CHRISYE: SISI LAIN YANG BELUM TERGALI

CHRISYE: SISI LAIN YANG BELUM TERGALI

 

Sinopsis:

Chrisye (Vino G Bastian) dihadapkan pada pilihan antara mengembangkan pengalaman bermusiknya dengan GIPSY BAND dengan tampil di New York, Amerika selama satu tahun atau menyelesaikan kuliahnya seperti yang diinginkan ayahnya (Ray Sahetapy)

 

Ulasan:

Sejak awal rencana pembuatan film ini, Damayanti Noor, istri almarhum Chrisye sudah menegaskan kalau film tersebut nantinya akan lebih banyak menceritakankan sosok Chrsiye dari sudut pandang sang istri, keluarga, dan orang-orang terdekatnya. Dan memang demkianlah adanya film produksi MNC Pistures dan Vito Global Visi yang disutradarai Rizal Mantovami.

Chrisye yang selama ini kita kenal (entah dari bertemu langsung atau hanya melihat jejak rekam digitalnya) memang dihadirkan lewat pengadeganan saat dia di panggung atau lewat lagu yang diputar untuk mengajak penonton bernostalgia di jamannya.

“Seperti penggalan-pengggalan video klip” mungkin kalimat tepat untuk menggambarkan apa yang baru saja kita tonton. Bisa jadi ini karena sang sutradara, Rizal Mantovani memang lebih dikenal piawai dalam pembuatan video klip, meski film-film besutannya tak bisa juga diabaikan. Tengok saja Kuldesak (1999) dan Jelangkung (2001) yang memang menuai banyak pujian karena dianggap menjadi pengusir dahaga para penikmat film yang sudah jenuh dengan tema-tema film saat itu.

 

 

Vino sebagai pemeran Chrisye memang tak mirip seratus persen menggambarkan sosok Chrisye yang kita kenal lewat media massa apalagi jika diambil kemiripan soal suaranya. Tentu saja jauh dengan aslinya. Seperti yang Sys NS lontarkan dalam film itu, kalau Chrisye itu unik dan jadi satu-satunya penyayi yang punya karakter suara unik itu di Indonesia (bahkan dunia mungkin). Tapi, kerja keras Vino untuk bisa memerankan Chrisye, tentu harus kita acungi jempol, terlebih jika kita melihatnya saat memerankan Chrisye yang sudah semakin tua dengan kacamata dan baju-baju khasnya.

Menonton film Chrisye itu seolah kita sedang melakukan kontemplasi. Naik turun dengan segala kegundahan yang menyelimuti diri manusia akan pencarian yang orang lain (bahkan orang terdekat) pun tak bisa masuk lebih dalam untuk mencampurinya terpapar jelas di sini. Penyelesaian pergulatan batin itu hanya milik orang itu sendiri dengan apa yang dicarinya. Singkat tidaknya pencarian itu lagi-lagi kembali ke diri sendiri. Sanggup tidak sanggup menepis keraguan juga harus diselesaikan sendiri. Orang-orang sekitar hanya bisa memberi saran, memompa semangat, menyuntikkan hal-hal positif, yang lagi-lagi akhirnya dikembalikan ke orang yang sedang mengalami pergolakan dalam jiwanya.

 

 

Gelap namun juga terselip kejenakaan dalam kekakuan sosok Chrisye. Sosok ayah, kakak, sahabat, anak dan adik menyatu dalam diri seorang Chrisye, dari muda atau saat mulai menapaki karirnya di kancah musik Indonesia hingga Chrisye yang sudah melegenda. Setting eranya pas digambarkan sutradara. Baju, lokasi, dan kendaraan atau pernak-pernik di masa itu lumayan tergambarkan dengan tepat. Hanya sedikit disayangkan soal sosok Velove (memerankan istri Chrisye) dalam urusan penampilan, masih terlalu kekinian. Padahal, cara dia bertutur sudah pas dalam menduplikat sosok sang istri almarhum.

Film Chrisye tayang tanggal 7 Desember 2017. Chrisye adalah sejarah. Chrisye adalah aset bangsa. Sosoknya memang sudah tidak ada, tapi karya dan semangatnya selalu ada di antara kita.


Written by Lisa Boy