. Ya, berpikir! Bukan menelan begitu saja film yang dibuatnya. Tengok saja karya-karyanya mulai dari Nebraska, The Descendants, About Schmidt, Election, Paris, Je T’aime sampai Sideways. Begitu brilian. Belum lagi jika kemudian Payne tetap menggandeng Jim Taylor dalam proses penulisan skenarionya. Lengkap sudah.

 

 

Downsizing, seperti dalam trailer yang kita saksikan, memang bercerita tentang teknologi yang ditemukan oleh Dr. Jorgen untuk menyusutkan diri kita (manusia) sampai sekitar 12 sentimeter. Hal ini diharapakan menjadi salah satu solusi ledakan jumlah penduduk di dunia. Dr. Jorgen bersama 35 orang sukarelawan lainnya yang ikut dalam percobaan pertamanya ini kemudian hadir dalam salah satu konferensi internasional untuk mengenalkan teknologi penyusutan tubuh tersebut dan memberi contoh ke kita (manusia berukuran normal atau yang memang terlahir sebagaimana adanya) bahwa selama 4 tahun mereka hidup, mereka hanya menghaslkan sampah sebanyak satu kantong plastik sampah besar yang juga tidak penuh isinya.

 

 

Tentu saja, kemudian banyak orang yang tertarik untuk menjajalnya, termasuk Paul Safranek (Matt Damon) dan istrinya, Audrey (Kristen Wiig), keluarga kelas menengah yang bermimpi punya rumah yang lebih besar dibanding rumah yang mereka tempati saat ini. Tentu saja jika dengan kondisi keuangan mereka, hal itu sulit terpenuhi. Mimpi tinggal di rumah yang lebih besar hanya akan terwujud jika mereka ikut dalam program penyusutan atau pindah ke Leasureland (satu area di mana para koloni/orang-orang yang sudah mengalami penyusutan tinggal). Satu tempat yang dilindungin kubah raksasa untuk melindungi mereka dari burung, serangga dan radiasi sinar matahari. Tempat yang benar-benar memberikan mereka keuntungan berlipat. Bayangkan saja, jika dalam dunia normal, kekayaan mereka hanya senilai 152 ribu US dollar, di Leisureland, kekayaan mereka akan berlipat menjadi 12,5 juta US dollar. Belum lagi dengan iming-iming lainnya yang begitu menggiurkan. Paul dan Audrey pun menyetujuinya.

 

 

Alexander Payne sekali lagi bukanlah tipikal sutradara yang gamblang menceritakan semua hal dalam pengadeganan. Dia adalah jenis orang yang menawarkan kepingan-kepingan puzzle untuk kita susun sendiri. Isu lingkungan, sosial,ekonomi bahkan politik yang memang terjadi dalam realitas keseharian kita disinggung dan dilontarkan ke kita seperti seorang petinju yang memberikan jab-jab ke lawannya dan bisa langsung mengena. Disentuh tapi tak utuh. Penonton harus mampu menangkap pesan tersiratnya.

 

 

Christoph Waltz (Inglorious Basterds, Django Unchained), meski bukan tokoh utama namun mampu memainkan peranannya dengan apik. Tapi ada yang paling mencuri perhatian di film ini, siapa lagi kalau bukan Hong Chau, pemeran Ngoc Lan. Terlebih karena logatnya dan percakapan yang dia lontarkan.

Downsizing itu ringan namun sarat akan pesan. Terlebih soal kemanusiaan dan lingkungan yang kadang makin terpinggirkan karena kita terlalu sibuk dengan intrik politik atau bahkan diri sendiri tanpa peduli sekitar. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, kita selalu diberi pilihan. Pilihan-pilihan itu ada dalam genggaman kita. Melekat begitu dekat. Dunia yang kita tempati dengan segala permasalahannya akankah kita biarkan seperti ini atau …???? Pilihan itu kembali ke diri sendiri.


Written by Lisa Boy