DEN OF THIEVES: Tidak Seperti Yang Kita Kira.

DEN OF THIEVES: Tidak Seperti Yang Kita Kira.

“You’re not the bad guys, we are.

Sinopsis:

Komplotan perampok yang dipimpin Ray Merrimen (Pablo Schreiber) mencoba merampok sebuah truk lapis baja yang berhenti di depan toko donat. Penjaga yang melihatnya berusaha menggagalkannya, namun terbunuh oleh salah satu anak buah Merrimen. Petugas polisi datang kemudian, baku tembak pun tak bisa dihindarkan. Para perampok itu lolos dengn membawa truk lapis baja tersebut.

Esoknya, Nick “Big Nick” O’Brien (Gerard Butler), kepala satuan elit di Departemen Sheriff wilayah Los Angeles bersama timnya menyelidiki lokasi kejadian atau tempat kejadian perkarara.

 

Sutradara: Christian Gudegast

Skenario: Christian Gudegast.

Pemain: Gerard Butler, Pablo Schreiber, O’Shea Jackson Jr, Curtis “50 cent” Jackson.

 

 

Ulasan:

Film berbasis kejahatan yang mempertemukan para pelaku kriminal (dalam hal ini perampok profesional) dan polisi sudah sering disodorkan. Terlebih ketika kita melihat trailer Den of Thieves ini. Secara sadar kita langsung membandingkannya dengan film yang menyodorkan cerita yang secara garis besar hampir sama. Heat karya Michael Mann misalnya. Film klasik yang dibintangi Al Pacino, Robert De Niro dan Val Kilmer langsung terbayang.

Gudegast, sang sutradara dalam salah satu wawancaranya tidak menampik bahwa Michael Mann adalah inspirator terbesarnya. Film Heat jadi salah satu referensinya. Menurut dia, Heat merupakan film yang luar biasa tapi tidak nyata ceritanya. Den of Thieves lah “Heat dalam dunia yang sesungguhnya”.

 

Michael Mann is a big influence on me. He’s a great filmmaker. The thing with Heat, I love Heat, Heat is an incredible film,vbut the world of Heat doesn’t exist. It’s very stylized. This is the real world of Heat.

 

Benarkah demikian?

 

 

Den of Thieves yang tayang mulai 31 Januari 2018 memang menyuguhkan adu keahlian dalam mengelabui lawan. Baik para perampok bank maupun polisi sama-sama berpikir bahwa strategi yang mereka buat tidak akan tertebak. Kita bisa melihatnya saat Merrimen yang pernah menjadi anggota militer juga merekrut timnya dengan latar belakang yang hampir sama (mantan militer) kecuali Donnie (O’Shea Jackson Jr) yang menjadi supir mereka.

Merrimen yang menjadi pemimpin tentu menggunakan semua keahlian dan kemampuan taktis yang pernah dipelajarinya untuk merencanakan perampokan  berikutnya. Perampokan besar yang menyasar Federal Reserve Bank, satu-satunya bank di negara bagian tersebut yang belum pernah dirampok sebelumnya karena tingkat keamanannya begitu berlapis sehingga susah ditembus dan tampaknya sangat tidak mungkin dilakukan.

 

 

Pablo Schreiber begitu baik dalam memerankan bos penjahat. Yang begitu dingin, tak perlu membuktikan apa-apa, tidak mudah terprovokasi atau kesal dengan lawan dan selalu memilih tempat-tempat dengan keamanan yang rumit untuk melakukan kejahatannya. Pengalamannya beberapa bulan di penjara juga menjadikan dia memikirkan setiap langkah dalam melakukan tindakan agar terhindar dari hukuman.

Di sisi lainnya, Big Nick juga diperankan apik oleh Gerard Butler. Karakter pemimpin yang ‘badass’ begitu kentara, sangat berlawanan dengan Merrimen. Nick begitu menyebalkan, suka memancing lawan lewat kata-kata dan tindakan yang kadang sangat mengintimidasi atau memprovokasi lawan bicaranya. Bisa jadi ini sebagai strategi untuk menggali informasi. Namun, di sisi lain Nick yang di luar terlihat tangguh sebenarnya rapuh. Terlebih jika menyangkut urusan keluarganya.

Akting para pemain lainnya juga termasuk lumayan. Donnie salah satunya,  sosok yang dipandang sebelah mata baik oleh timnya maupun polisi di sisi lainnya. 50 cent juga bukan sekedar tempelan. Di sini ada juga Cooper Andrew, pemeran Jerry di serial TV “Walking Dead” yang bisa jadi luput dari pandangan.

 

 

Secara keseluruhan plot dalam film ini memiliki banyak lubang, meski lubang-lubang itu bisa kita tutup sendiri jika memang kita cermat mengamati. Tidak terlalu menegangkan tapi tidak juga terlalu membosankan. Ketegangan yang diciptakan kadang bergerak lamban. Adegan baku tembak di tengah kemacetan pun bukan hal yang luar biasa tapi justru ini menjadi istimewa karena terlihat sangat mungkin terjadi di dunia nyata. Christian Gudegast hanya mencoba menyajikan dua dunia yang berbeda namun serupa.

Menghibur? Itu sudah pasti. Berkesan? Xplorers sendiri yang bisa menjawab seusai menontonnya.  Karena kuncinya ada di akhir cerita. Akhir yang tak terduga, tidak seperti yang kita kira.

 

 

 


Written by Lisa Boy